Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

ITS Kembangkan AI untuk Atasi Jebolnya Tanggul Lumpur Sidoarjo

Kota Surabaya
3 min read
ITS Kembangkan AI untuk Atasi Jebolnya Tanggul Lumpur Sidoarjo
Tampilan SIDA-AI yang dikembangkan ITS. (dok. Humas ITS)
  • ITS mengembangkan SIDA-AI untuk memitigasi risiko jebolnya tanggul Lumpur Sidoarjo, di tengah penurunan tanah hingga rata-rata 0,5 meter per tahun pada titik rentan.

  • Sistem ini menggabungkan citra UAV, sensor IoT, dan prakiraan cuaca untuk memantau retakan, rembesan, saturasi, muka air, pendangkalan Kali Porong, serta sisa freeboard secara real-time.

  • Dengan arsitektur dua lapis dan agentic AI, SIDA-AI menilai risiko tiap segmen tanggul serta menyusun rekomendasi berbasis prosedur PPLS; inovasi ini meraih Juara 1 AIDeaNation 2026 BRIN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) yang bisa memitigasi jebolnya tanggul lumpur Lapindo di Sidoarjo. Inovasi tersebut adalah Sidoarjo Disaster Assessment AI (SIDA-AI) yang menggabungkan citra Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan sensor Internet of Things (IoT).

Tim pengembang SIDA-AI Kurnia Cahya Febryanto SKom MKom menjelaskan bahwa Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mencatat penurunan muka tanah di titik paling rentan mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun. Sementara laju di sepanjang tanggul 11 kilometer bervariasi antara 20 sampai 50 sentimeter per tahun.

“Risiko diperparah dengan kapasitas alir Kali Porong yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi sungai,” ujar Kurnia, Rabu (23/9/2026).

Di sisi lain, pola inspeksi berkala memiliki keterbatasan alami dalam membaca perubahan yang berlangsung perlahan. Pola pemantauan tersebut berpotensi membuat kondisi yang tampak normal seperti jarak bebas menipis, muka air normal, dan prakiraan hujan lebat, sering luput dari deteksi.

“Gabungan dari kondisi-kondisi tersebut membuatnya semakin berbahaya,” ungkap mahasiswa program doktoral Departemen Teknik Informatika ITS ini.

Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan SIDA-AI yang mengadopsi pendekatan agentic Artificial Intelligence (AI). Sistem ini memadukan citra UAV dan sensor IoT, serta data prakiraan cuaca dan dirancang untuk menghasilkan pemantauan kondisi secara real time.

“Dengan mengintegrasikan berbagai sumber data, SIDA-AI menghubungkannya dengan faktor lingkungan yang memengaruhi tingkat risiko,” terang Kurnia.

Dalam penerapannya, pengembang perangkat keras SIDA-AI, Irfan Mirda ST MKom menguraikan bahwa SIDA-AI dibangun menggunakan arsitektur dua lapis. Lapisan pertama merupakan lapisan persepsi yang terdiri atas sejumlah model deterministik. Lapisan ini berfungsi mengolah data hasil pengamatan untuk mendeteksi berbagai kondisi fisik tanggul, seperti retakan, rembesan, dan saturasi berdasarkan citra UAV.

Irfan mengungkapkan bahwa selain mendeteksi kondisi fisik tanggul, lapisan persepsi juga mengolah sejumlah indikator penting lainnya. Dirinya menambahkan bahwa sistem menghitung sisa freeboard dan laju penurunan tanah menggunakan metode DEM differencing dari citra UAV multitemporal.

“Sementara itu, sensor IoT digunakan untuk memantau muka air dan pendangkalan Kali Porong secara real-time,” jelas Irfan.

Data dan indikator yang dihasilkan lapisan persepsi selanjutnya diproses oleh lapisan kedua, yakni lapisan agentic AI. Irfan menjelaskan bahwa lapisan ini berfungsi mengorkestrasi seluruh indikator yang telah diperoleh sebelumnya. Dengan memanfaatkan model bahasa besar, sistem dapat menilai tingkat risiko pada setiap segmen tanggul sekaligus menyusun rekomendasi tindakan berdasarkan kondisi yang teridentifikasi.

Agar rekomendasi yang dihasilkan tetap sesuai dengan standar penanganan yang berlaku, Irfan menuturkan bahwa setiap rekomendasi ditambatkan pada prosedur penanganan PPLS. Mekanisme tersebut menggunakan pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG) guna memastikan SIDA-AI memiliki landasan prosedural yang jelas. Inovasi itu pun telah mendapat pengakuan melalui raihan Juara 1 AIDeaNation 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa waktu lalu.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More