Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Melihat dengan Suara: Saat AI Menjadi Asisten Pribadi bagi Penyandang Tunanetra
Alfian saat menggunakan aplikasi dengan AI di ponselnya. (IDN Times/Khusnul Hasana)
  • Alfian, mahasiswa S3 UGM dan ASN tunanetra, memanfaatkan AI Be My Eyes serta teknologi pembaca layar untuk pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas mandiri sehari-hari.

  • Perjalanan Alfian dari keluarga kurang mampu membawanya meraih gelar sarjana, magister, hingga doktor melalui pemanfaatan teknologi dan berbagai beasiswa, termasuk LPDP.

  • Akses teknologi inklusif, literasi digital, dan perlindungan data dinilai penting bagi 24,67 juta penyandang disabilitas Indonesia agar peluang pendidikan, kerja, serta informasi lebih setara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - ​Di hadapan layar ponsel yang legam tanpa warna, dunia tetap benderang bagi Alfian. Kamis siang itu, 15 Oktober 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), ia tampak sibuk. Jemarinya bergerak lincah menyapu kaca gawai. Swap kanan, swap kiri, ponsel itu ia dekatkan pada sebuah buku seolah sedang memotret. Beberapa saat kemudian, ponsel mengeluarkan suara berisi diskripsi sampul buku detail beserta warna dan tulisan. Alfian mengangguk paham.

Beberapa saat kemudian, dia mengarahkan ponsel menghadapnya seperti sedang berswafoto. Ponsel itu mendiskripsikan ciri-ciri Alfian secara detail, dari potongan rambut hingga motif pada bajunya. Ia lalu tersenyum seperti puas dengan penampilannya. “Ini namanya aplikasi Be My Eyes,” ujar Alfian.

Ia membiarkan teknologi menjembatani gelap yang memeluk kelopak matanya yang tak pernah terbuka sempurna. Mahasiswa doktoral Universitas Gajah Mada (UGM) sekaligus aparatur sipil negara di Kementerian Desa itu tengah membuktikan satu hal: keterbatasan fisik bukan halangan untuk menggenggam semesta lewat suara dan kecerdasan buatan.

Aplikasi dengan Akala Imitasi atau Artificial Intelligence (AI) itu seolah membuatnya memiliki asisten pribadi. Dalam banyak hal, software tersebut cukup membantunya, mulai dari keperluan pribadi, seperti memilihkan baju yang cocok, melihat tingkat kematangan masakan, sampai membaca lembaran uang.

Dalam hal pekerjaan dan perkuliahan apalagi, ponsel pintar dengan kecerdasan buatan itu membantunya membaca dokumen fisik, mendiskripsikan video adegan per adegan dan masih banyak lagi. “Sangat membantu dalam banyak hal, misalnya timku sedang membuat projek video, AI tak suruh mendeskripsikan. Tak suruh mengkoreksi apa yang kurang,” kata dia.

Jauh sebelum AI masuk di hidupnya, teknologi sangat berperan penting pada caranya meraih mimpi. Di sekolah umum ia menempuh pendidikan menengah atas, berbaur dengan mereka yang memiliki mata normal. Saat semua siswa di kelasnya menggunakan kertas fisik untuk ujian, Alfian yang terbatas secara pengelihatan itu diperkenankan menggunakan laptop, tentu dengan fitur pembaca layar atau screen reader. “Waktu itu saya diberi bantuan laptop oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini,” ujarnya.

Tekadnya meraih mimpi diiringi dengan kecapakannya memanfaatkan teknologi. Padahal Alfian lahir dari keluarga kurang mampu, ibunya ibu rumah tangga dan bapaknya tukang tambal ban.

Kemajuan teknologi mengantarkan tuna netra seperti dia mampu sejajar dengan mereka yang punya mata normal. Berkat memanfaatkan teknologi dengan sangat baik, Alfian lolos dan diterima di Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) dan mendapat beasiswa Bidik Misi dari pemerintah. Ia menjalani hari-hari perkuliahan sebagaimana mahasiswa pada umumnya, menuntaskan tugas dosen, kerja kelompok dengan sesama mahasiswa hingga selesai mengerjakan tugas akhir.

Di masa itulah ia mulai mengenal aplikasi Be My Eyes. Ketika itu aplikasi belum dilengkapi AI. Software terhubung dengan volunteer dari seluruh wilayah di dalam dan luar negeri. Sampai kemudian, volunteer mulai digantikan oleh AI. Hidup Alfian pun semakin mudah.

