TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Festival Kuliner, Ratusan Porsi Pecel Rawon Disajikan di Banyuwangi

Festival ini untuk mengangkat kekayaan kuliner lokal

IDN Times/Mohamad Ulil Albab

Banyuwangi, IDN Times - Ratusan porsi pecel rawon, kuliner tradisional lokal Kabupaten Banyuwangi disajikan dalam Festival Banyuwangi Kuliner di Taman Blambangan, Selasa (23/4).

Baca Juga: Partisipasi Pemilu 75 Persen, Bupati Anas: Warga Banyuwangi Dewasa 

1. Diikuti ratusan peserta

IDN Times/Mohamad Ulil Albab

 

Kuliner pecel rawon ditata di atas meja memanjang di jalan dengan penataan semenarik mungkin. Sebanyak 152 peserta yang ikut, berasal kalangan pengusaha kuliner, hotel, restoran, perwakilan instansi dan organisasi wanita di Banyuwangi.

"Ini nyiapin masakannya sejak subuh, jadi pagi ini masih fresh," kata Slamet (35) salah satu peserta Banyuwangi Kuliner asal Kecamatan Singojuruh.

2. Pecel rawon, dua kuliner yang dijadikan satu

IDN Times/Mohamad Ulil Albab

 

Pecel rawon menjadi pilihan tema Banyuwangi Kuliner tahun ini. Sebelumnya, sejumlah kuliner tradisional seperti sego tempong, pecel pitik, sego cawuk dan lainnya telah diangkat menjadi tema selama 7 tahun berturut-turut. Kuliner pecel rawon sendiri merupakan perpaduan dua kuliner pecel dan rawon yang dijadikan satu.

Slamet sendiri punya cara bagaimana cita rasa kuliner pecel rawon ini bisa seimbang dan pas di lidah. Sambal pecel yang dia gunakan, tidak banyak menggunakan cabai, namun lebih ke rasa manis.

"Yang penting pecelnya harus balance ada manis, gurih, gurih tanpa penyedap tentunya. Kalau rawonnya bumbu yang harus ada kluek biar warna hitam, rasa nya juga biar pekat, aromanya juga," katanya.

3. Banyak kuliner perpaduan di Banyuwangi

IDN Times/Mohamad Ulil Albab

 

Menurut Slamet, kuliner pecel rawon tidak jauh berbeda dengan kuliner gabungan lain di Banyuwangi, dua jenis kuliner yang dijadikan menjadi satu, seperti rujak soto dan rujak bakso. Khusus untuk pecel rawon, bila ingin memberi rasa pedas tidak diletakkan pada sambal pecel, maupun kuah rawon. Rasa pedas harus disendirikan dengan membuat sambal yang terpisah.

"Sambal disendirikan. Kalau yang pedas dari pecelnya bisa keganggu," katanya.

Pecel rawon di Banyuwangi seringkali dilengkapi dengan laut tambahan rempeyek, tempe goreng, dan telur asin. Kemudian pada guyuran rawonnya jelas harus ada potongan daging sapi.

"Saya kenal pecel rawon yang sejak kecil dulu. Karena kan masyarakat Banyuwangi suka mencampur makanan, seperti bakso dicampur rujak, kemudian pecel dicampur rawon, padahal rawon sendiri bukan asli sini. Konsepnya sama dengan rujak soto, sama-sama dicampur," jelasnya.

4. Pecel rawon simbol keterbukaan masyarakat Banyuwangi

IDN Times/Mohamad Ulil Albab

 

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Festival Banyuwangi Kuliner digelar untuk mengenalkan kuliner lokal kepada wisatawan, di sisi lain masyarakat memiliki porsi untuk memperkuat cita rasa kuliner daerah.

"Karena efek dari parawisata itu ada dua yang besar, food dan fashion. Ini menjadi tren millenial dan dunia, maka makanan dan fashion itu ratingnya tinggi di media televisi

Pecel rawon memiliki makna atau bentuk keterbukaan masyarakat Banyuwangi. Sama seperti ekspresi kulinernya yang terbuka, mau mencampurkan ragam kuliner Nusantara.

"Rawon bentuk keterbukaan orang Banyuwangi terhadap berbagai jenis kuliner yang ada di Indonesia. Ini pecel dipadukan dengan rawon," jelasnya.

Baca Juga: Puskesmas di Banyuwangi Beri Layanan Kesehatan Petugas Pemilu

Berita Terkini Lainnya