Kenakan Batik dan Udeng, Ribuan Diaspora Diajak Bangun Banyuwangi

Mencintai, membeli, dan mempromosikan produk Banyuwangi

Banyuwangi, IDN Times - Lebih dari seribu para perantau alias diaspora asal Banyuwangi memadati Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Sabtu (8/6). Mengenakan batik dan udeng khas Banyuwangi, para warga rantau dari berbagai kota dan negara mengikuti acara bertajuk “Diaspora Banyuwangi” tersebut.

Acara yang dihelat tiap libur Lebaran itu selalu dihadiri Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Beragam kuliner lokal khas Banyuwangi disajikan, mulai rujak soto, nasi tempong, pecel pitik, dan ayam kesrut. Lagu-lagu khas Banyuwangi dimainkan untuk mengobati kerinduan para perantau.

1. Mengajak para perantau untuk berkolaborasi membangun daerah

Kenakan Batik dan Udeng, Ribuan Diaspora Diajak Bangun BanyuwangiIDN Times/Beautiful Banyuwangi

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, Diaspora Banyuwangi selalu digelar rutin setiap tahun sejak lima tahun yang lalu. Ini menjadi media penting Pemkab Banyuwangi untuk menyampaikan perkembangan pembangunan daerah sekaligus meminta masukan dari warga perantau.

“Dalam kesempatan ini, kami juga mengajak para perantau untuk berkolaborasi membangun daerah. Silakan bikin sesuatu di Banyuwangi, usaha pertanian, peternakan, pariwisata, dan sebagainya sesuai minat Bapak/Ibu semua. Ayo bareng-bareng majukan daerah," ungkap Azwar Anas.

2. Berbagai perkembangan Banyuwangi disampaikan Bupati Anas

Kenakan Batik dan Udeng, Ribuan Diaspora Diajak Bangun Banyuwangiberbagai perkembangan Banyuwangi

Mulai dari Bandara Internasional Banyuwangi, pengembangan pariwisata, hingga pabrik kereta api terbesar di Indonesia yang tengah dibangun di Banyuwangi.

Saat ini, di Banyuwangi juga sedang dibangun industri kereta api terbesar di Indonesia yang dilengkapi dengan museum kereta api. Industri tersebut juga berarsitektur khas rumah masyarakat Suku Osing, sehingga bakal menjadi ikon baru Banyuwangi.

3. Di sela acara, Bupati Anas memaparkan program sosisal kemasyarakatannya

Kenakan Batik dan Udeng, Ribuan Diaspora Diajak Bangun BanyuwangiIDN Times/Beautiful Banyuwangi

Anas juga menyampaikan sejumlah program sosial-kemasyarakatan yang telah dijalankan, seperti pendistribusian makanan bergizi gratis setiap hari ke lebih dari 3.000 warga lanjut usia (lansia) miskin, hasil kolaborasi Pemkab Banyuwangi, pemerintah desa, dan Badan Amil Zakat.

“Saat ini kami juga menjadikan Puskesmas sebagai mal orang sehat, bukan lagi orang baru datang ke sana saat sakit. Sebelum Lebaran kemarin saya ke Puskesmas Jajag, alhamdulillah luar biasa daftar kunjungan orang sehat untuk konsultasi gizi, sanitasi, atau cek darah meningkat,” ujar Anas.

“Kita ingin tingkatkan upaya promotif dan preventif kesehatan, maka Bapak/Ibu yang perantauan ini bisa ikut bantu sosialisasikan ke kerabatnya di Banyuwangi untuk ke Puskesmas agar tetap sehat, jangan nunggu sakit baru ke Puskesmas,” imbuh Anas.

4. Diaspora dapat melihat langsung hasil produk dari UMKM Banyuwangi

Kenakan Batik dan Udeng, Ribuan Diaspora Diajak Bangun BanyuwangiIDN Times/Beautiful Banyuwangi

Di lokasi acara Diaspora Banyuwangi juga dihadirkan beragam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Para diaspora bisa langsung melihat dan belanja oleh-oleh dari UMKM.

“Mengapa kita hadirkan UMKM langsung di lokasi pendopo ini, meskipun mereka juga punya gerai masing-masing dan bisa beli lewat online? Karena kita ingin membangun kedekatan. Bukan saja beli oleh-oleh, tapi kita bangun kesadaran untuk mencintai, membeli, dan mempromosikan produk Banyuwangi,” ujarnya.

“Kita di sini disatukan oleh rasa cinta kepada Banyuwangi. Maka dengan melihat produk UMKM, Bapak/Ibu ribuan diaspora ini bisa ikut tergerak mempromosikan, bahkan tidak menutup kemungkinan bermitra, berbisnis bersama,” papar Anas.

5. Para diaspora Banyuwangi menyambut positif perkembangan daerah tersebut

Kenakan Batik dan Udeng, Ribuan Diaspora Diajak Bangun BanyuwangiIDN Times/Beautiful Banyuwangi

Yanti, pengusaha perjalanan wisata yang membuka bisnis di Jepang.

“Sekarang pulang ke Banyuwangi lebih mudah karena sudah ada bandara. Dulu harus ke Surabaya, lalu perjalanan darat berjam-jam. Saya berharap Banyuwangi terus maju, sehingga bisa ada penerbangan dari Jepang langsung ke Banyuwangi," kata perempuan yang telah 19 tahun tinggal di Jepang itu.

Yanti juga siap untuk membantu mempromosikan Banyuwangi di luar negeri. Ia mengaku, dulu cukup sulit untuk menjelaskan tentang Banyuwangi. Tapi, sekarang banyak orang yang mengenal Bumi Blambangan tersebut. 

Topik:

  • Ester Ajeng

Berita Terkini Lainnya