Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dua Kasus Bayi dan Janin di Kediri, Apa Motif Empat Tersangka?
Konferensi pers Polres Kediri di Aula Wicaksana Laghawa Polres Kediri. Dok. Polres Kediri.
  • Polisi Kediri mengungkap dua kasus berbeda terkait kematian bayi dan aborsi, dengan empat tersangka yang disebut sama-sama takut kehamilan diketahui keluarga.

  • Dalam kasus di Pare, TW dan DA diduga menyebabkan bayi laki-laki meninggal setelah dilahirkan lalu menguburkannya diam-diam; keduanya dijerat KUHP dan UU Perlindungan Anak.

  • Di Pagu, AW dan RGP diduga menggugurkan kandungan lalu membuang janin lima bulan di tepi jalan; polisi menjerat keduanya dengan UU Perlindungan Anak dan KUHP.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
3 Oktober 2026

TW melahirkan bayi laki-laki di kamar mandi rumahnya di Desa Tunglur, Kecamatan Badas. Bayi tersebut meninggal sesaat setelah dilahirkan.

4 Oktober 2026

DA membawa jasad bayi dan menguburkannya secara diam-diam di belakang rumah di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare.

7 Oktober 2026

Polres Kediri memaparkan pengungkapan dua perkara kematian bayi dan aborsi dalam konferensi pers. Polisi menetapkan TW, DA, AW, dan RGP sebagai tersangka dalam dua kasus berbeda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Polisi mengungkap dua perkara di Kabupaten Kediri: kematian bayi laki-laki sesaat setelah lahir serta aborsi dan pembuangan janin laki-laki berusia sekitar lima bulan.
  • Who?
    TW (23) dan DA (22) menjadi tersangka perkara kematian bayi. AW (20) dan RGP (20) menjadi tersangka perkara aborsi serta pembuangan janin.
  • Where?
    Perkara pertama berkaitan dengan Desa Tunglur, Kecamatan Badas, dan Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. Janin ditemukan di tepi jalan Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu.
  • When?
    TW melahirkan pada 3 Oktober 2026 sekitar pukul 03.30 WIB, sedangkan jasad bayi dikuburkan 4 Oktober 2026 sekitar pukul 19.00 WIB. Polisi memaparkan perkara pada 7 Oktober 2026.
  • Why?
    Polisi menyebut para tersangka takut kehamilan dan kelahiran diketahui keluarga. Pada perkara kedua, AW dan RGP disebut belum siap menikah serta ingin menyembunyikan kehamilan.
  • How?
    Polisi menangkap empat tersangka setelah penyelidikan. TW diduga menyebabkan bayinya meninggal, lalu DA menguburkannya diam-diam. AW diduga mengonsumsi obat penggugur kandungan bersama RGP, kemudian janin dibuang di tepi jalan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Kediri, polisi menangkap empat orang dari dua kejadian. Sepasang pacar diduga membuat bayi mereka meninggal lalu menguburkannya diam-diam. Pasangan lain diduga menggugurkan kandungan dan membuang janin di tepi jalan. Mereka takut keluarga tahu tentang kehamilan. Sekarang polisi menangani kedua perkara ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pengungkapan dua perkara ini menunjukkan kerja penyelidikan kepolisian yang mampu menelusuri peristiwa tragis hingga menetapkan para pihak yang terlibat sebagai tersangka. Proses hukum yang diterapkan juga menegaskan adanya perlindungan bagi anak, sekaligus menghadirkan pesan jelas bahwa persoalan kehamilan perlu dihadapi tanpa menempuh tindakan yang melanggar hukum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kediri, IDN Times - Dua kasus tragis yang menimpa bayi dan janin terungkap di Kabupaten Kediri. Dalam dua perkara berbeda, polisi menangkap empat orang yang terlibat dalam kematian bayi sesaat setelah dilahirkan serta aborsi dan pembuangan janin.

Ironisnya, kedua kasus tersebut memiliki motif serupa. Para pelaku disebut polisi sama-sama diliputi ketakutan kehamilan mereka diketahui keluarga.

Kapolres Kediri AKBP Muh. Wahyudin Latif mengatakan, dua perkara tersebut diungkap jajarannya dan dipaparkan dalam konferensi pers di Aula Wicaksana Laghawa Polres Kediri, Rabu (7/10/2026).

Kasus pertama terjadi di wilayah Kecamatan Pare. Polisi menetapkan pasangan kekasih berinisial TW (23) dan DA (22) sebagai tersangka. Keduanya telah menjalin hubungan selama sekitar dua tahun dan disebut berencana melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun, situasi berubah setelah TW diketahui hamil.

Pada Sabtu (3/10/2026) sekitar pukul 03.30 WIB, TW melahirkan bayi laki-laki di kamar mandi rumahnya di Desa Tunglur, Kecamatan Badas. Polisi menyebut TW kemudian melakukan tindakan yang menyebabkan bayinya meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan karena khawatir kelahiran tersebut diketahui orang tua.

Jasad bayi kemudian dibawa DA pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Bayi tersebut dikuburkan secara diam-diam di belakang sebuah rumah di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. "Karena takut kehamilan dan kelahiran ini ketahuan oleh orang tua, para pelaku sengaja berniat merampas nyawa bayi yang dikandung sesaat setelah dilahirkan," ujarnya.

TW dan DA kini dijerat Pasal 460 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP serta Pasal 80 ayat (3) dan (4) juncto Pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Kasus kedua tak kalah menggegerkan. Warga Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, dibuat geger setelah menemukan janin bayi laki-laki berusia sekitar lima bulan di tepi jalan.

Dari penyelidikan, polisi kemudian mengarah kepada pasangan muda berinisial AW (20) dan RGP (20). Polisi menyebut AW mengonsumsi obat untuk menggugurkan kandungan karena keduanya belum siap menikah dan ingin menyembunyikan kehamilan. Setelah janin keluar, keduanya sempat menyimpannya sebelum kemudian membuangnya di tepi jalan wilayah Bulupasar.

Atas perkara tersebut, AW dan RGP dijerat Pasal 77A ayat (1) juncto Pasal 45A UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 464 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Kapolres Kediri menegaskan kedua perkara tersebut menjadi peringatan agar persoalan kehamilan tidak diselesaikan dengan mengambil jalan yang melanggar hukum. "Jaga pergaulan dan pahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Jika menghadapi persoalan, jangan pernah mengambil jalan pintas yang melanggar hukum," tegas Latif.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Bebas Bersarat Bechi Dicabut!08 Oct 2026, 17:28 WIB