Surabaya, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, belum sepenuhnya terkendali. Tim gabungan masih berjibaku menangani titik api yang mendekati jalur Jemplang-Watu Gede dan ruas JLKT.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan pemutakhiran data, tim gabungan masih melakukan penanganan di area JLKT untuk mencegah api menjalar ke ruas jalan tersebut.
Sementara itu, titik api yang sempat muncul di jalur Jemplang menuju Watu Gede, wilayah Kabupaten Malang, telah berhasil dikondisikan oleh tim darat. Saat ini tidak lagi terpantau titik api aktif di lokasi tersebut.
"Hot spot masih terpantau mengeluarkan asap di area Pusung Ledok Bedor. Kondisi cuaca di wilayah Bromo terpantau cerah dengan kecepatan angin sedang," ujarnya dalam keterangan tertulis BNPB, Minggu (9/8/2026). Tim gabungan masih melakukan pemantauan untuk mengantisipasi perubahan arah maupun penyebaran api akibat kondisi medan dan angin.
Karhutla Bromo pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (3/8/2026). Kebakaran melanda kawasan Gunung Bromo Watu Gede di Kabupaten Probolinggo serta kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Jantur di Kabupaten Malang.
Luas kawasan yang terbakar kini diperkirakan mencapai 176,20 hektare. Namun, angka tersebut masih dalam proses pendataan dan dapat berubah seiring pemutakhiran di lapangan.
Untuk mempercepat pemadaman, operasi dilakukan melalui jalur darat dan udara. Tim gabungan mengerahkan BNPB, BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, TNBTS, Polhut, Perhutani, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat.
Pemadaman dari darat dilakukan menggunakan satu unit truk pemadam, sprayer, serta metode manual gepyok. Petugas juga membuat penanganan pada sejumlah titik yang sulit dijangkau untuk mencegah api kembali menjalar.
Sementara dari udara, dua unit helikopter dikerahkan untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses petugas darat. Satu helikopter merupakan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Puspenerbal TNI AL dengan kapasitas angkut air 1.000 liter. Satu unit lainnya merupakan dukungan BNPB dengan kapasitas angkut air yang sama.
BNPB juga berkoordinasi dengan Danlanud untuk menyiapkan posko dan mendukung operasi udara dari Lanud Abdulrachman Saleh. BPBD Jatim turut mengerahkan dukungan logistik dan personel untuk memperkuat operasi penanganan.
Abdul Muhari mengatakan, kondisi geografis menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Lereng Kaldera Bromo yang terjal membuat sejumlah titik api sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi angin juga berpotensi memengaruhi arah penyebaran api.
"Penanganan di lapangan masih menghadapi kendala berupa kontur lereng Kaldera Bromo yang terjal, kondisi angin, serta lokasi titik api yang berada di kawasan hutan dengan akses yang sulit dijangkau petugas pemadam darat," tegasnya. Operasi udara menjadi salah satu strategi penting untuk menjangkau titik-titik yang tidak dapat ditangani secara optimal dari darat.
