Comscore Tracker

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat Pandemik

Mereka menolak kalah karena pandemik

Surabaya, IDN Times - COVID-19 menjadi pukulan telak bagi dunia perekonomian dunia. Pembatasan pergerakan manusia membuat transaksi perekonomian berkurang. Akibatnya tentu pada pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan. Per Agustus 2020, pemerintah mencatat ada tambahan 2,67 juta penganggur. Jika ditotal, ada 9,77 juta orang yang saat ini hidup tanpa pekerjaan.

Paling apes tentu mereka yang bekerja tanpa kontrak atau biasa disebut pekerja lepas. Penyedia pekerjaan akan dengan mudah merumahkan, atau bahkan memberhentikan mereka.

Perusahaan modal ventura global, Fluorish Ventures melakukan riset terhadap para gig workers atau pekerja lepas di Indonesia selama pandemik. Hasilnya, 86 persen pekerja lepas mengalami penurunan pendapatan. Bahkan, 58 persen responden mengaku harus berutang untuk bertahan hidup. Tanpa berutang, sepertiga dari mereka mengaku hanya mampu bertahan hidup kurang dari seminggu.

Kepepet, banyak dari mereka pun banting setir untuk sekadar bertahan hidup. Pekerjaan apa saja mereka lakukan asal asap dapur tetap mengepul. Sebagian sudah bisa bangkit, namun masih sangat banyak dari mereka yang saat ini masih berjuang. Berikut adalah cerita-cerita perjuangan para pekerja lepas bertahan di tengah hantaman pagebluk COVID-19.

1. Sepi job, perias di Bandar Lampung jadi YouTuber

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikMakeup Artist (MUA) Lampung, Rangga Juans. Instagram.com/ranggajuans

Di Lampung ada seorang bernama Rangga Juans yang memiliki usaha jasa rias atau Makeup Artist (MUA). Ia terpaksa berjibaku untuk bertahan hidup di tengah pandemik. Rangga mengatakan, awal pandemik ia tidak begitu terimbas. Kala itu, masih ada tabungan yang bisa digunakan.

Namun, pada akhirnya kondisi ini secara perlahan mulai menggerus industri bisnis ia digeluti. Sejumlah kesepakatan yang sebelumnya telah disetujui, terpaksa harus di reschedule ulang bahkan ada yang mesti dibatalkan.

"Tapi setelah tiga sampai empat bulan terlebih mendekati bulan puasa (2020) dampak pandemik ini makin terasa. Baik sebelum puasa dan sesudah lebaran Idul Fitri," ucap Rangga, Kamis (11/3/2021). Pembatasan jumlah undangan menurutnya membuat pemilik hajatan memilih tak memakai jasa rias pengantin. 

Demi bertahan hidup, ia sempat beralih profesi menjadi konten kreator di media sosial. Ia menyajikan video-video tutorial makeup di channel beauty Youtube miliknya RANGGA JUANS.

"Jadi kita kemarin sempat ngonten. Kita melakukan make-up konten di diri sendiri, seperti membuat masker tengkorak di wajah. Alhamdulillah viewernya juga lumayan," imbuhnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Salon dan Ahli Kecantikan Indonesia pengurus Lampung, Bhastian Hendra, mengatakan, secara umum industri tata rias dan ahli kecantikan mengalami penurunan omzet signifikan. Ia menyatakan, hal itu ikut dialami 800 anggota asosiasinya secara keseluruhan.

"Mereka semua menjerit, artinya tidak ada sama sekali pemasukan. Itu berpengaruh pada pendapatan kami yang tadinya bisa 100 persen, menjadi 10 hingga 0 persen. Malah hampir bangkrut," tukas Om Bhas, sapaannya.

2. Minim hajatan, event organizer di Bandar Lampung sempat jadi penjual APD

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikIlustrasi Konser K-Pop (IDN Times/Besse Fadhilah)

Senada, seorang pelaku usaha industri event organizer di Kota Bandar Lampung, Steven BAS, mengatakan, awal pandemik COVID-19 menjadi masa tersulit. Ia bahkan terpaksa harus mengikuti tren bisnis di masa pandemik, seperti memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), masker, hingga face shield.

"Baru di bulan September kegiatan EO bisa dibilang balik lagi, dengan beberapa kegiatan yang kita jalanin. Tapi sekarang kita tinggal mengikuti protokol kesehatan yang ada saja," tuturnya.

Meski tengah memasuki masa new normal, Steven mengatakan, industri bisnis EO tak kunjung membaik. Hal itu terjadi karena event outdoor masih sulit dilaksanakan.

"Kemarin kita sempat menjalani even outdoor kuliner di Elephant Park, tapi itu sangat sulit buat dilaksanakan karena beberapa pertimbangan lain hal," ucap Steven.

