Griya Usila Santo Yosef II, Rumah Harapan dan Kehangatan bagi Lansia

- Griya Usia Lanjut Santo Yosef II di Surabaya diresmikan sebagai rumah yang menghadirkan kasih, perhatian, dan makna hidup bagi para lansia agar tetap merasa dihargai dan tidak kesepian.
- Pembangunan griya ini lahir dari kebutuhan meningkatnya pelayanan lansia serta terwujud melalui kolaborasi yayasan, suster, donatur, dan relawan selama tiga tahun dengan semangat pelayanan sosial.
- Pendekatan pelayanan menekankan perawatan fisik, mental, spiritual, dan sosial agar lansia tetap bermartabat; sekaligus mengajak generasi muda berkontribusi menjaga semangat kebersamaan di usia senja.
Surabaya, IDN Times - Pagi itu, Kamis (19/3/2026) suasana di halaman Griya Usia Lanjut Santo Yosef II terasa teduh. Sejumlah lansia duduk berderet, senyum mereka merekah. Di antara mereka, ada yang datang dengan langkah tertatih, ada pula yang tampak ditemani keluarga. Di bangunan lantai dua yang terletak di Jl. Raya Jelindro 2 No.33A, Sambikerep, Surabaya itu, Yayasan Komunitas St. Yosef Surabaya mencoba memberi arti baru pada usia senja.
Rangkaian peresmian Griya Usia Lanjut Santo Yosef II diawali dengan misa syukur yang dipimpin oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Momentum itu menegaskan bahwa kehadiran griya usia lanjut bukan hanya proyek pembangunan fisik, tetapi bagian dari karya iman yang menghadirkan nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah pandangan umum bahwa masa tua identik dengan keterbatasan, griya ini hadir membawa perspektif berbeda, peresmian Griya Usia Lanjut Santo Yosef II menunjukkan bahwa setiap orang, di setiap usia, tetap penting dan dihormati, sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap tahap kehidupan berharga dan layak mendapat perhatian.
1. Berangkat dari kebutuhan nyata melayani lansia

Wakil Ketua Yayasan Santo Yosef Surabaya, Anton Tonyanto, mengatakan bahwa pembangunan Griya Usia Lanjut Santo Yosef II tidak muncul tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas sebelumnya telah mencapai kapasitas maksimal, bahkan memunculkan daftar tunggu bagi lansia yang ingin mendapatkan pelayanan.
“Kebutuhan lansia yang seperti ini membuat kami melihatnya dari pengalaman, kelihatan semakin lama semakin meningkat. Karena mungkin kondisi masyarakat yang semakin padat dan tantangan hidup yang semakin berat, semakin membutuhkan perhatian yang lebih bagi orang tua dalam usia lansia. Karena kesibukan anak, situasi keluarga, sehingga orang tua dalam usia lansia sering terlupakan, meskipun tidak maksud untuk melupakan,” kata Anton.
Perubahan pola hidup membuat banyak keluarga tidak lagi memiliki cukup waktu untuk merawat orang tua secara intensif. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya risiko kesepian di kalangan lansia.
“Sehingga tempat yang kami sediakan, inilah bagian dari bagaimana kehidupan yang layak dan juga menjadi solusi bagi keluarga-keluarga apabila dia mau menempatkan orang tuanya di sini. Sehingga tidak hidup dalam kesendirian atau dalam kesepian, bukan ditemani oleh televisi saja, tapi di sini mereka bisa bersosialisasi, memiliki kesehatan yang baik membuat hidup mereka lebih normal, ” tambah Anton.
2. Dibangun dari semangat kolaborasi dengan banyak pihak

