Jombang, IDN Times - Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah, TGH Ma’arif Makmun, meminta pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dilakukan secara serius. Menurutnya, AHWA tidak cukup hanya diisi ulama senior, tetapi harus memiliki kapasitas keilmuan, kesalehan, kewaraan, serta kemampuan membaca kebutuhan NU ke depan.
Pandangan tersebut disampaikan TGH Ma’arif saat menjadi narasumber dalam talkshow Mimbar Muktamar NU yang digelar Suluh Nahdliyin bersama Gerakan Nahdliyin Bersatu di Ponpes Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).
TGH Ma'arif bilang, AHWA memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kepemimpinan Syuriyah NU. Figur yang masuk dalam forum tersebut harus benar-benar memiliki otoritas keilmuan dan integritas moral.
“Jangan sampai kita salah pilih AHWA. AHWA kan melihat siapa ulama yang layak duduk di Rais Syuriah (Rais Aam). Ketiga, memiliki kejelian mencari sosok pemimpin. La ya’riful wali illal wali,” kata Ma’arif.
Ia menilai ulama yang menjadi bagian dari AHWA harus mampu melihat persoalan NU secara lebih luas, termasuk membaca tantangan organisasi dan menentukan figur yang dinilai paling tepat memimpin NU.
Dalam konteks tersebut, Ma’arif menyebut sejumlah nama ulama yang menurutnya memiliki kapasitas untuk menjadi representasi dalam AHWA. Di antaranya KH Said Aqil Siroj, KH Nurul Huda Jazuli, KH Asep, dan pakar ushul fikih KH Afifuddin Muhajir. Ia juga menyebut terdapat ulama dari Aceh yang dinilainya memiliki kapasitas serupa.
“Kiai Said Aqil Siroj, Kiai Nurul Huda Jazuli, kesalehan, keilmuannya dan kewaraannya tidak diragukan lagi. Ada juga KH Asep. Beliau itu membentuk Pergunu tanpa peran PBNU. Lalu ada juga ahli ushul fikih, KH Afifuddin Muhajir, ada juga dari Aceh,” katanya.
Bagi Ma’arif, kualitas AHWA akan berpengaruh terhadap kualitas keputusan kepemimpinan NU. Ia menilai forum tersebut harus mampu memilih Rais Aam yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga mampu membaca perubahan dan kebutuhan organisasi.
Ia bahkan mendorong agar NU memiliki figur pembaru yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan tradisi keilmuan yang menjadi akar organisasi.
Ma’arif mengibaratkan kebutuhan tersebut dengan konsep mujaddid dalam sejarah Islam. Ia menyebut Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Suyuthi sebagai contoh ulama yang memiliki peran dalam menjaga sekaligus memperbarui khazanah keislaman.
“Di Islam ada mujaddid Islam, ada Imam Ahmad bin Hanbal, ada Imam Suyuthi dan lainnya. Karena itu di NU juga perlu mujaddid, dan itu ada di sosok-sosok AHWA,” tuturnya.
Namun, ia tidak menyebut figur tertentu yang menurutnya paling layak menjadi Rais Aam. Ma’arif menyerahkan keputusan tersebut kepada proses Muktamar dan mekanisme yang disepakati para muktamirin.
“Saya yakin nanti akan muncul, tapi siapa? Wallahu a’lam,” pungkasnya.
Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Salah satu agenda penting forum tersebut adalah penentuan kepemimpinan NU, termasuk Rais Aam melalui mekanisme AHWA.