Kini, pelaku usaha EO pun sudah mulai beradaptasi dengan situasi pandemik COVID-19, mereka mulai sering melaksanakan kegiatan secara virtual (online), layaknya webinar dan konser mini. "Ya kita sudah mulai sudah bergerak ke even-even virtual dari instansi-instansi pemerintah," beber Steven. 

3. UMKM perajin batik bahkan sempat gulung tikar, tak ada satu pun pembeli dalam empat bulan

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikIDN Times/Silviana

Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga tak lepas dari imbas pandemik COVID-19. Padahal, sektor ini menjadi salah satu yang mampu bertahan saat krisis moneter terjadi pada 1998 lalu. 

UMKM Batik Siger di Kemiling Bandar misalnya. Tak sekadar turun omzet, mereka sempat tak ada satu pun pembeli selama empat bulan terakhir. Bahkan para karyawan harus dirumahkan karena produktivitas menurun drastis.

Beruntung, memasuki tahun 2021 ini daya beli masyarakat untuk berbelanja produk-produk khas Lampung kembali meningkat. "Sedikit demi sedikit mulai naik kembali seperti bikin seragam atau mengikuti acara-acara pameran itu bisa membangkitkan minat konsumen kembali," kata salah satu tim pemasaran, Sapuan.

Salah satu strategi Batik Siger dalam mengenalkan produknya lebih luas lagi adalah mengikuti ajang pameran. Mengingat, konsumen Siger Batik masih didominasi masyarakat lokal.

"Karena kalau batik tulis kan harganya cenderung mahal. Hand made soalnya. Untuk harga itu paling murah Rp150 ribu sampai Rp2 juta," terang Sapuan.

4. Kena PHK oleh kafe tempatnya bekerja, Lena akhirnya menjadi gamer

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikLena, pekerja kafe di Bandung yang kena PHK dan memilih jadi gamer. IDN Times/Debbie Sutrisno

Apa yang dialami oleh Millena Nuriel Zaakya juga tak kalah miris. Perempuan Bandung ini diberhentikan secara sepihak oleh Kafe tempatnya bekerja. Awalnya, Lena mengaku hanya dirumahkan secara sementara. Setelah menanti dua pekan, manajemen akhirnya memutus kontraknya. 

"Bos bilang, Lena cari kerjaan lain aja. Itu setelah dua minggu ga ada kabar. Jadi ga bisa diteruskan," ujar Lena saat berbincang dengan IDN Times, Jumat (12/3/2021).

Lena pun mengaku sempat stres. Tak patah arang, ia pun coba peruntungan lain. Awal-awal dia coba berjualan makanan kecil yang ditawarkan kepada teman-temannya. Dia juga merambah usaha penjualan tas yang diimpor dari sejumlah negara. Namun, usahanya tersebut masih nihil.

Setelah gagal berwirausaha kecil-kecil, Lena pun memutuskan untuk coba mencari pekerjaan kantoran lagi. Perempuan 21 tahun ini mengirimkan banyak lamaran mulai dari perkantoran hingga pertokoan. Pikirnya, apapun pekerjaan yang didapat akan coba dilakukan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk bayar cicilan.

Setelah mencoba berbagai cara untuk mendapat penghasilan yang cukup, Lena akhirnya melabuhkan pilihan untuk menjadi seorang gamers (pemain game). Jalan ini tidak sembarang dia pilih. Sebab, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), Lena sudah aktif bermain. Bahkan dia juga sering menjadi caster atau komentator turnamen game online.

Mulai Mei 2020, Lena coba mengatur konten game yang dia mainkan. Memanfaatkan platform Nimo TV, Lena terjun menjadi gamers perempuan yang bermain secara Solo.

"Sekarang kan orang ke luar rumah sudah jarang. Mereka butuh hiburan, dan kebutuannya ada di dunia digital. Yaudah sekarang saya coba terjun lagi dalam game online, menjadi gamers," papar Lena.

Menggunakan akun nama Mayli Abigail, Lena sekarang fokus bermain game online Mobile Legend. Pilhan tersebut jatuh karena semakin banyak anak muda memanikan game ini. Hanya bermodal handphone, setiap orang sekarang bisa memainkannya.

Hingga Juni 2020, pengikut akun Mayli Abigail hanya 200 orang. Kondisi yang jauh dari kata bagus untuk seukuran gamers solo yang bermain secara streaming. Namun, Lena optimistis bahwa dengan manajemen yang baik dia bisa meraup untung dari bermain game online tersebut.

