Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hari Tani 2026, Produksi Padi Jatim Tembus 10,44 Juta Ton
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat panen bareng petani. Dok. Pemprov Jatim.
  • Produksi padi Jawa Timur pada 2025 mencapai 10,44 juta ton GKG, naik 12,60 persen dari 2024; produksi beras konsumsi turut meningkat menjadi 6,03 juta ton.

  • Januari-Oktober 2026, potensi produksi padi Jatim diperkirakan 9,86 juta ton GKG, naik 5,13 persen, seiring luas panen bertambah 4,58 persen menjadi 1,74 juta hektare.

  • Pemprov Jatim mendorong kesejahteraan petani melalui akses pembiayaan, pasar, sarana produksi, irigasi, mekanisasi, dan hilirisasi, serta memperluas teknologi pertanian untuk menghadapi perubahan iklim dan menarik generasi muda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

Produksi padi Jatim mencapai 9,27 juta ton GKG, sementara produksi beras konsumsi sebesar 5,35 juta ton.

2025

Luas panen padi Jatim mencapai 1,84 juta hektare. Produksi padi mencapai 10,44 juta ton GKG dan produksi beras konsumsi 6,03 juta ton.

2 Februari 2026

BPS Jatim merilis data tetap produksi padi sepanjang 2025.

Januari-Oktober 2026

Produksi padi Jatim diperkirakan mencapai 9,86 juta ton GKG, dengan luas panen 1,74 juta hektare. Produksi beras diperkirakan mencapai 5,69 juta ton.

24 September 2026

Pada Hari Tani Nasional 2026, Gubernur Khofifah menekankan bahwa kenaikan produksi harus diiringi peningkatan kesejahteraan petani dan modernisasi pertanian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Produksi padi Jawa Timur pada 2025 mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling, naik 12,60 persen dari 2024. Potensi produksi Januari-Oktober 2026 diperkirakan 9,86 juta ton GKG.
  • Who?
    Petani Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Badan Pusat Statistik Jawa Timur, serta Gubernur Khofifah Indar Parawansa terlibat dalam penyampaian data dan penguatan sektor pertanian.
  • Where?
    Di Jawa Timur, dengan sentra produksi padi terbesar pada 2025 antara lain Lamongan, Bojonegoro, Ngawi, Jember, dan Tuban.
  • When?
    Data tetap produksi 2025 dirilis BPS Jawa Timur pada 2 Februari 2026. Perkembangan produksi disampaikan bertepatan dengan Hari Tani Nasional, Kamis, 24 September 2026.
  • Why?
    Peningkatan produksi diikuti dorongan agar petani memperoleh nilai tambah, akses pembiayaan dan pasar, sarana produksi, serta perlindungan dalam menjalankan usaha tani.
  • How?
    Pemprov Jawa Timur mendorong akses benih dan pupuk, perbaikan irigasi, mekanisasi, pembiayaan, pemasaran, hilirisasi, digitalisasi, serta pola budidaya yang lebih ramah lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Petani di Jawa Timur membuat banyak padi. Pada 2025, padi yang dihasilkan jadi 10,44 juta ton, lebih banyak dari tahun sebelumnya. Tahun 2026, hasil padi juga diperkirakan naik. Bu Khofifah berterima kasih kepada petani. Pemerintah ingin petani mendapat pupuk, air, pasar, dan hasil kerja yang baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pertumbuhan produksi padi Jawa Timur menunjukkan ketangguhan kerja petani yang didukung perluasan panen di berbagai daerah. Kenaikan produksi beras sekaligus membuka ruang bagi penguatan nilai tambah petani, sementara perhatian pemerintah pada irigasi, mekanisasi, pembiayaan, dan pemasaran mencerminkan upaya membangun pertanian yang lebih adaptif serta menarik bagi generasi muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Jawa Timur (Jatim) masih menjadi salah satu penyangga utama produksi pangan nasional. Di tengah peringatan Hari Tani Nasional 2026, Kamis (24/9/2026), data produksi menunjukkan kinerja sektor padi di provinsi ini masih tumbuh.

Berdasarkan data tetap Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim yang dirilis 2 Februari 2026, luas panen padi sepanjang 2025 mencapai 1,84 juta hektare. Dari luasan tersebut, produksi padi mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Angka itu meningkat 12,60 persen dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 9,27 juta ton GKG. Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga naik 12,60 persen, dari 5,35 juta ton pada 2024 menjadi 6,03 juta ton pada 2025

Kinerja tersebut berlanjut pada 2026. Berdasarkan potensi produksi periode Januari-Oktober 2026 yang disampaikan Pemprov Jatim, produksi padi diperkirakan mencapai 9,86 juta ton GKG, atau tumbuh 5,13 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 9,38 juta ton GKG.

Pertumbuhan itu juga diikuti kenaikan luas panen. Sepanjang Januari-Oktober 2026, luas panen padi tercatat 1,74 juta hektare, naik 4,58 persen atau sekitar 76,19 ribu hektare dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 1,66 juta hektare.

Sementara produksi beras pada periode tersebut diperkirakan mencapai 5,69 juta ton, naik 5,13 persen atau bertambah sekitar 277,61 ribu ton dibandingkan 2025 yang sebesar 5,41 juta ton.

Data BPS untuk 2025 menunjukkan produksi padi Jatim tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota. Beberapa sentra dengan produksi terbesar antara lain Bojonegoro 879.685 ton, Lamongan 879.994 ton, Ngawi 772.571 ton, Jember 679.514 ton, dan Tuban 577.964 ton

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, momentum Hari Tani Nasional harus menjadi pengingat bahwa capaian produksi tidak semata-mata berbicara tentang angka pangan, tetapi juga tentang keberlangsungan kehidupan petani yang berada di baliknya.

“Selamat Hari Tani Nasional Tahun 2026 kepada seluruh petani, khususnya para petani di Jawa Timur. Terima kasih atas kerja keras, ketekunan, dan pengabdian panjenengan semua,” ujarnya.

Khofifah bilang, peningkatan produksi padi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan petani memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil usaha tani, memiliki akses pembiayaan dan pasar, serta mendapatkan dukungan sarana produksi.

“Produksi yang tinggi harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil kerjanya, memiliki kepastian pasar, serta mendapatkan perlindungan dalam menjalankan usaha tani,” katanya.

Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, terus mendorong penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Upayanya mencakup akses benih dan pupuk, perbaikan irigasi, mekanisasi pertanian, pembiayaan, pemasaran hingga hilirisasi.

Modernisasi juga menjadi tantangan yang tidak bisa dilepaskan dari sektor pertanian. Perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, kebutuhan efisiensi air, serta persoalan regenerasi petani menuntut perubahan pola produksi.

Khofifah menyebut pemanfaatan teknologi, mekanisasi, digitalisasi pemasaran dan pola budidaya yang lebih ramah lingkungan perlu diperluas. “Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pertanian Jawa Timur harus semakin adaptif, efisien, dan berbasis teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal,” tuturnya.

Ia juga mengajak generasi muda masuk ke sektor pertanian. Menurut Khofifah, pertanian tidak lagi sebatas aktivitas budidaya, tetapi mencakup teknologi, pengolahan hasil, kewirausahaan, pemasaran digital hingga industri berbasis pertanian.

“Pertanian harus menjadi sektor yang modern, inovatif, menguntungkan, dan membanggakan agar semakin banyak anak muda tertarik menjadi petani maupun wirausaha pertanian,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article