Ramai Soal Kualitas Udara di Surabaya, DLH: Bukan karena Karhutla

DLH Surabaya menyatakan kualitas udara kota tidak atau minim dipengaruh karhutla Sumatra-Kalimantan, berdasarkan pemantauan arah angin dan SPKUA Tandes.
PM2.5 menjadi parameter kritis dalam sepekan terakhir, dengan kategori ISPU Tidak Sehat pada waktu tertentu, terutama pukul 06.00-09.00 WIB.
DLH mengimbau warga mengurangi aktivitas berat di luar pagi hari, memakai masker N95/KN95, serta melindungi kelompok sensitif saat udara tidak sehat.
Surabaya, IDN Times - Kualitas udara di Kota Surabaya ramai menjadi perbincangan di media sosial, banyak orang mengeluh bahwa kualitas udara di Kota Pahlawan tidak sehat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menyebut, kualitas udara di Kota Surabaya tidak terpengaruh oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatra.
Berdasarkan pemantauan IDN Times di sejumlah platform pemantuan kualitas udara, kualitas udara di Kota Surabaya masuk dalam kategori sedang, Jumat (16/10/2026). Seperti pada website ispu.kemenlh.go.id, kualitas udara di Surabaya baku mutu PM 2.5 berada di angka 76 mikrogram per meter kubik (µg/m³) di website IQAir.com juga tak jauh berbeda yakni 71 µg/m³.
Sementara di website Weather.com menunjukkan angka yang berbeda, baku mutu PM 2.5 di Kota Surabaya menunjukkan angka 157 µg/m³ dengan kategori tidak sehat. Hal yang tak jauh berbeda juga ditunjukkan dari pemantauan kualitas udara yang dilakukan pemerintah Kota Surabaya
Kepala DLH Kota Surabaya, M Fikser mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memantau kualitas udara melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes. Berdasarkan informasi pergerakan angin dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), kondisi udara di Kota Pahlawan diperkirakan tidak atau minim dipengaruhi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.
Pemantauan kualitas udara dilakukan menggunakan tujuh parameter untuk mengetahui kondisi udara sekaligus menjadi dasar penyampaian informasi kepada masyarakat. "Berdasarkan pemantauan SPKUA Tandes dengan tujuh parameter (SO2, NO2, O3, CO, HC, PM10 dan pm2,5), dalam satu minggu terakhir PM2.5 menjadi parameter kritis dengan kategori ISPU Tidak Sehat pada periode tertentu, terutama pukul 06.00-09.00 WIB," ujar Fikser, Jumat (16/10/2026).
Untuk mengantisipasi paparan polusi udara, DLH Surabaya mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama pada pagi hari. Warga juga disarankan menggunakan masker N95 atau KN95 saat beraktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada dalam kategori Tidak Sehat.
"Kami juga menyarankan warga menutup jendela dan menggunakan pembersih udara dengan filter HEPA apabila tersedia. Dan memprioritaskan perlindungan bagi kelompok sensitif," pesan Fikser.
Fikser menuturkan, peningkatan konsentrasi PM2.5 dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya yakni, musim kemarau, rendahnya curah hujan, kondisi atmosfer, serta emisi dari sektor transportasi, industri, dan pembakaran terbuka. "Musim kemarau berpotensi menyebabkan debu dan asap kendaraan bermotor yang terkurung di lapisan bawah akibat boundary layer," imbuh Fikser.
Terkait sebaran asap di Indonesia, Fikser menyebut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai citra sebaran asap pada 15 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan pola sirkulasi angin secara umum didominasi aliran Monsun Tenggara. "Arah tiupan utama bergerak dari timur tenggara menuju barat laut utara, dengan kecepatan rata-rata berkisar 9,26-37,04 kilometer per jam," ujarnya.
Ia menambahkan, angin dengan kecepatan ringan hingga sedang di wilayah Sumatra dan Kalimantan berperan dalam membawa serta menyebarkan kabut asap karhutla ke wilayah lain. "Sehingga memperluas cakupan wilayah terdampak serta memicu fenomena kabut asap lintas batas (transboundary haze) dari Sumatra dan Kalimantan ke Semenanjung Malaysia dan Singapura, serta dari Papua Nugini ke Papua Selatan," pungkasnya.




















