Comscore Tracker

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi Surabaya

Haus gol kamu, rindu juara, #KAN93NPERSEBAYA !

Surabaya, IDN Times - "Persebaya Selamanya", "Persebaya Sampek Matek", hingga "Persebaya Sampek Kiamat", kalimat-kalimat magis itu selalu terpampang mengelilingi tribun Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) ketika Persebaya Surabaya berlaga. Grafiti berupa tulisan serba Persebaya juga akrab ditemui di tembok-tembok Kota Pahlawan, bahkan sampai perbatasan.

Tulisan-tulisan itu seolah masih belum cukup untuk mewakilkan betapa fanatiknya arek-arek Suroboyo terhadap Persebaya. Tim sepak bola yang lekat dengan kostum berwarna serba hijau. Tak cuma nama besar, tapi juga bagian dari sejarah panjang sepak bola Indonesia. Persebaya bukan sekadar klub sepak bola. Ada sejarah, perlawanan, identitas, dan kebanggan yang tersemat di hati para pencintanya!

Bineka kecil bernama Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB)

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi Surabayainstagram.com/nandoariiis

Sejarah Persebaya tak lepas dari dua klub nenek moyang yang lebih dulu ada di Surabaya. Adalah Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) yang berdiri pada 5 Agustus 1909. Klub ini bermaterikan pemain orang-orang Eropa yang kebanyakan berasal dari Belanda. Mengingat ketika itu masih masa kolonial.

SVB acap kali menggelar pertandingan dengan klub yang berisikan komunitas Tionghoa dengan nama klub Tiong Hwa Soerabaia yang berdiri pada 1914. Seakan tak mau kalah, dengan semangat gerakan Budi Utomo yang lahir pada 5 Mei 1908, mulailah digagas klub sepak bola berisikan orang-orang pribumi atau Bumiputera.

"Muncullah SIVB (Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond) 18 Juni 1927," terang peneliti sejarah Persebaya, Dhion Prasetya kepada IDN Times, Jumat (12/6).

Pendirian SIVB-yang kelak menjadi cikal bakal Persebaya- digagas oleh R. Pamoedji dan Paidjo. Akan tetapi proses perkembangan tim ini tidak lepas dari peran Radjamin Nasution. Radjamin merupakan pria kelahiran Mandailing Natal, Sumatera Utara yang berprofesi sebagai dokter dan juga menjadi kepala bea cukai era pemerintah Hindia-Belanda. Kemudian dia menjadi wali kota pertama Surabaya yang menjabat mulai 1942 dan 1945.

"Beliau (Radjamin) suka sepak bola dan termasuk yang mengisiasi pendirian Persebaya (SIVB). Beliau juga dikenal wali kota tiga zaman, yang jelas tahun 50-an jadi Ketua Umum Persebaya," kata Dhion.

Menariknya, SIVB tak hanya berisi arek-arek Suroboyo. Di dalamnya juga ada orang-orang Maluku, Arab, hingga Tionghoa. Bineka kecil tercermin di sini.

Menapak tonggak sejarah dari Lapangan Pasar Turi

Ketika sudah berdiri, SIVB langsung membentuk tim internal laiknya SVB yang lebih dulu memiliki tim dan kompetisi internal. Jika SVB memilih bermarkas di Lapangan Kelana kawasan Kusuma Bangsa-kini menjadi Taman Hiburan Remaja (THR)-, maka SIVB memilih markasnya di Lapangan Pasar Turi-sekarang Pusat Grosir Surabaya (PGS).

Dalam catatan Dhion, tak hanya dua lapangan yang kerap digunakan pertandingan sepak bola. Totalnya ada empat. Selain di Pasar Turi dan Kusuma Bangsa, ada pula di kawasan Tambaksari yang kini jadi Stadion Gelora 10 Nopember dan di kawasan Jalan Patmosusatro, Wonokromo yakni Lapangan THOR.

"SVB dan SIVB ini sering menggelar pertandingan persahabatan saat itu, banyak yang nonton. Dari situ terlihat ada perlawanan, tapi bukan perlawanan fisik. Yang ada bersaing lewat olahraga. Kompetisi secara fair terjadi di Surabaya waktu itu," Dhion membeberkan.

