Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inflasi Jatim Naik, Dompet Makin Tipis
ilustrasi inflasi (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Inflasi tahunan Jawa Timur pada September 2026 mencapai 3,33 persen, naik dari 2,53 persen setahun sebelumnya; inflasi bulanan tercatat 0,24 persen dan sejak awal tahun 2,07 persen.

  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang tekanan terbesar, dipicu cabai rawit, ayam, daging sapi, beras, minyak goreng, serta produk tembakau.

  • Transportasi terdorong tarif pesawat dan bensin, sementara emas perhiasan memicu inflasi perawatan pribadi; Sumenep mencatat inflasi tahunan tertinggi 3,85 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
September 2024

Inflasi tahunan Jawa Timur tercatat 1,73 persen.

September 2025

Inflasi tahunan Jawa Timur naik menjadi 2,53 persen.

September 2026

Inflasi tahunan Jawa Timur mencapai 3,33 persen, dengan inflasi bulanan 0,24 persen dan inflasi sejak awal tahun 2,07 persen. Tekanan harga didorong makanan, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sumenep mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,85 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Inflasi tahunan Jawa Timur pada September 2026 mencapai 3,33 persen, naik dari 2,53 persen pada September 2025. Inflasi bulanan tercatat 0,24 persen dan inflasi sejak awal tahun 2,07 persen.
  • Who?
    BPS Jawa Timur, dipimpin pelaksana tugas kepala Herum Fajarwati, mencatat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran serta di 11 kabupaten/kota wilayah penghitungan IHK.
  • Where?
    Kenaikan inflasi terjadi di Jawa Timur. Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Sumenep 3,85 persen, sedangkan yang terendah berada di Banyuwangi sebesar 2,69 persen.
  • When?
    Pencatatan inflasi dilakukan pada September 2026, dengan perbandingan terhadap September 2025 dan perkembangan inflasi sejak awal tahun 2026.
  • Why?
    Tekanan inflasi dipicu kenaikan harga cabai rawit, ayam ras, daging sapi, beras, minyak goreng, tembakau, tarif angkutan udara, bensin, serta emas perhiasan.
  • How?
    Indeks Harga Konsumen Jawa Timur mencapai 112,53. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 1,30 persen; transportasi 0,64 persen; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,48 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Harga banyak barang di Jawa Timur naik pada September 2026. BPS bilang kenaikannya 3,33 persen. Cabai rawit, ayam, daging, beras, bensin, tiket pesawat, dan emas jadi lebih mahal. Sumenep paling tinggi kenaikannya. Tapi bawang merah, telur ayam, kelapa, dan cabai merah malah turun harganya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah kenaikan harga yang meluas, data BPS menunjukkan masih ada penyeimbang dari penurunan harga bawang merah, telur ayam ras, kelapa, dan cabai merah secara tahunan. Inflasi bulanan Jawa Timur yang tercatat 0,24 persen juga menggambarkan kenaikan September yang lebih terbatas dibandingkan tekanan tahunan yang sedang berlangsung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Harga-harga di Jawa Timur (Jatim) kembali naik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada September 2026 mencapai 3,33 persen, meningkat cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di level 2,53 persen.

Kenaikan harga ini gak cuma datang dari dapur. Cabai rawit, ayam, daging sapi, beras, bensin, tiket pesawat, hingga emas perhiasan ikut membuat tekanan harga di Jatim makin terasa.

Plt Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati mengatakan, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi secara tahunan pada September 2026. "Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan inflasi tahunan 4,68 persen dan andil 1,30 persen terhadap inflasi Jawa Timur," ujarnya.

Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jatim pada September 2026 mencapai 112,53. Secara bulanan, Jatim mengalami inflasi 0,24 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun atau year to date (ytd) tercatat 2,07 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Inflasi tahunan kelompok ini mencapai 4,68 persen dengan andil 1,30 persen terhadap inflasi Jatim. Sejumlah bahan pangan menjadi pendorong utama. Harga cabai rawit, daging ayam ras, daging sapi, beras, minyak goreng hingga produk tembakau mengalami kenaikan.

Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni 0,21 persen terhadap inflasi tahunan. Berikutnya daging ayam ras sebesar 0,17 persen, daging sapi 0,14 persen, beras 0,13 persen, dan minyak goreng 0,12 persen.

Namun, sumber inflasi ternyata gak berhenti di pasar tradisional. Kelompok transportasi juga mengalami inflasi tahunan cukup tinggi, yakni 5,17 persen dengan andil 0,64 persen terhadap inflasi Jatim.

Kenaikan terutama dipengaruhi tarif angkutan udara dan harga bensin. Keduanya masing-masing memberikan andil 0,25 persen terhadap inflasi tahunan. Selain itu, sepeda motor memberikan andil 0,05 persen dan mobil 0,03 persen.

Kelompok yang mencatat inflasi tahunan paling tinggi justru berasal dari perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 6,73 persen dengan andil 0,48 persen terhadap inflasi Jatim. Salah satu penyebab utamanya adalah harga emas perhiasan. Komoditas tersebut memberikan andil sebesar 0,37 persen terhadap inflasi tahunan Jatim pada September 2026.

Artinya, tekanan harga September bukan cuma soal kebutuhan makan dan transportasi. Harga emas juga ikut berkontribusi terhadap kenaikan inflasi. Meski begitu, gak semua harga kompak naik. Sejumlah komoditas justru mengalami penurunan secara tahunan dan ikut menahan laju inflasi.

BPS mencatat harga bawang merah, telur ayam ras, kelapa dan cabai merah mengalami penurunan dibandingkan September tahun sebelumnya.

Jika ditarik ke belakang, tren inflasi tahunan Jatim menunjukkan kenaikan dalam tiga tahun terakhir. Pada September 2024, inflasi tahunan tercatat 1,73 persen. Angka tersebut kemudian naik menjadi 2,53 persen pada September 2025 dan kembali meningkat menjadi 3,33 persen pada September 2026.

Kenaikan juga terjadi di seluruh 11 kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK di Jatim. Sumenep mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,85 persen dengan IHK 116,36. Posisi berikutnya ditempati Kota Surabaya sebesar 3,68 persen dan Kota Madiun sebesar 3,66 persen. Sementara inflasi tahunan terendah tercatat di Banyuwangi, yakni 2,69 persen dengan IHK 112,85.

Daerah lainnya juga mencatat inflasi tahunan, yakni Kota Kediri 3,38 persen, Kabupaten Gresik 3,19 persen, Kota Malang 3,19 persen, Jember 3,04 persen, Kota Probolinggo 3,01 persen, Bojonegoro 2,91 persen dan Tulungagung 2,85 persen. Untuk inflasi bulanan, Kota Kediri mencatat kenaikan harga tertinggi sebesar 0,41 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi Jatim yang berada di level 0,24 persen.

Curated For You

Editorial Team

Related Article