Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nikel Dunia Surplus, Ekonom Soroti Moratorium
Ilustrasi Tambang Nikel. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Ekonom menilai moratorium industri nikel produk setengah jadi dapat menyesuaikan kapasitas produksi dengan pasar global yang surplus 209 ribu ton pada 2025 dan diproyeksikan 261 ribu ton pada 2026.

  • Indonesia diperkirakan menyumbang 66 persen produksi tambang nikel global pada 2025 dan 68 persen pada 2026, sehingga konsistensi pengendalian pasokan dinilai menentukan pengaruh terhadap harga internasional.

  • Moratorium perlu mengarahkan investasi ke hilirisasi bernilai tinggi, seperti nikel sulfat, prekursor, katoda, dan baterai, dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi, pasar, serta industri pendukung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Pasar nikel global mengalami surplus sekitar 209 ribu ton. Kontribusi Indonesia terhadap produksi tambang nikel global diperkirakan mencapai 66 persen.

2026

Pasar nikel global diperkirakan kembali surplus sebesar 261 ribu ton. Kontribusi Indonesia terhadap produksi tambang nikel global diproyeksikan meningkat menjadi 68 persen.

Kamis (8/10/2026)

Ekonom menilai moratorium industri nikel setengah jadi dapat membantu menyesuaikan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar, jika disertai pengendalian produksi dan penguatan hilirisasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Moratorium pembangunan industri nikel penghasil produk setengah jadi dinilai dapat membantu mengatasi surplus nikel global, jika disertai pengendalian produksi konsisten dan penguatan hilirisasi.
  • Who?
    Ekonom Unesa Amirusholihin dan ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyoroti rencana moratorium, pengelolaan pasokan, serta pengembangan hilirisasi nikel Indonesia.
  • Where?
    Pembahasan berlangsung di Surabaya, dengan dampak kebijakan dikaitkan pada industri nikel Indonesia dan pasar nikel global, termasuk perdagangan di London Metal Exchange.
  • When?
    Amirusholihin menyampaikan pandangannya pada Kamis, 8 Oktober 2026. Surplus nikel global tercatat sekitar 209 ribu ton pada 2025 dan diperkirakan 261 ribu ton pada 2026.
  • Why?
    Pasar nikel global mengalami kelebihan pasokan yang berpotensi menekan harga. Kapasitas produksi terus bertambah, sementara Indonesia diperkirakan menyumbang 68 persen produksi tambang nikel global pada 2026.
  • How?
    Moratorium dapat membatasi kapasitas baru produk setengah jadi, disertai kuota dan pengendalian produksi. Investasi didorong menuju stainless steel, nikel sulfat, prekursor, katoda, dan sel baterai bernilai tambah tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Nikel di dunia terlalu banyak, jadi harganya bisa turun. Pak Amir dan Pak Yusuf bilang pemerintah bisa menghentikan dulu pembangunan pabrik nikel setengah jadi. Indonesia membuat banyak nikel. Mereka ingin nikel diolah jadi barang lebih berguna, seperti bahan baterai, supaya Indonesia mendapat manfaat lebih besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah surplus nikel global, wacana moratorium membuka ruang bagi Indonesia untuk menata kapasitas produksi secara lebih selaras dengan pasar. Dominasi produksi dunia memberi posisi tawar, sementara peningkatan penerimaan negara dan ekspor menunjukkan sektor ini tetap bernilai. Pengalihan perhatian ke pengolahan bernilai tambah juga mencerminkan peluang memperpanjang manfaat ekonomi di dalam negeri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Rencana moratorium pembangunan industri nikel penghasil produk setengah jadi dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk mengatasi kelebihan pasokan di pasar global. Namun, kebijakan tersebut perlu diikuti konsistensi pengendalian produksi dan penguatan hilirisasi agar Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan baku maupun produk antara.

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Amirusholihin menilai, moratorium memang dapat membantu menyesuaikan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar. Terlebih, pasar nikel dunia masih mengalami surplus yang berpotensi menekan harga komoditas tersebut.

Berdasarkan data International Nickel Study Group (INSG) yang dikutip Amirusholihin, pasar nikel global mengalami surplus sekitar 209 ribu ton pada 2025 dan diperkirakan kembali mencatat surplus sebesar 261 ribu ton pada 2026.

