Surabaya, IDN Times - Momen wisuda Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ke-134 menjadi hal yang sangat spesial bagi bapak dan anak Dr Ir Suroso ST MM IPM dan Najwan Raditya Abiyoga ST. Sebab, keduanya sedang sama-sama diwisuda di Graha Sepuluh Nopember ITS, Sabtu (3/10/2026).
Suroso menceritakan bahwa Departemen Teknik Mesin ITS merupakan almamater yang melatarbelakangi perjalanan karirnya di dunia rekayasa dan industri ketenagalistrikan. Ia menempuh pendidikan di ITS pada 1989 dan lulus di tahun 1994. Tak berhenti di sana, ia juga telah menuntaskan studi magister di salah satu kampus swasta. Di tengah puncak karirnya, Suroso akhirnya kembali ke kampus ITS untuk melanjutkan pendidikan doktoral di Departemen Teknik Mesin.
“Keputusan yang berat, namun saya berambisi untuk mendalami teknologi baterai sekaligus menjadi teladan bagi anak dan pegawai di lingkungan kerja saya,” ungkapnya.
Menurutnya, ITS bukan hanya sekadar kampus, tapi juga merupakan ruang baginya untuk membentuk pola pikir sebagai seorang insinyur. Fondasi tersebut rupanya berhasil ia cerminkan dalam perannya sebagai seorang ayah yang menginspirasi sang anak, Najwan.
Dalam bimbingannya ia tidak pernah memaksakan, namun juga tidak menyembunyikan betapa dirinya mencintai bidang tersebut. Dengan konsistensi dan keberhasilan karir yang ditempuhnya, Suroso menilai bahwa hal itulah yang akhirnya menular pada sang anak.
“Bukan dari instruksi, tapi dari apa yang dilihat olehnya sehari-hari di rumah, kantor, organisasi, atau lingkungan saya berkiprah,” cerita Suroso.
Hal tersebut pun turut diungkapkan oleh Najwan tentang bagaimana ayahnya menjadi teladan yang menginspirasi dirinya untuk berkuliah juga di almamater yang sama, Teknik Mesin ITS. Sejak kecil, ia telah terbiasa memperhatikan aktivitas sang ayah ketika mengerjakan hal-hal teknis.
“Jadi ayah senang mengajari saya memperbaiki dan mengakali sesuatu di rumah, mengajak ke tempat kerja untuk memperlihatkan apa yang dikerjakannya,” tuturnya.
Melalui kebiasaan kecil tersebut rupanya menumbuhkan rasa ketertarikan dan penasarannya terhadap dunia engineering. Hingga akhirnya, anak lelaki pertama itu melabuhkan ITS sebagai tempatnya menempuh pendidikan tinggi yang sama seperti ayahnya.
“Meski mengikuti jejak ayah, saya juga ingin membuktikan bahwa saya bisa membangun jejak sendiri di bidang yang sama,” imbuh Najwan.
Pemikiran tersebut ternyata juga telah ditanamkan oleh Suroso kepada anaknya, bahwa jalan yang ditempuh tidak harus sama dengan apa yang telah dilaluinya. “Yang saya tekankan adalah konsistensi, disiplin, kreativitas dan rasa ingin tahu sebagai satu pedoman penting,” tegas Suroso meyakinkan.
Suatu kebanggaan tersendiri diungkapkan oleh Najwan ketika melihat dedikasi orang tuanya dalam pendidikan. Di tengah kesibukan dan usia yang tidak lagi muda, Suroso berhasil menjadi contoh bagi anak-anaknya dalam menuntaskan disertasi sebagai tanggung jawab akademik.
Hal tersebut pun berhasil membuka cara pandang Najwan soal pendidikan. Dari ayahnya, ia melihat bagaimana belajar bukan sekadar mencari gelar, namun rasa ingin tahu yang tak boleh habis untuk ditimba. “Selain itu, kegigihan, kerja keras, dan komitmen untuk selalu menuntaskan apa yang sudah dimulai berhasil tertanam dalam benak saya,” tuturnya.
Keduanya juga membagikan kebersamaan selama proses pengerjaan tugas akhir (TA) ataupun disertasi. Momen tersebut jadi cerita tak terlupakan saat keduanya duduk di meja yang sama dan begadang menghadapi tenggat waktu mengerjakan TA dan disertasi. “Sering kali laptop Najwan jadi lelet dan laptop saya sering galat karena sama-sama mengolah data-data yang besar,” papar Suroso menceritakan momen berkesan tersebut.
Dengan pengalaman panjangnya, Suroso berupaya untuk selalu jadi teman diskusi bagi Najwan, bukan sebagai seorang ‘guru’ yang selalu memiliki jawaban. “Rasanya seperti kembali jadi mahasiswa bersama anak sendiri yang sedang berjibaku menyelesaikan tugas, bukan seperti orang tua dan anak,” ungkapnya.
Berkat hal tersebut, momen wisuda bersama yang sebelumnya tak pernah terbayangkan pun menjadi kenyataan di depan mata. Bukan sekadar kebetulan, Suroso dan Najwan ternyata juga telah sepakat untuk mengejar momen wisuda bersama saat masa studi keduanya tersisa satu semester.
Lebih lanjut, kebahagiaan tak terhingga menantikan bagaimana momen wisuda kali ini akan berbagi bersama anaknya di panggung dan hari yang sama. Hal tersebut, menurut Suroso, jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan.
“Rasanya seperti dua babak perjalanan pendidikan dalam satu keluarga berakhir dan dimulai hari yang sama,” tuturnya bahagia.
Melalui kisah wisuda bersama ini, Suroso ingin Najwan dan anak-anaknya melihat bahwa belajar tidak kenal batas usia, dan mengejar ilmu adalah sebuah perjalanan seumur hidup. “Selain itu, kuliah juga bukanlah sekadar kewajiban masa muda yang selesai begitu wisuda,” pungkas Suroso.
