Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Durian Kawuk Khas Segulung yang Intens Dikembangkan di Madiun
IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Madiun, IDN Times – Petani hortikultura di Desa Segulung, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, mengembangkan durian varietas kawuk selama dua tahun terakhir. Hingga kini, sekitar 294 pohon telah ditanam dan 94 di antaranya telah berbuah.

Durian jenis ini dijadikan ikon, karena memiliki beberapa keunggulan dibanding varietas lain. Ketua Kelompok Tani ’Setyo Tuhu’ Desa Segulug, Harwadi, mengatakan proses kembang hingga durian kawuk matang, membutuhkan waktu sektiar empat bulan. Tenggang waktu itu relatif lebih cepat dibandingkan varietas lain.

Dari segi kualitas buah, durian jenis ini memiliki daging tebal, kulit tipis, dan rasanya lezat. “Maka, perlu dikembangkan apalagi pihak Dinas Pertanian sudah memfasilitasi untuk sertifikasi pengembangan bibit di Kementerian Pertanian,” kata dia, Sabtu (26/1).

1.Intens dikembangkan dua tahun terakhir

IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Sebenarnya, kata Harwadi, varietas durian kawuk sudah mulai dibudidayakan pada 1997. Namun, tak berapa lama ditinggalkan oleh petani, lantaran harga jualnya rendah dibanding durian jenis lain, seperti raja dan gelatik.

Pada 2017, petani mulai mengembangkan durian kawuk karena Pemerintah Kabupaten Madiun mulai memberikan perhatian. Karena itu, pembibitan dengan menggunakan metode tempel atau okulasi kembali dijalankan petani.

2.Belum lakukan pendataan hasil panen durian

IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Durian kawuk menambah varietas yang dikembangkan di Desa Segulung, Kecamatan Dagangan. Menurut Harwadi, tidak kurang dari 10 ribu pohon durian yang sudah ditanam. Pada musim panen (Januari hingga Maret) hasilnya berkisar 50 hingga 100 buah per pohon.

Dari jumlah itu, Harwadi memperkirakan jumlah total hasil panen durian mencapai 500 ribu hingga 1 juta buah. Dari jumlah itu, maka pendapatan petani di Dusun Segulung sekitar Rp25 hingga Rp50 miliar. Adapun perhitungannya berdasarkan harga satuan durian yang rata-rata Rp50 ribu per buah.

“Gambaran kasarnya seperti itu. Tapi, selama ini kami belum mendata hasil panen apalagi dengan hasil penjualan,’’ ujar pria yang Ketua Paguyuban Durian ‘Wilias Lebar Lodang’ itu.

3.Festival durian untuk menggaet pembeli

IDN Times/Nofika Dian Nugroho

Camat Dagangan, Muhamad Zahrowi, mengatakan tentang luasan lahan kebun durian di wilayahnya mencapai 1.068 hektar. Selama ini, untuk penjualan hasil panen durian mayoritas dibawa ke luar kecamatan.

Kondisi itu dinilai Zarhrowi kurang efektif. Sebab, petani harus keluar modal untuk biaya distribusi.

“Maka, festival kami gelar di Bukit Setepong (Desa Segulung) untuk menarik pembeli datang ke sini,’’ ujar dia sembari menyatakan festival durian sudah dijalankan dua kali ini. 

Editorial Team