Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kasus Bayi Meninggal Diduga Diberi Telur Mentah, IDAI Peringatkan Ini
Ilustrasi bayi (Unsplash.com/Aditya Romansa)
  • IDAI mengingatkan telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung Salmonella, yang dapat memicu diare, demam, muntah, dehidrasi, hingga komplikasi serius pada bayi dan anak.

  • ASI eksklusif direkomendasikan selama enam bulan pertama. MPASI umumnya dimulai usia enam bulan, atau sejak empat bulan hanya atas penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi.

  • Peringatan ini disampaikan setelah bayi A asal Sidoarjo meninggal usai diduga diberi telur mentah; bayi sempat dirawat intensif di NICU RSUD dr Soetomo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times — Kasus tragis menimpa seorang bayi berusia di bawah satu bulan berinisial A asal Sidoarjo, Jawa Timur. Bayi mungil tersebut meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026) setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Soetomo, Surabaya. Korban diduga meninggal usai diberi makan telur mentah oleh sang nenek dengan niat meredakan demam.

Menanggapi kejadian tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara tegas mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak-anak.

1. Kronologi bayi dicekoki telur mentah hingga kritis

ilustrasi bayi sakit jantung (unsplash.com/Christian Bowen)

Kabar mengenai kondisi bayi A sebelumnya sempat viral di media sosial Threads. Sang nenek dikabarkan memberikan telur mentah lantaran percaya bahan makanan tersebut dapat menurunkan suhu tubuh cucunya yang sedang demam.

Bukannya membaik, kondisi kesehatan bayi A justru memburuk hingga harus dilarikan ke beberapa fasilitas kesehatan sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr. Soetomo.

Humas RSUD dr. Soetomo, Adin Niken, membenarkan bahwa pasien bayi A masuk dan mulai ditangani di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) sejak Jumat (9/10/2026).

"Tanggal 9 (masuk RSUD dr. Soetomo), pasien bayi tersebut telah kami layani dan diberikan penanganan medis sesuai kondisi serta kebutuhan medisnya," kata Adin saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026).

Namun, setelah dua hari menjalani perawatan intensif, nyawa bayi A tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026) pukul 07.10 WIB.

2. IDAI peringatkan bahaya infeksi Salmonella pada telur mentah

ilustrasi bakteri salmonella (freepik.com/freepik)

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menyampaikan bahwa IDAI memandang perlu memberikan edukasi mendalam kepada masyarakat mengenai prinsip pemberian makan pada bayi serta bahaya telur mentah.

Piprim menjelaskan bahwa telur mentah atau setengah matang berisiko tinggi mengandung bakteri Salmonella yang memicu infeksi saluran cerna atau salmonelosis.

"Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius," jelas Piprim melalui keterangan tertulis yang diterima IDN Times, Senin (12/10/2026).

3. Bayi di bawah usia 6 bulan hanya butuh ASI eksklusif

Ilustrasi pemberian ASI pada anak diare (Pexels.com/Jonathan Borba)

Piprim menegaskan bahwa bayi berusia di bawah 6 bulan tidak memerlukan makanan atau minuman lain selain ASI—termasuk air putih, jus, kaldu, apalagi telur mentah.

Sesuai panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), makanan pendamping ASI (MPASI) secara umum baru boleh diperkenalkan saat bayi genap berusia 6 bulan.

"Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan," tegas Piprim. Dalam kondisi khusus, MPASI baru bisa dipertimbangkan paling cepat mulai usia 4 bulan (17 minggu) berdasarkan evaluasi klinis dan pertimbangan dokter anak, bukan atas pertimbangan pribadi pengasuh.

4. Cara aman menyajikan telur untuk MPASI anak

Telur matang (unsplash.com/gaffera)

Piprim menambahkan bahwa telur sebenarnya merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan sangat baik untuk tumbuh kembang anak, asalkan disajikan dengan cara yang tepat.

Berikut beberapa rekomendasi dari Pengurus IDAI terkait konsumsi telur pada bayi dan anak:

  • Wajib dimasak matang sempurna: Pastikan bagian putih dan kuning telur benar-benar matang sebelum diberikan kepada anak.

  • Gunakan telur terpasteurisasi: Jika hendak menyajikan hidangan berbahan telur yang tidak dimasak utuh sempurna, gunakan produk telur yang sudah melalui proses pasteurisasi.

  • Jaga kebersihan olahan pangan: Selalu cuci tangan dan peralatan memasak, simpan telur dengan benar, serta hindari mengolah telur yang retak atau rusak untuk mencegah kontaminasi silang.

"Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap praktik pemberian makanan," pungkas Piprim.

Curated For You

Editorial Team

Related Article