Tiga tahun usia SIVB-tepatnya pada 1930- federasi sepak bola Indonesia berdiri. SIVB adalah salah satu dari tujuh klub di negeri ini yang merintis berdirinya federasi. Adanya federasi ini memantapkan SIVB untuk mengikuti kompetisi yang dijalankan federasi. Mereka pun lebih fokus bertanding melawan tim besar lainnya seperti Bandung, Jakarta, maupun Semarang. Sejak dulu SIVB memakai kostum kebesaran berwarna hijau.

Dengan adanya federasi sepak bola Indonesia, SIVB pun memutuskan untuk berganti nama menjadi Persatoean Olahraga Republik Indonesia Soerabaja (PORIS). SVB pun ikut melebur ke dalamnya. Tak lama setelah itu, sekitar tahun 1955, tim ini memilih nama Persatoean Sepakraga Soerabaja (Persibaja).

"Kemudian 1960 jadi Pesebaya," ucap penulis buku Persebaya and Them ini.

Selanjutnya, Persebaya Surabaya mulai mengikuti kompetisi perserikatan yang digelar PSSI. Pada tahun 1977 Persebaya menjadi juara setelah berpuasa gelar selama 25 tahun. "Tapi selama puasa Persebaya salah satu penyumbang pemain timnas terbanyak," kata Dhion.

Bajul Ijo, Bledug Ijo, hingga sepak bola gajah

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi SurabayaIlustrasi Bonek. IDN Times/Imam Rosidin

Saat bertranformasi nama menjadi Persebaya, tim kebanggan Kota Pahlawan ini mulai mempunyai julukan Bajul Ijo. Julukan ini merujuk pada lambang Kota Surabaya yang melekat sebagai logo di dada kostum para pemain. Ditambah lagi, warna kostumnya hijau.

"Bajul ijo dari (tahun) 60-an, dari bahasa koran. Itu era perserikatan waktu sudah bernama Persebaya," terang Dhion.

Selain itu, ternyata Persebaya sempat mendapat julukan miring "Bledug Ijo". Julukan ini melekat setelah Persebaya terlibat dalam praktik sepak bola gajah pada kompetisi Divisi Utama 1987-1988. Anak asuh Almarhum Agil Ali ini sengaja mengalah dengan skor 0-12 ketika menjamu Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 Nopember pada 21 Februari 1988.

"Ada dua hal yang mendasari (mengalahnya Persebaya dari Persipura)," kata Dhion.

Pertama, Persebaya ingin membalaskan dendam kepada PSIS yang mengalahkannya di final kompetisi sebelumnya agar tidak lolos. Kemudian memberi hadiah pada warga Papua. Sebab, sehari sebelumnya Perseman Manokwari terdegradasi dan Persipura akhirnya lolos 6 besar Divisi Utama.

Bonek, sebuah militansi dan identitas yang melekat erat dengan Persebaya

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi SurabayaSalah satu spanduk dukungan untuk Persebaya di jalanan Kota Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar

Selama berdiri dan mengarungi kompetisi di bawah PSSI, Persebaya dikenal mempunyai pendukung yang fanatik. Mulanya pendukung Bajul Ijo menamakan dirinya dengan sebutan "Arek". Penamaan ini bukan tanpa dasar, karena wilayah Surabaya lekat dengan budaya arek. Pendukungnya bukan hanya sebatas kawasan Surabaya saja, tapi se-Jawa Timur

"Makanya ada spanduk, Arek Rewwin dukung Persebaya, Arek Pasuruan dukung Persebaya," tambah Dhion.

Saat final Divisi Utama musim 1987-1988 melawan Persija Jakarta, mulai ada kata "Bonek" untuk menyebut suporter Persebaya. Dhion mengatakan, kala itu wali kota Surabaya sekaligus ketum Persebaya, Poernomo Kasidi takjub dengan militansi arek-arek Suroboyo yang rela berangkat ke Jakarta. Jumlah massanya mencapai 25 ribu orang. Dia pun mencetuskan sebutan Bonek yang artinya Bondo dan Nekat. Bahkan, dukungan diberikan sejak di hotel tempat para pemain menginap hingga stadion.

