Surabaya, IDN Times - Jawa Timur (Jatim) masih menjadi salah satu penyangga utama produksi pangan nasional. Di tengah peringatan Hari Tani Nasional 2026, Kamis (24/9/2026), data produksi menunjukkan kinerja sektor padi di provinsi ini masih tumbuh.
Berdasarkan data tetap Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim yang dirilis 2 Februari 2026, luas panen padi sepanjang 2025 mencapai 1,84 juta hektare. Dari luasan tersebut, produksi padi mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Angka itu meningkat 12,60 persen dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 9,27 juta ton GKG. Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga naik 12,60 persen, dari 5,35 juta ton pada 2024 menjadi 6,03 juta ton pada 2025
Kinerja tersebut berlanjut pada 2026. Berdasarkan potensi produksi periode Januari-Oktober 2026 yang disampaikan Pemprov Jatim, produksi padi diperkirakan mencapai 9,86 juta ton GKG, atau tumbuh 5,13 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 9,38 juta ton GKG.
Pertumbuhan itu juga diikuti kenaikan luas panen. Sepanjang Januari-Oktober 2026, luas panen padi tercatat 1,74 juta hektare, naik 4,58 persen atau sekitar 76,19 ribu hektare dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 1,66 juta hektare.
Sementara produksi beras pada periode tersebut diperkirakan mencapai 5,69 juta ton, naik 5,13 persen atau bertambah sekitar 277,61 ribu ton dibandingkan 2025 yang sebesar 5,41 juta ton.
Data BPS untuk 2025 menunjukkan produksi padi Jatim tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota. Beberapa sentra dengan produksi terbesar antara lain Bojonegoro 879.685 ton, Lamongan 879.994 ton, Ngawi 772.571 ton, Jember 679.514 ton, dan Tuban 577.964 ton
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, momentum Hari Tani Nasional harus menjadi pengingat bahwa capaian produksi tidak semata-mata berbicara tentang angka pangan, tetapi juga tentang keberlangsungan kehidupan petani yang berada di baliknya.
“Selamat Hari Tani Nasional Tahun 2026 kepada seluruh petani, khususnya para petani di Jawa Timur. Terima kasih atas kerja keras, ketekunan, dan pengabdian panjenengan semua,” ujarnya.
Khofifah bilang, peningkatan produksi padi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan petani memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil usaha tani, memiliki akses pembiayaan dan pasar, serta mendapatkan dukungan sarana produksi.
“Produksi yang tinggi harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil kerjanya, memiliki kepastian pasar, serta mendapatkan perlindungan dalam menjalankan usaha tani,” katanya.
Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, terus mendorong penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Upayanya mencakup akses benih dan pupuk, perbaikan irigasi, mekanisasi pertanian, pembiayaan, pemasaran hingga hilirisasi.
Modernisasi juga menjadi tantangan yang tidak bisa dilepaskan dari sektor pertanian. Perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, kebutuhan efisiensi air, serta persoalan regenerasi petani menuntut perubahan pola produksi.
Khofifah menyebut pemanfaatan teknologi, mekanisasi, digitalisasi pemasaran dan pola budidaya yang lebih ramah lingkungan perlu diperluas. “Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pertanian Jawa Timur harus semakin adaptif, efisien, dan berbasis teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal,” tuturnya.
Ia juga mengajak generasi muda masuk ke sektor pertanian. Menurut Khofifah, pertanian tidak lagi sebatas aktivitas budidaya, tetapi mencakup teknologi, pengolahan hasil, kewirausahaan, pemasaran digital hingga industri berbasis pertanian.
“Pertanian harus menjadi sektor yang modern, inovatif, menguntungkan, dan membanggakan agar semakin banyak anak muda tertarik menjadi petani maupun wirausaha pertanian,” pungkasnya.
