Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kulineran Sambil Time Travel di Pos Bloc Surabaya, Eks Sekolah Sukarno
Para pengunjung menikmati sajian olahan makanan di Pos Bloc Surabaya. Dok. Pos Bloc Surabaya.
  • Bangunan cagar budaya bekas sekolah Sukarno di Surabaya kini disulap jadi destinasi kuliner heritage bernama 10 Regentstraat di kawasan Pos Bloc Surabaya.
  • Restoran ini mempertahankan arsitektur kolonial asli dan menawarkan pengalaman bersantap yang memadukan sejarah, suasana tempo dulu, serta menu perpaduan cita rasa Nusantara dan Belanda.
  • Kehadiran 10 Regentstraat menjadi bagian dari pengembangan Pos Bloc Surabaya sebagai ruang publik kreatif dengan rencana fasilitas tambahan seperti hangar pertunjukan dan ruang kriya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Kawasan bersejarah di jantung Kota Surabaya kini punya wajah baru. Sebuah bangunan cagar budaya yang pernah menjadi sekolah elite tempat Presiden pertama Sukarno menimba ilmu, lalu bertransformasi menjadi kantor pos, kini disulap menjadi destinasi wisata kuliner heritage bernama 10 Regentstraat di kawasan Pos Bloc Surabaya.

Restoran yang mulai dibuka untuk umum sejak 1 Mei 2026 itu menjadi daya tarik baru wisata kota lama Surabaya. Berlokasi di Jalan Kebon Rojo Nomor 10, kawasan ini menawarkan pengalaman bersantap yang memadukan sejarah, arsitektur kolonial, dan ragam kuliner lintas budaya dalam satu tempat.

Chief Business Development & Hospitality Officer PT Pos Properti Indonesia, Endro Tjahjono mengatakan, kehadiran 10 Regentstraat menjadi bagian dari pengembangan Pos Bloc Surabaya sebagai ruang publik kreatif yang menghidupkan kembali kawasan bersejarah di Surabaya Utara.

"Kawasan ini bukan sekadar properti komersial. Dua tahun berjalan, kami melihat sendiri bagaimana masyarakat merespons, mereka tidak hanya datang, tapi kembali lagi. Kini dengan hadirnya 10 Regentstraat, ekosistem kawasan ini semakin lengkap dan semakin dekat," ujarnya, Senin (8/6/2026).

Menurut Endro, tren wisata heritage saat ini tidak lagi hanya berburu bangunan tua untuk berfoto. Masyarakat, terutama generasi muda, mulai mencari pengalaman yang lebih utuh, termasuk menikmati kuliner di ruang yang memiliki cerita sejarah kuat.

Konsep 10 Regentstraat dirancang berbeda dari restoran pada umumnya. Bangunan cagar budaya tipe A tersebut dipertahankan hampir tanpa perubahan besar. Jendela-jendela tinggi, dinding bata asli, hingga detail arsitektur kolonial tetap dipertahankan untuk menghadirkan nuansa tempo dulu.

Suasana semakin kuat dengan pencahayaan hangat yang membuat pengunjung seolah diajak kembali ke masa kolonial ketika kawasan tersebut menjadi salah satu pusat aktivitas penting di Surabaya.

Tak hanya menawarkan bangunan bersejarah, 10 Regentstraat juga menghadirkan menu yang merefleksikan pertemuan budaya Nusantara dan Belanda. Pengunjung dapat menikmati Bitterballen, Klappertaart, Karedok, hingga Limun Cap Badak yang menghadirkan sensasi nostalgia dalam setiap sajian.

Kehadiran restoran ini menjadi langkah awal pengembangan Pos Bloc Surabaya yang berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektare. Ke depan, kawasan tersebut akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti hangar pertunjukan berkapasitas 1.500 orang, ruang kriya bagi pelaku ekonomi kreatif, hingga program edukasi sejarah.

Editorial Team

Related Article