Bonek juga merupakan representasi pelopor suporter Indonesia yang away secara terorganisir. Saat itu Jawa Pos juga menyokong keberangkatan Bonek yang "menggeruduk" Senayan dengan istilah tret tet tet. 

Sebelum final itu juga sudah beredar ilustrasi "Ndas Mangap" yang menggambarkan wajah seorang Bonek dengan ikat kepala. Yang pertama kali menggambarnya adalah ilustrator Jawa Pos, Mister Muchtar.

"Gambar itu menunjukan heroisme arek Suroboyo. Setelah itu media sering menyebut arek-arek ini Bonek," ucap Dhion.

Barulah memasuki tahun 2000-an, arek-arek Suroboyo benar-benar mengukuhkan satu nama komunitas suporter yakni Bonek. "Tahun 2000 label komunitas suporter sepakat Bonek," imbuh Dhion.

Baca Juga: 'Emosi Jiwaku' Menggema usai Persebaya Menangkan Gugatan Lawan Pemkot

"Salam Satu Nyali, Wani!" tercetus di Yogyakarta

Setelah sepakat dengan sebutan Bonek, pendukung Persebaya sering menyertai ke manapun tim kebanggaannya bertanding. Termasuk ketika bertandang ke kandang PSIM, di Yogyakarta pada awal tahun 2000-an. Padahal waktu itu Bonek terkena sanksi larangan mendukung menggunakan atribut.

"Tapi kami tetap datang menggunakan atribut," kata salah satu pentolan Bonek, Hamin Gimbal.

Sesampainya di depan Stadion Mandala Krida, Bonek menyempatkan diri berkumpul terlebih dahulu. Nah, ketika itu ada insiden beberapa oknum menyapa dan bercanda dengan gerombolan perempuan yang diduga dari supporter PSIM yang sedang lewat. Tapi mereka justru marah dan memantik gesekan antar supporter.

"Sempat chaos, tapi gak berlanjut," ucap Hamin.

Dari situ, Hamin heran dengan tingkah Bonek yang lari setelah adanya insiden kecil. Dia berinisiatif memupuk nyali teman-temannya. Kemudian tercetuslah "Salam Satu Nyali, Wani!". Salam itu mulai digaungkan di dalam stadion. Meskipun Bonek harus menanggalkan atributnya ketika masuk ke dalam stadion.

"Waktu itu sanksi kita telanjang dada, kan tidak boleh pakai atribut. Waktu masuk (stadion) disuruh copot kaus Bonek," ungkapnya.

Meski tanpa atribut, Bonek tetap mendukung Persebaya secara habis-habisan. Bagi Hamin, Persebaya ialah kebanggaan dan ikon Surabaya. "Bahkan jadi harga diri kota juga. Siapapun yang menyakiti Persebaya kita akan marah, kita tidak terima dan akan melawan," tegasnya.

Memori manis 2004, angkat piala di Tambaksari

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi SurabayaIDN Times/Istimewa

Dukungan setia Bonek akhirnya berbuah hasil pada Liga Indonesia kesepuluh. Persebaya Surabaya berhasil mengangkat trofi pada musim kompetisi 2004. Gelar ini menjadi mahkota kedua bagi Persebaya. Sebelumnya Persebaya juara pada pagelaran Liga Indonesia ketiga di musim kompetisi 1996/1997.

Euforia juara 16 tahun silam itu masih dirasakan legenda Persebaya, Mat Halil. Pemain yang melakukan gol bunuh diri di partai final itu masih mengingat betul ketegangan dan meledaknya kebahagiaan saat peluit akhir pertandingan dibunyikan. "Ya sedih campur gembira waktu itu," ungkapnya.

