Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Berjuang Menjaga Ingatan
Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan memanjatkan doa di Gate 13 Stadion Kanjuruhan. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
  • Empat tahun setelah Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang, keluarga korban menggelar doa dan peringatan untuk menjaga ingatan publik serta menuntut keadilan.

  • Cholifah Nur menilai aktor lapangan dan intelektual belum dihukum, sehingga keluarga korban akan terus memperjuangkan pengakuan tanggung jawab negara atas tragedi tersebut.

  • Meski masih mengalami trauma mendalam karena kehilangan anak tunggalnya, Cholifah berharap 1 Oktober menjadi Hari Tanpa Sepak Bola Dunia sebagai pelajaran pencegahan tragedi serupa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Malang, IDN Times - Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 jiwa telah berlalu selama 4 tahun. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya tragedi yang berlalu begitu saja, tapi bagi keluarga korban ini adalah trauma seumur hidup. Selama 4 tahun mereka mati-matian menjaga ingatan bahwa sanak saudaranya tewas saat mendukung tim sepak bola kesayangannya.

1. Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan masih belum merasakan keadilan

Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan, Cholifah Nur. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Sejak pagi Cholifah Nur sudah sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan untuk peringatan 4 tahun Tragedi Kanjuruhan di Stadion Kanjuruhan pada Kamis (1/10/2026). Ibu dari almarhum Jovan Revalino ini mengatakan jika sejak siang ada banyak kegiatan keagamaan di Gate 13 dan Halaman Stadion Kanjuruhan.

"Kegiatannya mulai habis Dzuhur itu ada khataman, kita datangkan dari pesantren sebanyak 10 orang. Terus nanti menjelang Maghrib isoma dulu. Sampai habis itu shalawatan dan mubaligh (pendakwah)," terangnya.

Perempuan yang akrab disapa Ifa ini mengatakan jika semua kegiatan ini agar masyarakat Indonesia tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan. Oleh karena itu setiap Sabtu Kliwon mereka terus mengadakan doa bersama, san puncaknya peringatan Tragedi Kanjuruhan yang diadakan tepat di tanggal kejadian keluarga mereka meninggal.

"Memang kita mengupayakan ini harus terjadi dan enggak boleh dilupakan. Kita menolak lupa, merawat ingatan Tragedi Kanjuruhan itu untuk biar semua orang, yang namanya Forkopimda atau pejabat-pejabat. Mengenalkan kepada mereka di Malang pernah terjadi kasus besar yang menghabiskan bukan 1 atau 2 orang saja, tapi 135 orang," jelas Sekretaris Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) ini.

Apalagi Ifa menegaskan jika mereka belum mendapatkan keadilan dari Tragedi Kanjuruhan. Ia merasa aktor-aktor lapangan dan aktor-aktor intelektual Tragedi Kanjuruhan belum dihukum. Oleh karena itu, ia akan terus bersuara demi keadilan untuk putranya.

"Kami sampai saat ini masih mengharap keadilan buat anak-anak dan saudara kami. Sampai negara menyatakan bersalah kepada kasus ini, kita ya tetap (berjuang). Gimana caranya ya nanti kita diskusikan bersama keluarga yang lain," tegasnya.

2. Ifa berharap 1 Oktober jadi hari Tanpa Sepak Bola di dunia

Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan memanjatkan doa di Gate 13 Stadion Kanjuruhan. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Selain memperjuangkan dari sisi hukum, Ifa juga berharap jika Tragedi Kanjuruhan bisa jadi sejarah sepak bola dunia. Sehingga tragedi terus bisa menjadi pelajaran agar tidak ada lagi kejadian yang sama kedepannya.

"Saya mau tanggal 1 Oktober jadi Hari Tanpa Bola Dunia kalau bisa. Ini kan masih Indonesia atau masih di Malang memang sudah ditiadakan kalau 1 Oktober, tapi saya maunya dunia gitu," jelasnya.

3. Ifa masih merasakan trauma meski sudah 4 tahun berlalu

Gate 13 Stadion Kanjuruhan usai direnovasi. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Lebih lanjut, Ifa mengungkapkan jika ia masih merasakan trauma mendalam meskipun Tragedi Kanjuruhan sudah berlalu selama 4 tahun. Tapi ia merasa harus terus berjuang demi putranya yang menjadi korban Tragedi Kanjuruhan.

"Saya sebenarnya juga enggak kuat, karena anak saya cuma satu, anak tunggal. Tapi saya kalau keterusan enggak kuat, ya terus yang menyuarakan siapa? Kalau sama-sama enggak kuat ya saya kuat-kuatkan," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article