5. Pekerja seni di Madiun, tak boleh isi hajatan, ngamen pun dibubarkan

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikPekerja seni dan hiburan di Kabupaten Madiun menggelar aksi di Alun - Alun Reksogati, Caruban, Kabupaten Madiun. IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Di Madiun, para pekerja seni juga sambat karena sepinya job. Larangan menggelar hajatan membuat mereka harus hidup tanpa pekerjaan. Mereka pun menggeruduk kantor Pemkab Madiun, Rabu (10/3/2021) untuk memprotes larangan tersebut.

"Selama ini, kami tidak bisa bekerja karena hajatan dilarang," kata Novi Restingsih. Wajar jika ia kecewa. Selain memenuhi kebutuhan untuk keluarga, sinden asal Desa/Kecamatan Gemarang juga seringkali ditagih pihak perbankan yang telah memberikan pinjaman uang.

"Saya utang karena terdesak. Penangguhan pembayaran dari bank sudah tidak berlaku lagi," ungkap perempuan ini.

Sebenarnya mereka sempat mencari jalan lain dengan mengamen. Namun, usaha itu pun gagal. "Saya dan teman-teman sempat mengamen keliling kampung, tapi dibuyarkan oleh Satgas COVID-19 di desa-desa," ungkap Novi.

Suwarno, peserta aksi yang lain mengungkapkan hal senada. Di saat tidak ada warga yang menggunakan jasanya, pria ini memilih mencari ranting kayu di hutan. Kemudian, dijual untuk memenuhi kebutuhan setelah mendapatkan uang.

Aktivitas itu dilakukan agar tetap dapat bertahan di tengah kelesuan ekonomi dampak dari kebijakan yang melarang hajatan digelar secara terbuka selama pandemik COVID-19.

"Beberapa barang sudah saya jual untuk bisa bertahan. Sekarang sudah tidak ada yang dijual, handphone saja belum selesai kreditnya," ungkap penabuh gamelan asal Desa Blabakan, Kecamatan Mejayan ini.

6. Kuli bangunan di Jember putar otak, jadi buruh tani hingga jualan kaos

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikIlustrasi/ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Cerita para pekerja bangunan asal Jember pun tak kalah nelangsa. Mereka terpaksa balik kucing ke kampung halaman lantaran sepinya proyek. Bahkan, ada di antara mereka yang tak dapat panggilan pekerjaan hampir setahun. 

Kisah itu dialami oleh Fauzi (45), warga Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember. Akibat dampak pandemik Fauzi kehilangan pekerjaan. Ia nyariss tak lagi beraktivitas sejak Mei 2020. "Terakhir saya mengerjakan proyek bangunan di kampus Jember, enak karena tergolong dekat dengan rumah. Tapi akhirnya karena Corona, proyek sempat dihentikan, dilanjutkan hanya beberapa pekerja, dan saya tidak dikabari lagi," ujarnya.

Agar asap dapur tetap mengepul, Fauzi pun putar otak. Ia kini kerap menawarkan diri sebagai buruh serabutan. Tak hanya bangunan, Fauzi juga beberapa kali menjadi buruh tani. 

Senasib, Ahmad Syarifudin (29) pun begitu. Warga Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Jember ini juga tak lagi bekerja sebagai kuli bangunan di Bali. Dalam kondisi normal, ia mengaku bisa mengantongi bayaran Rp90-Rp130 ribu per hari. Nominal itu belum termasuk jam lembur. 

Sayangnya, sejak pandemik pendapatannya tak menentu. Saat ini, Sarif pun mengandalkan pemasukan menjadi buruh di sawah. 

"Sekarang saya sama teman-teman juga coba melanjutkan jualan buku, kaos. Di rumah saya juga coba merintis jual sambal kemasan. Pendemik ini memaksa saya buat belajar mandiri untuk mencari potensi kerjaan di rumah, saya berusaha tidak lagi jadi kuli bangunan mumpung masih muda," katanya.

7. Lebih dari 10 tahun jadi fotografer lepas, Tia harus kehilangan pekerjaan

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikFotografer lepas Semarang, Irma Mutiara Manggia. Instagram.com/tiachasmani

Imbas COVID-19 juga dirasakan betul oleh fotografer lepas asal Semarang, Irma Mutiara Manggia. Lebih dari seatu dekade menekuni profesi tersebut, Tia tak menyangka bahwa COVID-19 akan membuatnya benar-benar kehilangan pekerjaan.

‘’Jadi kalau ada acara peragaan busana seperti di wedding expo gitu aku kerap dimintai tolong oleh desainer-desainer untuk memotret baju rancangan mereka. Nanti dari situ aku dapat fee sebagai fotografer, tapi gara-gara pandemik semua pekerjaan itu hilang seiring ada pembatasan jarak sosial yang berdampak tidak ada lagi acara fashion show,’’ ungkap perempuan yang akrab disapa Tia itu ketika dihubungi IDN Times, Jumat (12/3/2021).