Pembangunan Griya Usia Lanjut Santo Yosef II tidak terlepas dari semangat kolaborasi berbagai pihak yang terlibat sejak awal. Proyek ini menjadi wujud nyata kerja bersama antara yayasan, para suster, panitia pembangunan, hingga para donatur dan relawan yang memiliki kepedulian terhadap pelayanan lansia.
Ketua Panitia Pembangunan Griya Usia Lanjut Santo Yosef II, DN Agus Utomo, mengatakan bahwa gagasan pembangunan tahap kedua ini berangkat dari kebutuhan yang semakin meningkat, sekaligus dorongan untuk memperluas pelayanan yang sudah berjalan sebelumnya. Harapan tersebut kemudian diwujudkan melalui perencanaan yang matang dan komitmen bersama dari berbagai pihak yang terlibat.
“Berangkat dari harapan yang mulia dari para Suster KSSY Surabaya yang dimotori oleh Suster Marsiana untuk dapat memperluas karya pelayanan bagi para orang tua di usia lanjut mereka, maka kami merencanakan pembangunan Griya Usia Lanjut Santo Yosef tahap dua,” kata Agus.
Agus mengatakan, proses pembangunan yang berlangsung selama kurang lebih tiga tahun ini, tidak selalu berjalan mudah. Berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan pendanaan hingga proses teknis pembangunan, menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui bersama. Namun, dukungan yang terus mengalir dari berbagai pihak menjadi kekuatan utama dalam menyelesaikan pembangunan ini.
"Melalui kerja sama yang baik dan saling mendukung selama 3 tahun inilah yang menjadikan rencana yang dirasa sulit dan berat, akhirnya pembangunan Griya Usia lanjut Santo Yosef 2 ini terselesaikan dengan baik dan tepat waktu," tambah Agus.
Kolaborasi ini, kata Agus, menunjukkan bahwa karya sosial seperti griya lansia tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan keterlibatan banyak pihak dengan semangat yang sama, yaitu menghadirkan ruang hidup yang layak, penuh perhatian, dan bermartabat bagi para lansia di masa tua mereka.
Agus juga berharap griya ini tidak hanya menjadi tempat tinggal lansia, tetapi juga menjadi sarana pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
"Semoga dengan selesainya pembanguan Griya Usia Lanjut Santo Yosef 2 ini, Karya Pelayanan mulia dari para Suster Kongregasi Suster Santo Yosef dapat lebih menjadikan berkat bagi sesama yang membutuhkan."
3. Melihat lansia sebagai pribadi yang utuh dan bermartabat

Pengurus Yayasan St. Yosef Medan, Mangatas Alexander Gultom, mengatakan bahwa pelayanan di Griya Usia Lanjut Santo Yosef II tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga memperhatikan sisi kemanusiaan. Lansia dipandang sebagai pribadi utuh yang tetap memiliki martabat, perasaan, dan kebutuhan untuk dihargai.
"Kami melihat bahwa para lansia ini tetap harus dipandang sebagai pribadi yang utuh. Walaupun mereka sudah tidak bisa beraktivitas seperti dulu, mereka tetap membutuhkan kasih, perhatian, dan penghargaan sebagai manusia yang bermartabat," kata Gultom.
Menurut Gultom, pendekatan ini diwujudkan melalui suasana yang mendukung interaksi sosial, kebersamaan, dan rasa memiliki. Para lansia tidak hanya dirawat, tetapi juga diajak untuk tetap menjalani kehidupan yang bermakna bersama komunitas.
"Pelayanan ini tidak hanya soal menjaga kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial mereka. Kami ingin memastikan bahwa di usia lanjut, mereka tetap merasakan perhatian, kebersamaan, dan kehidupan yang layak," kata Gultom.
Dengan pendekatan tersebut, griya berupaya menghadirkan lingkungan yang tidak hanya merawat, tetapi juga menghidupkan kembali rasa dihargai dan tidak sendiri di masa tua.
4. Pelayanan yang berangkat dari hati

Di balik fasilitas dan sistem pelayanan yang tersedia, peran para suster menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari para lansia di griya. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mengedepankan pendekatan personal yang hangat dan penuh perhatian.
Setiap penghuni datang dengan latar belakang, karakter, dan kondisi yang berbeda. Hal ini menuntut para pendamping untuk mampu memahami setiap individu secara lebih dalam, termasuk perubahan fisik dan emosional yang dialami di usia lanjut.
“Para oma-oma di sini datang dari latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Seiring bertambahnya usia, tentu ada perubahan fisik dan psikis, kadang mereka mudah lupa atau lebih sensitif. Tapi saya tidak berusaha mengubah mereka, justru saya yang belajar memahami mereka, supaya saya bisa tetap sabar dan mencintai mereka apa adanya,” ujar Pimpinan Griya Usia Lanjut Santo Yosef Surabaya, Suster Marsiana Angkat.
Pendampingan yang dilakukan pun tidak berhenti pada perawatan, tetapi berkembang menjadi relasi yang lebih dekat secara emosional. Kehadiran yang konsisten, kesabaran, serta kemampuan untuk mendengarkan menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa aman bagi para lansia.
"Bagi saya, mereka adalah orang tua saya sendiri. Jadi saya melayani dengan hati, dengan ketulusan. Kalau kita mencintai mereka dengan tulus dan mau mendengarkan, mereka akan merasa nyaman, merasa aman, dan perlahan mereka bisa merasa seperti di rumah sendiri," lanjut Suster Marsiana.
5. Lebih dari tempat tinggal, Griya Lanjut Usia Santo Yosef II jadi ruang kehidupan

Ketua Yayasan Santo Yosef Surabaya, Suster Severina Levinil, menambahkan bahwa griya Usia Lanjut Santo Yosef II dirancang bukan sekadar sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang kehidupan yang memungkinkan para lansia tetap aktif, terhubung, dan merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga. Lingkungan yang dibangun diarahkan untuk menciptakan suasana yang hangat, tidak terasing, dan jauh dari kesan kesepian.
Konsep ini menjadi penting, terutama di tengah kondisi banyak lansia yang berisiko kehilangan ruang sosial akibat perubahan situasi keluarga dan keterbatasan aktivitas. Di griya, mereka tidak hanya tinggal, tetapi juga diajak untuk tetap berinteraksi, berbagi cerita, dan menjalani keseharian bersama.
“Pelayanan kepada lansia bukan hanya soal perawatan fisik, tetapi juga bagaimana menghadirkan kasih, perhatian, dan martabat bagi mereka. Kami ingin memastikan bahwa setiap penghuni tetap merasa dihargai dan dicintai dalam setiap tahap kehidupannya,” kata Suster Severina.
Kehadiran komunitas menjadi elemen penting dalam membangun kualitas hidup para penghuni. Relasi yang terjalin antar lansia, serta interaksi dengan para pendamping, menciptakan suasana yang lebih hidup dan mendukung secara emosional.
“Griya ini diharapkan menjadi rumah yang sungguh memberikan rasa aman dan nyaman, bukan sekadar tempat tinggal. Di sini, para lansia bisa merasakan kehadiran keluarga dan komunitas yang mendampingi mereka,” kata Suster Severina.
6. Menjadi rumah kasih di usia senja

Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo dalam sambutannya mengatakan bahwa kehadiran Griya Usia Lanjut Santo Yosef II diharapkan menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan, penerimaan, dan harapan bagi para lansia yang tinggal di dalamnya. Di tengah berbagai keterbatasan yang mungkin dialami di usia senja, griya ini ingin menjadi tempat yang memberi rasa aman sekaligus makna hidup.
"Hidup seseorang tidak pernah kehilangan makna di hadapan Tuhan. Bahkan pada masa tua, seseorang tetap menjadi berkat bagi orang lain melalui pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan kesaksian iman," kata Romo Didik sapaan akrab Uskup Surabaya ini.
Romo Didik menambahkan, griya ini lebih dari sekadar fasilitas perawatan, ia sebagai rumah yang menghadirkan nilai kasih dalam keseharian. Para lansia tidak hanya dirawat secara fisik, tetapi juga didampingi agar tetap merasakan kehangatan, perhatian, dan kehadiran orang lain dalam hidup mereka.
"Tempat ini bukan sekadar tempat tinggal atau perawatan, tetapi sebuah rumah yang memberikan rasa diterima, dihargai, dan dicintai," tambahnya.
Selain aspek fisik dan sosial, Romo Didik menekankan bahwa pendampingan spiritual juga menjadi bagian penting dalam kehidupan di griya. Kegiatan doa, misa, dan refleksi diharapkan dapat membantu para lansia tetap terhubung dengan iman, sekaligus menemukan kekuatan dalam menjalani hari-hari mereka.
"Semoga Griya USILA Santo Yosef 2 sungguh menjadi rumah yang penuh sukacita, rumah di mana para lansia merasa dihargai, menemukan kedamaian, dan iman terus hidup melalui doa dan kebersamaan."
7. Menemukan kembali makna kebersamaan di Griya Usia Lanjut Santo Yosef II