Pada pertandingan penentu yang berlangsung di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari itu Persebaya unggul cepat dari Persija Jakarta melalui sepakan legiun asing asal Brazil, Danilo Fernando dari luar kotak penalti. Gol itu disambut gemuruh Bonek yang sudah memadati Tambaksari sejak pagi mesti hujan mengguyur nyaris seharian.

Namun, jantung Bonek yang jadi saksi pertandingan itu seolah terhenti ketika Halil salah mengantisipasi bola. Berawal dari tusukan pemain Persija, Gustavo Hernan Ortiz, Halil malah menceploskan gol bunuh diri ke gawang Hendro Kartiko. Sebuah momen yang tak akan bisa dihapus Mat Halil seumur hidupnya.

"Itu istri mengandung 7 bulan, malah saya gol bunuh diri," kata pemain yang identik dengan nomor punggung 2 tersebut.

Untungnya Persebaya punya pahlawan bernama Luciano de Souza. Sundulan gelandang bertahan Persebaya itu merobek jala Syamsidar yang berusaha maju memotong bola. Kepala Luciano lebih cepat dibanding tangkapan sang penjaga gawang.

Bagi Halil, Luciano seolah menjadi dewa penyelamat. Baik untuk Persebaya, maupun dirinya sendiri. Persebaya juara setelah menghempaskan perlawanan Persija dengan skor 2-1. Bajul Ijo mengangkat piala di kandangnya sendiri. Di Tambaksari.

"Gol Luciano membawa juara Persebaya. Akhirnya anak saya lahir perempuan, saya kasih nama Lusiana," beber pria yang kini menjadi asisten pelatih Persebaya Elite U-18 ini.

Kegembiraan lain ketika memperkuat Persebaya, lanjut Mat Halil, bukan hanya waktu membawa juara. Menurutnya, mengalahkan tiga tim, Persija, Arema, dan Persela menjadi agenda wajib para pemain Bajul Ijo kala itu. "Haram hukumnya kalah sama tiga tim itu," ucapnya.

"Makanya kalau lawan tim itu jiwa ngeyel-nya harus keluar. Karakter arek Suroboyo. Kalau lawan keras kami keras. Kalau teknik, kami juga teknik," tegas pelatih berlisensi B AFC ini.

Tragedi degradasi hingga pindah kompetisi

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi SurabayaSuasana Gelora Bung Tomo Surabaya saat pertandingan Persebaya vs PSS Sleman, Selasa (29/10). IDN Times/Ardiansyah Fajar

Akan tetapi, pasang surut juga menerpa Persebaya. Tak hanya cerita indah dan juara, tim ini sudah kenyang menelan asam garam. Sebelum juara pada 2004, Bajul Ijo sempat turun kasta di 2002. Kemudian juara Divisi I sekaligus naik kasta pada tahun 2003, sampai akhirnya juara Divisi Utama pada 2004.

Setelah juara, Persebaya justru dipaksa degradasi di musim kompetisi 2005. Sebab, menolak bertanding melawan Persija di babak 8 besar dengan alasan ada Bonek yang diculik dan diancam dibunuh oleh salah satu ormas di Jakarta. "Namun kualitas tim waktu itu mengantarkan Persebaya juara Divisi 1 2006, kemudian naik ke Divisi Utama lagi di 2007" kata pemerhati sejarah Persebaya, Iwan Rukmantoro Rachmadi.

Sayangnya, pada musim kompetisi Divisi Utama 2007 Persebaya hanya menduduki peringkat ke-14 klasemen akhir. Alhasil tim kebanggaan Bonek ini tidak dapat ikut serta di Indonesia Super League tahun 2008. Barulah setahun berikutnya Persebaya kembali promosi usai mengalahkan PSMS melalui drama adu penalti babak playoff di Stadion Siliwangi, Bandung, yang berkesudahan dengan skor 7-6.

"Setelah promosi, Persebaya membentuk badan hukum PT PI (Persebaya Indonesia). Ada sahamnya Pak Saleh Mukadar 50 persen, Cholid Goromah 30 persen, dan Suprastowo 20 persen," jelas Iwan.

