Comscore Tracker

Gelar Aksi, Jurnalis Malang Raya Kecam Tindakan Represif Aparat

Berharap polisi mengusut tuntas kekerasan kepada wartawan

Malang, IDN Times - Beberapa waktu terakhir banyak laporan kekerasan terhadap wartawan saat meliput unjuk rasa tolak omnibus law UU Cipta Kerja. Hal itu membuat Solidaritas Jurnalis Malang Raya menggelar aksi protes di depan Balai Kota Malang, Senin (19/10/2020). Mereka turun ke jalan, menyuarakan agar polisi lebih mengerti UU Pers dan mengusut tuntas setiap kekerasan yang dialami jurnalis.

1. Lakukan aksi diam

Gelar Aksi, Jurnalis Malang Raya Kecam Tindakan Represif AparatSolidaritas Jurnalis Malang Raya melakukan aksi menolak tindak represif kepada jurnalis. IDN Times/ Alfi Ramadana

Sejumlah jurnalis yang terlibat dalam protes tersebut melakukan aksi diam dengan membawa berbagai macam poster kecaman. Mereka mengecam aksi dari petugas keamanan yang menghalangi, serta melakukan tindakan represif kepada jurnalis yang sedang bertugas. Padahal,  jurnalis yang bertugas itu sudah dilengkapi dengan tanda pengenal. 


"Kami memprotes keras tindakan represi ataupun perlakuan oleh pihak kemanan saat aksi unjuk rasa omnibus law lalu. Tidak hanya aksi represif kepada rekan-rekan jurnalis, tetapi juga kepada semua orang yang ikut dalam aksi," papar koordinator Solidaritas Jurnalis Malang Raya, Zainul Arifin.

2. Kerja jurnalis dilindungi undang-undang

Gelar Aksi, Jurnalis Malang Raya Kecam Tindakan Represif AparatSejumlah jurnalis melakukan aksi diam mengecam aksi kekerasan kepada jurnalis. IDN Times/ Alfi Ramadana

Lebih jauh, Zainul menjelaskan bahwa kerja jurnalistik diatur dan dilindungi oleh UU Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap orang yang berusaha menghalangi, melakukan pemberedelan, hingga menyensor kerja-kerja jurnalistik, maka bisa dipidana. Jurnalis juga berhak untuk memperoleh, mencari, dan menyebarluaskan informasi sesuai dengan peraturan yang ada. 

"Siapapun yang menghalang-halangi atau melarang kerja jurnalistik yang diatur oleh UU pers bisa dipidana 2 tahun dan denda maksimal Rp 500 juta," tambahnya. 

Baca Juga: Catatan Dugaan Kekerasan Polisi Pada Aksi Tolak Omnibus Law di Grahadi

3. Minta kepolisian usut tuntas

Gelar Aksi, Jurnalis Malang Raya Kecam Tindakan Represif AparatJurnalis Malang Raya melakukan aksi mengecam kekerasan terhadap sejumlah jurnalis. IDN Times/ Alfi Ramadana

Di sisi lain, Zainul menyebut bahwa sebagai sesama jurnalis, dirinya meminta Polri untuk mengusut kekerasan yang dialami para pewarta tersebut. Sebab, kejadian tersebut tidak hanya berlangsung sekali, namun berulang dari waktu ke wakti. Seperti pada saat aksi tolak reformasi UU KPK dulu juga ada beberapa jurnalis yang diminta polisi untuk menghapus video unjuk rasa hasil liputan.

"Ini adalah sebuah preseden yang terus berulang. Maka tuntutan kami jelas, meminta kepolisian untuk mengusut kasus ini, serta memberikan pemahaman termasuk institusi kepolisian sampai ke personelnya tentang UU Pers. Agar ke depannya bisa melindungi kerja jurnalistik, agar tidak dihantam dengan seenaknya sendiri," sambungnya. 

4. Minta perusahaan media tanggung jawab pada jurnalisnya

Gelar Aksi, Jurnalis Malang Raya Kecam Tindakan Represif AparatSejumlah jurnalis melakukan aksi diam mengecam aksi kekerasan kepada jurnalis. IDN Times/ Alfi Ramadana

Tak hanya itu saja, Zainul meminta perusahaan media untuk bertanggung jawab penuh terhadap jurnalisnya. Terutama memprioritaskan keselamatan jurnalis dan memberikan pendampingan hukum terhadap setiap jurnalis ketika mengalami kekerasan.

"Kami mengimbau pada teman-teman untuk tetap patuh terhadap UU Pers. Serta tidak perlu takut ketika mengalami kekerasaan dan melaporkan apa yang terjadi," tandasnya. 

Baca Juga: Jurnalis Surabaya Diintimidasi saat Liput Demo, Kapolres Mohon Maklum

Artikel ini pertama kali ditulis oleh Alfi Ramadana di IDN Times Community dengan judul Kecam Tindakan Represif, Jurnalis Malang Raya Gelar Aksi

Topic:

  • Dida Tenola

Berita Terkini Lainnya