Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gus Kautsar Buka Opsi Ketum PBNU Dipilih AHWA
Gus Kautsar pengurus ponpes Al Falah, Ploso, Kediri. Foto: tangkapan layar YouTube NU Online
  • Gus Kautsar menilai pemilihan Ketua Umum PBNU melalui AHWA layak dipertimbangkan, tetapi harus dimusyawarahkan dan disetujui muktamirin.
  • Ia menekankan mekanisme, termasuk AHWA atau one man one vote, wajib berorientasi pada kemaslahatan jam'iyyah dan jamaah, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
  • Gus Kautsar tidak mendukung kandidat tertentu maupun maju dalam bursa; Muktamar ke-35 NU di Jombang akan membahas mekanisme pemilihan pada 27-31 Agustus 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jombang, IDN Times - Mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi salah satu isu yang masih terbuka dalam Muktamar ke-35 NU. Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar, menilai opsi pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) layak dipertimbangkan, tetapi keputusan akhirnya harus diserahkan kepada muktamirin.

Gus Kautsar mengatakan gagasan agar Ketua Umum PBNU dipilih melalui AHWA merupakan salah satu opsi yang dapat dimusyawarahkan dalam forum Muktamar. Menurutnya, mekanisme tersebut tidak bisa ditetapkan sepihak tanpa mempertimbangkan pandangan pemilik hak suara.

“Saya pikir merupakan satu ide yang cukup baik. Bagaimana nanti Ketua dipilih oleh AHWA, itu juga salah satu ide yang cukup baik, tapi baru dimusyawarahkan dulu bagaimana muktamirin apakah sepakat dengan itu semua,” ujarnya saat ditemui di lokasi Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).

Menurut dia, mekanisme pemilihan harus dikembalikan pada prinsip kemaslahatan organisasi. Apa pun model yang dipilih, kata Gus Kautsar, orientasinya harus kepentingan jam'iyyah dan jamaah, bukan kepentingan kandidat atau kelompok tertentu.

“Kalau memang itu dipandang oleh muktamirin adalah sebuah kemaslahatan, apa salahnya untuk kemudian dicoba. Yang penting semuanya berbasis kemanfaatan, kemaslahatan, dan li maslahatil jam'iyyah untuk kepentingan jam'iyyah dan jemaah,” katanya.

Gus Kautsar menegaskan muktamirin memiliki ruang untuk menentukan mekanisme yang dinilai paling baik bagi NU. Perdebatan mengenai AHWA maupun mekanisme one man one vote semestinya tidak diarahkan untuk menguntungkan kepentingan personal.

“Bukan li maslahatish syakhshiyyah, bukan untuk kepentingan pribadi-pribadi, tapi ini untuk kepentingan bersama. Mana yang paling baik nanti biar dimusyawarahkan oleh muktamirin,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah menguatnya sejumlah nama dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Beberapa nama yang mencuat antara lain Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Pengasuh Ponpes Mambaul Maarif, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, serta sejumlah tokoh lainnya.

Terkait nama-nama tersebut, Gus Kautsar tidak memberikan dukungan kepada kandidat tertentu. Ia menilai seluruh tokoh yang masuk dalam bursa merupakan putra-putra terbaik NU dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Nama-nama yang ada saya pikir salah satu dari sekian banyak putra-putra terbaik Nahdlatul Ulama. Moga-moga Allah menakdirkan amanah ini berada di pundak beliau yang benar-benar memiliki satu nushhi, satu nasihat, kemauan baik untuk jemaah dan juga jam'iyyah,” tuturnya.

Ia berharap siapa pun yang nantinya terpilih memiliki niat dan kemampuan untuk mengemban amanah organisasi. “Siapa pun saya pikir memiliki kelebihannya masing-masing walaupun mungkin pasti ada kelemahan-kelemahannya, tapi insyaallah yang sudah muncul-muncul ini sudah sangat baik-baik semua,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Gus Kautsar juga menepis anggapan bahwa dirinya mendapat dorongan dari para masyayikh atau kiai sepuh untuk ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU. Ia memastikan hingga kini tidak ada pihak yang memintanya maju.

Ketika ditanya mengenai peluang dirinya masuk bursa, Gus Kautsar justru menolak anggapan tersebut. Ia mengutip ungkapan Arab yang bermakna seseorang dapat tersandung ketika tidak memahami kadar dirinya sendiri.

“Man lam ya'rif qadra nafsihi itu mesti zallat aqdamuhu. Orang itu kalau enggak ngerti kadar dirinya, dia akan mudah terpeleset ketika berjalan,” ujarnya.

Gus Kautsar mengaku memahami keterbatasan dirinya dan tidak ingin mengambil posisi yang dinilai melampaui kapasitasnya. “Kami tahu betul bahwa kelemahan kami jauh lebih besar daripada apa yang bisa kami lakukan. Jadi enggak, enggak ada itu. Sampai sementara enggak ada,” pungkasnya.

Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu keputusan penting yang akan dibahas dalam forum tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article