Bagi para penghuni, Griya Usia Lanjut Santo Yosef II bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang untuk memulai kembali kehidupan dengan cara yang berbeda. Di sini, mereka tidak hanya menjalani hari, tetapi juga menemukan kembali arti kebersamaan yang mungkin sempat hilang. Perubahan dari hidup sendiri menjadi hidup dalam komunitas membawa pengalaman baru, di mana kehadiran orang lain dalam keseharian menjadi hal sederhana yang ternyata memiliki makna besar, terutama untuk mengurangi rasa kesepian.
"Dulu hidup sendiri di kos dan tidak punya keluarga. Sr. Marsi mendapat informasi mengenai kondisi saya, dan dengan cara Tuhan yang misterius, saya bisa masuk ke Griya. Prioritas Griya Usia Lanjut memang untuk kaum marginal seperti saya, walaupun banyak yang mendaftar," cerita Opa Ali.
Sementara itu, Oma Go Kim Hwa, yang sudah tinggal di sini selama tujuh tahun, bercerita, bahwa awalnya dia non-Protestan, tapi baru-baru ini mengenal Yesus dan memilih masuk Kristen. "Griya ini terasa seperti rumah dari Tuhan, Tuhan selalu menjaga setiap kegiatan pelayanan di sini. Makanan di griya juga enak-enak.”
Interaksi yang terjalin setiap hari, mulai dari berbincang santai hingga mengikuti kegiatan bersama membuat kehidupan di griya terasa lebih hidup. Para penghuni memiliki ruang untuk berbagi cerita, membangun relasi baru, dan menjalani hari-hari dengan semangat yang kembali tumbuh.
8. Pesan dan Harapan: kepedulian untuk lansia adalah tanggung jawab bersama

Ke depan, kehadiran Griya Usia Lanjut Santo Yosef II tidak hanya diharapkan mampu menjangkau lebih banyak lansia, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kepedulian terhadap orang tua di usia senja. Perubahan pola hidup yang semakin sibuk membuat perhatian terhadap lansia sering kali berkurang, sehingga diperlukan peran bersama untuk menghadirkan solusi yang lebih manusiawi.
Anton menegaskan bahwa keberadaan griya ini tidak boleh disalahartikan sebagai tempat pembuangan bagi orang tua. Justru sebaliknya, griya hadir sebagai ruang yang memberikan kehidupan yang lebih layak, lengkap dengan interaksi sosial dan perhatian yang dibutuhkan lansia.
"Jangan melihat griya usia lanjut sebagai tempat pembuangan bagi orang tua. Justru di sini mereka mendapatkan sentuhan kasih, punya teman, punya komunitas, dan bisa menjalani hidup dengan lebih layak," kata Anton.
Suster juga menekankan pentingnya keterlibatan anak muda. Generasi muda bisa menyalurkan talenta dan kemampuan mereka untuk mendukung kegiatan sehari-hari, menciptakan semangat, dan membantu lansia tetap aktif.
"Saya berharap anak muda menjadikan Griya ini tempat ekspresi, untuk mendukung kegiatan dan membuat semangat para lansia tetap hidup", ujar Suster Severina.
Lebih lanjut, Anton juga mengajak masyarakat untuk turut mendukung keberlangsungan karya sosial ini. Menurutnya, keterlibatan tidak selalu harus dalam bentuk materi, tetapi juga bisa melalui kehadiran dan kontribusi nyata, terutama dari generasi muda.
"Untuk anak muda, griya ini bisa menjadi ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki. Misalnya mereka punya latar belakang pendidikan seperti psikologi, itu sangat dibutuhkan di sini untuk membantu mendampingi para lansia secara emosional. Jadi bukan hanya soal materi, tapi bagaimana kehadiran dan keahlian mereka bisa membuat para lansia tetap semangat dan merasa diperhatikan," tambahnya.
Dengan keterlibatan berbagai pihak, griya ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi gerakan bersama dalam menghadirkan kasih dan perhatian bagi para lansia di tengah masyarakat.


