Pada waktu bersamaan tepat saat COVID-19 masuk di Indonesia, kontrak pekerjaannya yang juga sebagai content writing juga berakhir. Praktis, perempuan berusia 37 tahun itu kehilangan pekerjaan. Ia kemudian berpikir keras.

‘’Dari situ aku berpikir apa ya yang bisa kulakukan untuk dapat pemasukan saat pandemik. Soalnya wabah ini sangat membatasi gerak untuk bekerja di luar rumah. Akhirnya, terpikir bikin pemotretan dengan cara open slot bagi desainer pakaian dan pelaku usaha yang butuh produknya difotoin untuk promosi di marketplace atau online shop. Sebab, pandemik ini kan bikin orang yang tadinya jualan offline menjadi online,’’ tutur ibu anak satu itu.

Hingga Maret 2021, banyak lika-liku yang ditemui sebagai seorang pekerja lepas. Tia merasa kesulitan mendapatkan klien sebab keberlangsungan bisnis mereka juga terdampak. Meski begitu, ia yakin ini adalah cara untuk Tuhan mengingatkan umatnya agar tetap bersabar. 

Baca Juga: 5 Lowongan Freelance Terkini, Ada Content Writer hingga Tutor!

8. Kena PHK pabrik kerupuk, Ronal jualan pot bunga

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikRonal koni jualan pot bunga. IDN Times Indah Permatasari

Ronal Sopi Sultan (30) juga merasakan betul bagaimana pandemik memukul para pekerja lepas. Pria Medan yang dulunya adalah pekerja pabrik kerupuk, harus kehilangan pekerjaan. Ia coba bertahan demi kelangsungan hidup di tengah pandemik COVID-19 dengan membuka usaha pot bunga.

"Merasa down, karena dampak pandemik COVID-19. Sebelumnya sudah dibilang dari perusahaan sebulan sebelumnya sudah bilang ke kami kalau perusahaan mengalami kerugian besar dan memang sudah gak buka lagi sampai sekarang," kata Ronal.

Ronal harus rela menerima gaji terakhir. Itupun gak penuh. Dari Rp1,5 juta menjadi Rp800 ribu.

Ia sempat melamar ke beberapa tempat. Sayangnya, tak ada satupun yang berhasil. Ronal pun akhirnya memutar otak dan memilih berjualan pot kreasi sendiri.

Untuk tarif harga pada pot bunga yang dibuat olehnya bervariasi mulai dari ukuran kecil Rp10 ribu, sedang Rp15 ribu, dan hingga Rp100 ribu. Hasil dari jualan ini sebenarnya belum cukup untuk bertahan hidup. Ia pun terpaksa menjadi buruh serabutan.

9. Guru les privat di Balikpapan nyambi jualan sambal

Banting Setir, Cerita Para Pekerja Lepas Bertahan Hidup Saat PandemikIlustrasi Pendidikan (IDN Times/Arief Rahmat)

Namanya Putri Hartono (30), seorang guru les privat mata pelajaran SD dan SMP. Sebelum pandemik COVID-19, ia bisa mengajar 15 anak secara privat. Jumlahnya menurun drastis selama pandemik sebanyak 4 anak saja.

Selama masa pandemik ini, Putri mengakui ada penurunan jumlah anak yang mempergunakan jasanya. Para orang tua beralasan tak lagi menggunakan jasanya lantaran pendapatan yang jauh berkurang. Tak sedikit juga yang beralasan takut terpapar COVID-19, sehingga memilih berhenti les privat.

Pada akhirnya sebagai penjual jasa, Putri tak bisa berbuat banyak.

Dahulu saat masih mengajar 15 anak, ia mengatur jadwal seharian penuh siang hingga malam, selama lima hari kerja. Tiap bulan setidaknya bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp5 juta dengan mengajar 15 anak, usia 7 sampai 14 tahun.

"Kalau dulu uangnya cukup untuk bayar kos, listrik, kirim orangtua di kampung, juga cicilan, nabung, dan pastinya kebutuhan sehari-hari. Makanya dulu saya cukup lah dengan ngajar les privat. Karena itu bahkan lebih dari UMK Balikpapan kan," ungkapnya.

Putri bahkan bisa mencukupi permintaan orang tuanya di daerah asalnya, Ponorogo Jawa Timur. Tak jarang juga ia menabung untuk membeli tiket pesawat. Tak mau berpangku tangan, ia pun kini mencoba jualan sambal.

Baca Juga: 5 Tips Suskses Investasi bagi Kamu Pekerja Freelance

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya