Surabaya, IDN Times - Jawa Timur (Jatim) membawa ambisi besar memperluas pasar hingga Arab Saudi. Melalui Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur di Jeddah, potensi transaksi yang berhasil dihimpun mencapai Rp6.716.785.201.275 atau Rp6,7 triliun lebih.
Tak sekadar menawarkan komoditas, Jawa juga menjajaki peluang menjadi bagian dari rantai pasok halal dan logistik pendukung penyelenggaraan ibadah haji dan umrah di Arab Saudi. Misi dagang tersebut dipimpin langsung Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Jeddah.
Forum mempertemukan pelaku usaha Jawa Timur dengan calon pembeli, mitra bisnis, serta investor dari Arab Saudi. “Dari proses kurasi, business matching secara daring yang dilakukan berkali-kali, hingga one-on-one meeting, nilai potensi transaksi yang tercatat mencapai Rp6,7 triliun,” ujar Khofifah.
Nilai tersebut dihimpun dari beragam komoditas yang ditawarkan pelaku usaha Jatim. Mulai dari briket dan arang kayu, suku cadang kendaraan, lembaran kaca, kertas, baterai dan aki, produk plastik, bahan kimia organik, minyak sawit olahan, hingga mesin dan peralatan industri.
Produk pangan dan turunannya juga menjadi bagian dari transaksi. Di antaranya kopi, teh, jamu, rempah-rempah, kerupuk, sambal, olahan daging dan ikan, rendang, dendeng, bumbu pecel dan gado-gado, tuna kaleng, alpukat, susu dan produk olahannya, serta pakan ternak.
Sektor fesyen juga ikut dibawa untuk membuka pasar Timur Tengah, khususnya produk berbasis wastra dan bordir Jatim. Khofifah mengatakan besarnya potensi transaksi menunjukkan terbukanya ruang kerja sama ekonomi antara pelaku usaha Jawa Timur dan Arab Saudi.
Namun, komitmen tersebut perlu segera diterjemahkan menjadi transaksi riil dengan memperhatikan kebutuhan produk, kapasitas pasokan, serta regulasi perdagangan kedua negara.
“Mudah-mudahan apa yang sudah menjadi komitmen bersama dapat kita tindak lanjuti dengan tetap memperhatikan dinamika regulasi di kedua negara. Dengan kerja keras dan semangat untuk terus menguatkan perdagangan serta hubungan ekonomi kedua negara, insyaallah seluruh komitmen transaksi yang telah ditandatangani dapat direalisasikan,” lanjutnya.
Di luar perdagangan komoditas, Jatim menawarkan kapasitasnya sebagai salah satu basis pengembangan rantai pasok produk dan logistik kebutuhan haji dan umrah. Khofifah menyebut Jatim memiliki ekosistem industri, perdagangan, logistik, dan halal yang relatif lengkap. Posisi tersebut menjadi modal untuk membangun kemitraan dengan Arab Saudi.
“Jawa Timur memiliki ekosistem industri, perdagangan, logistik, dan halal yang cukup lengkap. Ini menjadi modal penting untuk membangun kemitraan dengan Arab Saudi, termasuk dalam penjajakan rantai pasok produk dan logistik pendukung penyelenggaraan ibadah haji,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, Jatim memiliki 13 kawasan industri, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, tujuh bandara, serta 12 ruas jalan tol. Pelabuhan Tanjung Perak juga melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional.
“Dengan konektivitas tersebut, Jawa Timur tidak hanya memiliki kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan distribusi. Ini yang kami tawarkan sebagai bagian dari rantai pasok regional, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pasar Arab Saudi,” kata Khofifah.
Peluang juga dibuka melalui industri fesyen. Produk wastra dan bordir dari berbagai sentra di Jatim dinilai memiliki ruang untuk memasuki pasar Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah. “Wastra dan bordir Jawa Timur sangat berkualitas dan memiliki potensi yang luar biasa. Mudah-mudahan kita memperoleh kesempatan untuk memasuki pasar Arab Saudi dan Timur Tengah lebih luas lagi, terutama untuk produk busana berbasis bordir,” tuturnya.
Jatim juga membawa pemasok logistik yang telah memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan musim haji tahun ini. “Kami juga membawa pemasok logistik yang pada musim haji tahun ini telah mendapatkan kesempatan. Mudah-mudahan kemitraan, kerja sama, dan penguatan pasokan logistik dari Jawa Timur dapat terus ditingkatkan,” katanya.
Ambisi memperluas pasar Arab Saudi ditopang oleh ekosistem halal Jatim yang terus dikembangkan. Jatim memiliki Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS), sejumlah kawasan industri halal, 15 Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) di luar LPH LPPOM, LPH Sucofindo, dan LPH Surveyor Indonesia yang memiliki kantor cabang di Surabaya.
Ekosistem tersebut juga diperkuat 85 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H), 16.424 Pendamping Proses Produk Halal (PPH), laboratorium halal, 196 Rumah Potong Hewan (RPH) halal, serta sekitar 348.010 penyelia halal.
“Ekosistem halal ini penting karena yang kita tawarkan bukan sekadar produk. Kita ingin membangun rantai nilai yang didukung kawasan industri, proses produksi, sertifikasi, sumber daya manusia, hingga distribusi,” jelas Khofifah.
Menurutnya, penguatan industri halal tersebut dapat menjadi pintu masuk kerja sama yang lebih luas dengan Arab Saudi. Tidak hanya pangan dan produk olahan, tetapi juga jasa, logistik, pariwisata, hingga berbagai kebutuhan pendukung perjalanan dan penyelenggaraan ibadah haji serta umrah.
“Penguatan industri halal di Jawa Timur, insyaallah, akan mendukung rantai pasok logistik pada musim haji. Ke depan, peluang ini juga dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan musim umrah, termasuk pada bulan Ramadan dan periode lainnya,” tutur Khofifah.
Dari sisi kekuatan ekonomi, Jatim memiliki basis yang cukup besar. Berdasarkan data BPS Jawa Timur Agustus 2026, perekonomian Jatim berkontribusi 25,40 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 14,34 persen terhadap perekonomian nasional.
Pada triwulan II 2026, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur atas dasar harga berlaku mencapai Rp930 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp538,59 triliun.
Basis tenaga kerja juga tersebar pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan rantai pasok. Tercatat sekitar 3,58 juta tenaga kerja di sektor industri, 4,56 juta di sektor perdagangan, dan 7,77 juta di sektor pertanian.
“Basis industri dan pertanian ini memberikan ruang yang besar untuk membangun rantai pasok produk dari Jawa Timur. Apalagi Jawa Timur juga menjadi simpul distribusi menuju kawasan Indonesia Timur,” kata Khofifah.
Peluang kerja sama tersebut semakin terbuka karena hubungan perdagangan Jawa Timur dan Arab Saudi telah menunjukkan tren positif. Pada Januari-Juni 2026, ekspor Jawa Timur ke Arab Saudi mencapai US$74,68 juta, sedangkan impor dari Arab Saudi sebesar US$24,28 juta. Dengan demikian, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan US$50,40 juta.
Komoditas ekspor Jatim antara lain olahan ikan, kayu dan barang dari kayu, kopi, teh dan rempah-rempah, bahan kimia organik, serta kertas dan karton. Sementara impor dari Arab Saudi antara lain plastik dan barang dari plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, buah-buahan, serta filamen buatan.
“Angka perdagangan ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Jawa Timur dan Arab Saudi sudah memiliki fondasi. Sekarang kita ingin memperluas dan memperdalamnya, dari perdagangan menjadi investasi dan kemitraan rantai pasok,” pungkasnya.
