Jombang, IDN Times - Nama Ketua PWNU Jawa Timur (Jatim) KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin disebut-sebut berpasangan dengan KH Miftachul Akhyar dalam paket pencalonan Ketua Umum dan Rais Aam PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Paket tersebut bahkan beredar dengan sebutan "paket istana". Namun, Gus Kikin mengaku tidak mengetahui siapa pihak yang membuat dan mengedarkan paket tersebut. "Saya juga enggak tahu siapa yang bikin itu. Tiba-tiba ada paket-paket," ujarnya saat ditemui di lokasi Muktamar, Jumat (28/8/2026).
Ketika ditanya mengenai paket yang memasangkan dirinya dengan Kiai Miftachul Akhyar, Gus Kikin memilih tidak banyak berkomentar. Ia menilai paket tersebut belum memiliki dasar resmi karena mekanisme pemilihan kepemimpinan PBNU masih dibahas dalam Muktamar.
"Ya, susah nanggapi, orang itu memang enggak resmi," katanya sembari tertawa.
Meski namanya dikaitkan dengan paket tertentu, Gus Kikin memastikan dirinya siap menerima siapa pun yang nantinya ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU. Ia bahkan menyebut sejumlah nama yang beredar dalam bursa Rais Aam.
"Siap," jawab Gus Kikin ketika ditanya apakah siap bekerja bersama siapa pun Rais Aam yang terpilih.
"Kalau Kiai Miftah?" tanya wartawan.
"Siap," jawabnya.
"Kalau Kiai Said?"
"Siap," jawab Gus Kikin.
Menurut Gus Kikin, posisi Ketua Umum dan Rais Aam merupakan hasil keputusan forum Muktamar. Ia tidak ingin mendahului proses yang masih berlangsung. "Lha kan enggak bisa nolak. Itu hasil dari kemauan dari ini," tukasnya.
Ia juga menilai mekanisme pemilihan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan konfigurasi kepemimpinan PBNU periode mendatang. Pembahasan mengenai sistem pemilihan, kata dia, akan dilakukan melalui Komisi Organisasi.
Gus Kikin menyerahkan keputusan tersebut kepada muktamirin. Menurutnya, sistem yang dipilih harus memberikan ruang bagi cabang maupun wilayah untuk menyampaikan aspirasi.
"Manalah yang paling adil. Pemilihan nanti cabang-cabang diberikan peluang, PW, PC pun diberikan peluang untuk menyampaikan aspirasinya," katanya.
Ia menambahkan, peran Rais Aam juga penting dalam konstruksi kepemimpinan PBNU ke depan. Namun, detail mekanismenya masih menunggu hasil pembahasan Komisi Organisasi. "Komisi Organisasi nantilah malam nanti itu," tegasnya.
Di tengah tarik-menarik mekanisme pemilihan dan beredarnya sejumlah paket, Gus Kikin justru menekankan pentingnya kebersamaan di tubuh NU. Ia menyatakan tidak mempermasalahkan sistem pemilihan selama prosesnya berlangsung secara musyawarah dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima bersama.
"Saya mah sama saja. Semuanya bagus. Yang penting kita itu semuanya guyub, bermusyawarah dengan baik," katanya.
Gus Kikin berharap kepemimpinan NU periode mendatang dapat dimulai dengan semangat persatuan setelah dinamika Muktamar selesai. "Kita ke depan lagi mulai dengan satu kebersamaan. Mudah-mudahan periode ke depan lagi itu dimulai dengan kebersamaan, bersatu," tuturnya.
Sementara terkait pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin mengatakan dirinya maju setelah mendapat dukungan dari PWNU Jatim. Ia kini memilih melakukan silaturahmi untuk menyampaikan gagasan sekaligus melihat respons dari para muktamirin.
"Saya dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur. Nah, kemudian kita masuk ke proses-proses ini sekarang ini yang menentukan muktamirin nanti," katanya.
Gus Kikin mengaku tetap optimistis, terutama setelah melakukan silaturahmi ke sejumlah daerah dan mendapat respons positif. "Tugas saya itu bersilaturahim. Kalau ini banyak yang responsnya bagus, saya rasa itu cukup untuk optimis," pungkasnya.
Muktamar ke-35 NU berlangsung 27-31 Agustus 2026. Selain menentukan Ketua Umum dan Rais Aam PBNU, forum tersebut juga membahas sejumlah agenda organisasi, termasuk mekanisme pemilihan kepemimpinan untuk periode mendatang.