"Kebijakan moratorium sementara terhadap industri nikel setengah jadi dapat dipahami sebagai upaya pemerintah untuk menyesuaikan produksi dengan kondisi pasar. Ketika barang yang diproduksi lebih banyak daripada yang dibutuhkan pasar, harga cenderung turun. Karena itu, pembatasan kapasitas baru untuk produk setengah jadi dapat menjadi instrumen yang rasional," ujarnya, Kamis (8/10/2026).

Amir menilai, posisi Indonesia yang mendominasi produksi nikel dunia memberikan ruang untuk mengelola keseimbangan pasokan dan permintaan. Kontribusi Indonesia terhadap produksi tambang nikel global diperkirakan mencapai 66 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 68 persen pada 2026.

Meski demikian, Amir menyebut keberhasilan pengelolaan nikel tidak cukup diukur dari besarnya volume produksi. Pemerintah perlu memastikan sumber daya mineral yang diekstraksi menghasilkan nilai tambah optimal bagi perekonomian nasional.

"Ukuran keberhasilan kebijakan nikel sebaiknya bukan hanya berapa banyak nikel yang kita produksi, tetapi juga berapa besar nilai tambah yang kita ciptakan di Indonesia," jelasnya.

Ia mendorong pendalaman hilirisasi dari produk setengah jadi menuju produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Pengembangan industri stainless steel, nikel sulfat, prekursor, katoda, hingga baterai dinilai penting untuk memperkuat penguasaan teknologi dan memperbesar manfaat ekonomi di dalam negeri.

Pandangan serupa disampaikan ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Menurutnya, moratorium smelter baru dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki keseimbangan industri nikel nasional, terutama ketika kapasitas produksi terus bertambah di tengah kondisi pasar yang kelebihan pasokan.

Yusuf menilai dominasi Indonesia dalam produksi nikel global perlu diimbangi dengan pengelolaan pasokan yang konsisten. Pembatasan produksi, menurutnya, dapat memengaruhi harga internasional, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kredibilitas dan keberlanjutan kebijakan.

Harga nikel di London Metal Exchange (LME) sempat mendekati 20.000 dolar AS per ton pada Mei setelah kuota bijih nikel Indonesia dipangkas dari 379 juta ton menjadi sekitar 250 juta hingga 260 juta ton. Namun, harga kembali bergerak ke kisaran 16.500 dolar AS per ton ketika pasar meragukan konsistensi pembatasan produksi.

"Kekuatan Indonesia berada pada kemampuan mengelola pasokan secara kredibel, bukan sekadar mengumumkan pembatasan. Konsistensi justru menjadi sumber daya tawar yang paling penting," ujar Yusuf.

Ia menambahkan, pengendalian produksi berpotensi memperkuat penerimaan negara jika mampu menjaga harga pada tingkat yang lebih sehat tanpa menekan volume produksi secara berlebihan. Berdasarkan data yang disampaikannya, penerimaan negara dari sektor nikel hingga 31 Agustus mencapai sekitar Rp21 triliun, atau dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor nikel dan produk turunannya pada semester pertama meningkat 69,3 persen menjadi 6,54 miliar dolar AS.

Yusuf menekankan, moratorium juga perlu diarahkan untuk mengalihkan investasi ke tahap hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih besar. Pengembangan teknologi pengolahan seperti high pressure acid leaching (HPAL), produksi prekursor, katoda, hingga sel baterai dapat memperpanjang rantai nilai industri nikel di dalam negeri.

Namun, ia mengingatkan bahwa investasi baru harus mempertimbangkan kesiapan teknologi, pasar, dan industri pendukung. Tanpa perencanaan yang tepat, penambahan investasi justru berisiko kembali memperbesar kapasitas produk antara yang telah mengalami kelebihan pasokan.

"Untuk sumber daya yang tidak terbarukan, saya setuju dengan logika menahan eksploitasi ketika harga hanya menghasilkan margin yang tipis. Strategi ini efektif jika kebijakan kuota dan moratorium konsisten, serta pemerintah memastikan investasi baru masuk ke tahap pengolahan yang memang belum tersedia, bukan kembali memperbesar kapasitas produk antara," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Bebas Bersarat Bechi Dicabut!08 Oct 2026, 17:28 WIB