Atas dasar itulah Saleh Mukadar jadi komisarutama, Cholid sebagai dirut, dan Suprastowo mewakili Koperasi Surya Abadi Surabaya yang beranggotakan 30 klub internal Persebaya. Dengan akta PT PI ini, Bajul Ijo siap mengarungi ISL 2009/2010.

Kesiapan itu rupanya tidak diimbangi dengan kualitas tim. Meski berganti pelatih dari Danurwindo ke Rudi William Keltjes, penggawa Persebaya kesulitan di ISL. Mereka hanya mengemas 36 poin dan berada di klasemen ke-17. Perebutan kursi playoff untuk menghindari degradai terjadi antara Persebaya, Persik, dan Pelita Jaya.

"Tiga kali pertandingan penentuan lawan Persik ditunda, harusnya menurut aturan Persebaya sudah menang WO. Karena tuan rumah tidak bisa menggelar pertandingan".

"Tapi Presiden Direktur PT Liga, Andi Darussalam menjadwalkan ulang tanding di Palembang. Persebaya sudah lelah dengan tiga kali gagal tanding, harus keempat ke Palembang. Akhirnya tidak datang dan Persebaya yang di-WO. Kemudian degradasi lagi," jelas Iwan.

Tak sampai di situ, kala itu PSSI mengancam akan mencoret Persebaya jika tidak segera membayar denda di kompetisi sebelumnya. Mengetahui hal tersebut, Saleh Mukadar memilih membawa Persebaya ikut kompetisi Indonesia Premiere League (IPL) milik pengusaha Arifin Panigoro. Karena ada janji bantuan subsidi Rp10-30 miliar setaip musimnya.

"Menyebranglah ke kompetisi sebelah, IPL milik Arifin Panigoro itu. Keputusan Saleh membuat gejolak di tubuh Persebaya," terang Iwan.

Gejolak dualisme Persebaya

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi Surabaya(Foto hanya ilustrasi) Bonek, suporter Persebaya mengawal jalannya sidang putusan sengketa Wisma Persebaya dan Lapangan Karanggayam, Selasa (10/3). IDN Times/Fitria Madia

Gejolak internal Persebaya ini dimasuki oleh pihak luar. Wisnu Wardhana berinisiatif membeli Persikubar Kutai Barat. Singkat waktu, tim itu berganti nama Persebaya. Kemudian didaftarkan di Divisi Utama, kompetisi kasta kedua. Wisnu bersikukuh bahwa Persebaya resmi ialah yang ikut kompetisi di bawah PSSI. Secara otomatis Persebaya versi Saleh tidak diakui lagi karena ikut kompetisi IPL yang notabene di luar federasi.

"Di sini dualisme mulai terjadi. Persebaya Pak Saleh ganti nama Persebaya 1927. Persebaya versi Wisnu Wardhana bernama Persebaya Surabaya. Keduanya berjalan di kompetisi masing-masing," kata Iwan.

Meski begitu, Bonek mendukung Persebaya 1927. Pendukung militan ini mengetahui betul mana Persebaya yang asli dan sarat akan sejarah. 26 Januari 2014, Bonek menggelar aksi besar di depan Hotel Shangri-La Surabaya. Mereka menyuarakan aksi kepada Ketua PSSI waktu itu, La Nyalla Mattaliti agar mengakui Persebaya 1927 sebagai yang resmi. Tapi suara Bonek tak didengar oleh PSSI.

Pada 2015 PSSI dibekukan Menpora. PT PI memanfaatkan membawa perkara dualisme Persebaya ke meja hijau. Tapi, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya tidak berhak menanganinya. Setelahnya, Kemenkumham ternyata mengeluarkan sertifikat hak paten atas nama Persebaya.

Persebaya 1927 versi Saleh pun berhak atas nama Persebaya Surabaya awal 2016. Kemudian Persebaya versi Wisnu harus mencari nama baru. "Sempat jadi Bonek FC, Surabaya United FC, Bhayangkara Surabaya United FC, dan akhirnya sekarang Bhayangkara United FC," terang Iwan.

