Surabaya, IDN Times – “Tuuuut... tuuut... tuuut...” Peluit kereta api memecah percakapan warga Kampung Dupak Magersari, Kota Surabaya, Senin (14/9/2026) malam. Tak lama berselang, bunyi roda besi beradu dengan rel terdengar semakin dekat. “Jeg-jeg-jeg-jeg.”
Dari sebuah bangunan bertuliskan Balai RW, seorang laki-laki berseru, “Awas-awas, sepur!” Sepeda motor yang melintas di sekitar perlintasan segera berhenti. Warga menoleh, memastikan kereta datang dari jalur A atau B. Sesaat, percakapan terhenti. Setelah rangkaian gerbong berlalu, kehidupan kampung kembali berjalan seperti biasa.
Di Dupak Magersari, kewaspadaan telah menjadi bagian dari keseharian. Begitu pula kebiasaan saling mengingatkan, berbagi ruang, dan mengandalkan satu sama lain di tengah permukiman yang padat. Namun, ada hal lain yang membuat kampung di Kecamatan Bubutan, Surabaya, ini menarik. Di sela deru kereta, gang-gang sempit, dan rumah yang berdempetan, warga merawat sesuatu yang menjadi penopang kehidupan mereka. Ekonomi yang tumbuh dari kekuatan sendiri.
Pagi hari, kawasan sekitar rel dapat berubah menjadi pasar tumpah. Pedagang menggelar sayuran dan kebutuhan pangan, sementara warga datang untuk berbelanja. Sebagian lainnya menjalankan usaha dari rumah, mulai dari berjualan makanan hingga memproduksi peralatan dapur berbahan aluminium.
Di kampung ini, rumah tidak selalu sekadar tempat pulang. Bagi sebagian keluarga, rumah juga merupakan toko, tempat produksi, sekaligus ruang untuk mempertahankan penghidupan. Salah satu usaha yang paling lekat dengan identitas Dupak Magersari adalah kerajinan dandang. Warisan yang telah bertahan selama puluhan tahun itu membuat kawasan ini dikenal sebagai Kampung Dandang.
Di tengah perubahan zaman, usaha tersebut masih bertahan. Pesanan datang dari berbagai daerah, bahkan menyeberang pulau. Sementara itu, para pedagang kecil tetap berusaha menjaga perputaran dagangan dengan modal yang terbatas.
Di sinilah cerita ekonomi Dupak Magersari bermula. Bukan dari investasi besar atau berdirinya perusahaan baru, melainkan dari upaya warga mengelola apa yang mereka miliki, saling membantu, dan menciptakan jalan agar penghasilan keluarga tetap berjalan.
Salah satu ikhtiarnya bernama Koperasi Srikandi Kapirel. Koperasi ini berangkat dari kebiasaan sederhana. Menyisihkan Rp2.000 setiap hari. Nominal yang mungkin terlihat kecil, tetapi menjadi awal dari upaya warga membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat hubungan sosial di kampung.
Dalam skala yang lebih luas, praktik tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat hidup melalui kegiatan ekonomi sehari-hari. Gotong royong tidak berhenti pada kerja bakti. Musyawarah tidak hanya berlangsung dalam rapat warga. Keadilan sosial pun tidak semata-mata dibicarakan dalam forum resmi.
Nilai-nilai itu dapat hadir ketika warga mengumpulkan uang bersama, menentukan penggunaannya melalui kesepakatan, lalu memastikan dana yang kembali dapat membantu anggota lainnya.