Semua kehidupan perkuliahan sampai gelar sarjana tersemat di belakang namanya tak lepas dengan bantuan teknologi. Teknologi adalah caranya terhubung dengan teman-teman sesama mahasiswa, dosen hingga petugas perpustakaan di kampus. “Dalam hal apapun teknologi sangat berperan, membaca file juga pakai handphone,” kata dia.

Semakin percaya diri karena telah berhasil menembus keterbatasannya, Alfian pun melanjutkan pendidikan S2 di universitas yang sama tapi jurusan berbeda. Ia pun mendapat beasiswa Asean Universitas Network. Sampai kemudian ia menjadi tuna netra pertama di Unair yang mendapat gelar Magister Kebijakan Publik.

Kini, dia adalah satu-satunya penyandang disabilitas yang telah menembus S3 Program Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (DKIK) UGM dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Beberapa kali dia dipercaya oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk urun rembuk merancang website yang ramah disabilitas.

Di sisi lain, meski AI kini melekat di hidupnya dan berperan penting dalam meraih mimpinya, Alfian paham betul bahwa ia harus tetap menjaga jarak. Ancaman kebocoran data tentu saja mengintai orang-orang seperti dirinya. “Data seperti KTP dan dokumen pribadi aku gak tak masukkan AI, kalau butuh membaca aku minta bantuan orang terdekat.”

Alfian merasa beruntung karena tinggal di kota besar dengan teknologi yang cukup mudah dijangkau dan diakses. Hal berbeda tentu saja dialami penyandang disabilitas yang tinggal di daerah minim sinyal dan teknologi yang belum sepenuhnya terjangkau. Ia berharap agar hal yang sama juga didapatkan oleh 7,8 juta penyandang disabilitas netra di berbagai wilayah di Indonesia. Sehingga, kesempatan yang sama untuk bisa meraih mimpi juga didapatkan oleh mereka.

Alfian saat mencoba membaca buku. IDN Times/Khusnul Hasana

Upaya mendukung orang-orang seperti Alfian agar teknologi mudah diakses telah dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui berbagai program, mulai dari peningkatan literasi digital, keterampilan teknologi dan aksesbilitas. Ketua Tim Literasi Digital Pendidikan dan Disabilitas, Diah Aliefya mengatakan bahwa literasi digital harus dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Melalui pemanfaatan teknologi, dapat membuka lebih banyak peluang dalam komunikasi, pendidikan, dan pekerjaan.

“Kemajuan teknologi harus dirasakan oleh semua orang, termasuk teman-teman Tuli. Tidak boleh ada yang tertinggal dalam transformasi digital," jelas Diah melalui keterangan tertulis yang diunggah di website bpsdm.komdigi.com yang diunggah 12 Juni 2026 lalu

Akses yang setara terhadap teknologi dan informasi tidak hanya membuka peluang untuk belajar dan berkomunikasi, tetapi juga memperluas kesempatan berkarya, meningkatkan kemandirian, serta memperkuat partisipasi dalam ekonomi digital yang terus berkembang.

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND), Rachmita Maun Harahap, menekankan bahwa literasi digital merupakan bagian dari hak setiap warga negara yang harus dapat diakses secara setara. "Literasi digital merupakan bagian dari hak setiap warga negara. Karena itu, transformasi digital harus berjalan secara inklusif agar seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dapat mengakses informasi, pengetahuan, dan berbagai peluang yang tersedia di ruang digital," ungkap Rachmita dalam Keynote Speech-nya.

Menurutnya, mesin pencari dan kecerdasan artifisial dapat menjadi sarana untuk mempersempit kesenjangan akses informasi yang masih dihadapi sebagian penyandang disabilitas. "Kita tidak hanya membutuhkan equality, tetapi juga equity. Setiap kelompok masyarakat memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga pendekatan yang inklusif dan aksesibel menjadi kunci agar manfaat teknologi benar-benar dapat dirasakan oleh semua," tambahnya.

Seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi digital dalam berbagai aspek kehidupan, penguatan kecakapan digital menjadi keterampilan yang semakin penting. Kemampuan mencari informasi secara efektif, memahami keamanan digital, serta memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bijak dapat membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat.

Melalui berbagai program literasi digital yang inklusif, Komdigi terus berupaya memastikan bahwa manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah untuk membangun ruang digital yang aman, inklusif, dan memberdayakan, sehingga tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam memanfaatkan peluang di era digital.

Curated For You

Editorial Team

Related Article