Kembalinya Persebaya disambut suka cita ratusan ribu Bonek. Mereka menggelar aksi sepanjang Jalan Arjuno Surabaya. Aksi itu berlanjut pada Agustus 2016. Memakai atribut serba hijau, Bonek menyerukan perlawanan ke PSSI di Jakarta. Mereka mendesak federasi segera mengakui Persebaya dan memperbolehkan ikut kompetisi resmi.

Pada 8 Januari 2017 akhirnya tim kebanggaan Arek-arek Suroboyo itu diakui kembali sebagai anggota PSSI. Kala itu diumumkan langsung oleh Ketum PSSI Edy Rachmayadi pada Kongres PSSI di Bandung.

"Saya waktu itu dan teman-teman Bonek berada di GOR Pajajaran karena memang dipusatkan di sana. Tahunya kalau jadi anggota PSSI lagi diumumkan sama Mas Andi Peci," kata koordinator Green Nord, Husein Ghozali.

Setelah pengumuman itu, Cak Cong-sapaan akrab Husein- mengakui euforia pecah di kawasan Pajajaran. Sebab, perjuangan semua elemen termasuk Bonek selama bertahun-tahun mengembalikan Persebaya dan diakui lagi oleh federasi akhirnya terwujud.

Pada tahun yang sama, Persebaya seperti bangun dari tidur panjang. Tim yang ketika itu diarsiteki Alvredo Vera langsung menerkam lawan-lawannya di kompetisi Liga 2 tahun 2017. Bajul Ijo pun menjadi juara Liga 2 setelah menghempaskan PSMS Medan dengan skor 3-2 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Sekaligus mengantarkannya ke Liga 1 hingga sekarang.

Makin matang di usia ke-93

Bukan Sekadar Ikatan Sejarah, Persebaya adalah Segalanya bagi SurabayaAnniversary 93 Persebaya. Instagram.com/officialpersebaya

Iwan berharap dualisme di internal Persebaya segera menjumpai titik temu. Sebab sampai sekarang gejolak itu masih ada. Dia ingin, Persebaya yang menginjak usia 93 tahun ini mau berbesar hati menerima 10 mantan tim internalnya agar bisa ikut kompetisi lagi.

"Kita menginginkan 30 klub internal Persebaya bisa berkompetisi secara sehat seperti dulu dan menghasilkan talenta-talenta muda bagi tim Bajul Ijio," katanya.

Iwan mengatakan, ketika dualisme terjadi hanya 20 klub internal yang tetap memilih bersama Persebaya versi PT PI. Sementara 10 lainnya ikut mendukung Persebaya versi Wisnu Wardhana.

Dukungan 10 tim internal kepada Persebaya versi Wisnu Wardhana kala itu bukan tanpa alasan. Sebab, mereka ingin Persebaya tetap tampil di kompetisi resmi PSSI.

"Saya selalu berdoa dan berharap semua pihak yang sampai saat ini belum bisa menyatu kembali dalam keluarga besar Persebaya agar bisa segera islah kembali. Jalan untuk itu ya perbolehkan 30 klub berkompetisi lagi," tambah Iwan.

Sementara itu, Mat Halil juga berharap Persebaya bisa lebih menciptakan pemain-pemain muda binaan internal. Dia tidak ingin Bajul Ijo harus berbelanja pemain dari luar terus. Mengingat Halil ialah produk asli Persebaya yang ditemukan dari tim internal Sashana Bhakti.

Senada dengan Halil, pentolan Bonek, Hamin Gimbal juga ingin Persebaya menghasilkan pemain muda berkualitas. Tak lupa kedekatan antar pemain, pelatih, manajemen, dan suporter bisa lebih ditingkatkan. Sehingga, Persebaya semakin percaya diri ketika bertanding di rumahnya sendiri.

"Jangan grogi ketika di depan Bonek. Tetap ngeyel-ngosek. Salam satu nyali, WANI!" tegas Hamin.

Baca Juga: Sah! Persebaya Kalahkan Pemkot dalam Sengketa Wisma dan Lapangan

Topic:

  • Ardiansyah Fajar
  • Dida Tenola
  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya