Kota Batu selama ini dikenal sebagai kota dengan banyak destinasi wisata liburan yang populer. Tapi di balik itu, Batu juga menyimpan sisi sejarah dan budaya yang jarang disorot, salah satunya lewat keberadaan Klenteng Kwan Im Tong. Meski tidak semegah klenteng di kota besar, tempat ibadah ini punya banyak fakta unik yang menarik untuk diketahui.
7 Fakta Menarik Klenteng Kwan Im Tong Kota Batu yang Jarang Diketahui Orang

Intinya sih...
Klenteng Kwan Im Tong adalah satu-satunya klenteng di Kota Batu, menjadi pusat ibadah dan titik berkumpul komunitas Tionghoa.
Lokasinya strategis di Perempatan BCA, tenang meski berada di persimpangan jalan utama, dan memiliki patung Dewi Kwan Im berusia 100 tahun.
Tempat pembakaran hiol terbuat dari cetakan semen, menyimpan 60 patung dewa-dewi asli dari Tiongkok, dulunya hanya sebuah rumah tinggal, dan mengadakan pertunjukan Wayang Titi.
1. Satu-satunya Klenteng di Kota Batu
Kalau bicara soal tempat ibadah di Kota Batu, mayoritas orang biasanya langsung terpikir gereja atau masjid. Maklum saja, dua tempat ibadah ini memang paling mudah ditemui hampir di setiap sudut kota. Tapi jarang yang tahu, Batu ternyata juga punya satu klenteng, yakni Klenteng Kwan Im Tong, yang hingga kini masih menjadi satu-satunya klenteng di wilayah tersebut.
Keberadaan klenteng ini terbilang cukup unik, mengingat jumlah penganut Tri Dharma di Batu tidak sebanyak di kota besar seperti Malang atau Surabaya. Justru karena jumlahnya terbatas, Klenteng Kwan Im Tong memiliki peran penting sebagai pusat ibadah sekaligus titik berkumpul komunitas Tionghoa di Batu. Bukan hanya tempat sembahyang, klenteng ini juga menjadi simbol keberagaman dan bukti bahwa sejak dulu Batu sudah dihuni oleh berbagai latar belakang budaya dan kepercayaan.
2. Berada di Perempatan BCA
Salah satu hal menarik dari Klenteng Kwan Im Tong adalah lokasinya yang sangat strategis, karena berada tepat di pojok perempatan besar yang dikenal warga Batu sebagai Perempatan BCA. Disebut demikian karena di salah satu sudut perempatan ini berdiri kantor BCA yang sudah lama di daerah tersebut. Perempatan ini menuju ke berbagai arah penting, mulai dari menuju kawasan wisata Selecta, Songgoriti, hingga ke alun-alun Kota Batu.
Menariknya, meski berada di persimpangan jalan utama yang hampir selalu ramai kendaraan, suasana di dalam klenteng justru terasa tenang, sunyi, dan jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas. Bahkan, tidak sedikit orang yang setiap hari melewati lokasi ini tanpa menyadari bahwa bangunan tersebut adalah klenteng. Hal ini karena tampilan luarnya cukup sederhana, tidak terlalu mencolok, dan menyatu dengan bangunan di sekitarnya. Justru kesan inilah yang membuat klenteng ini terasa unik dibanding klenteng pada umumnya.
3. Ada patung Dewi Kwan Im berusia 100 tahun
Daya tarik utama Klenteng Kwan Im Tong terletak pada patung Dewi Kwan Im yang menjadi pusat pemujaan umat. Patung ini terbuat dari kayu cendana dengan tinggi sekitar 30 sentimeter dan didatangkan langsung dari Tiongkok. Meski ukurannya tidak besar, patung ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena usianya diperkirakan sudah lebih dari 100 tahun.
Keberadaan patung ini bukan hanya dianggap sebagai objek ibadah, tetapi juga sebagai peninggalan bersejarah yang dijaga dengan baik. Menariknya, meskipun sudah berusia lebih dari satu abad, kondisi patung Dewi Kwan Im ini masih terawat dengan baik. Banyak pengunjung yang merasakan kesakralan dari patung tersebut, seolah menjadi simbol ketenangan dan perlindungan bagi siapa pun yang datang untuk berdoa.
4. Hiol dari cetakan semen
Biasanya, tempat pembakaran hiol di klenteng identik dengan bejana besar berbahan kuningan atau logam yang terlihat megah. Namun, di Klenteng Kwan Im Tong, tempat pembakaran hiol justru terbuat dari cetakan semen yang tampilannya jauh lebih sederhana.
Secara visual memang tidak terlalu mencolok, tetapi fungsinya tetap sama, yaitu sebagai tempat umat menancapkan dupa setelah berdoa. Kesederhanaan ini justru menjadi ciri khas klenteng Kwan Im Tong, yang sejak awal lebih menekankan pada makna spiritual dan fungsi ibadah dibanding dekorasi. Dari sini terlihat bahwa nilai utama klenteng ini bukan terletak pada kemegahan bangunan, melainkan pada ketenangan dan kekhusyukan untuk para pengunjung.
5. Menyimpan 60 patung dewa-dewi
Bukan hanya patung Dewi Kwan Im, Klenteng Kwan Im Tong juga menyimpan sekitar 60 patung dewa-dewi yang tersebar di berbagai sudut ruang ibadah. Sebagian besar patung tersebut merupakan patung asli dari Tiongkok, yang dibawa secara bertahap oleh para pengurus dan umat sejak klenteng ini berdiri.
Berbagai Dewa hingga berbagai figur pelindung dalam kepercayaan Tri Dharma, semuanya memiliki fungsi dan makna masing-masing bagi umat yang bersembahyang. Jumlah patung ini terbilang cukup banyak untuk ukuran klenteng kecil di kota wisata seperti Batu. Justru karena itulah, klenteng ini menjadi daya tarik tersendiri, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan budaya Tionghoa bagi pengunjung yang ingin melihat langsung.
6. Dulunya hanya sebuah rumah tinggal
Fakta paling menarik dari Klenteng Kwan Im Tong adalah bahwa bangunan ini awalnya bukan tempat ibadah, melainkan hanya sebuah rumah tinggal biasa. Rumah ini merupakan milik seorang warga Tionghoa bernama Tjoa Tjawan Djie, yang menetap di Batu pada masa pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an. Karena merupakan pengikut setia YM Dewi Kwan Im, Tjoa menyediakan satu ruang khusus di rumahnya sebagai tempat pemujaan pribadi.
Seiring waktu, semakin banyak warga yang datang untuk ikut bersembahyang. Dari yang awalnya hanya bersifat pribadi, tempat ini perlahan berubah menjadi pusat ibadah bersama. Hingga akhirnya, sekitar tahun 1960-an, rumah tersebut resmi direnovasi dan difungsikan sebagai Klenteng Kwan Im Tong seperti yang dikenal sekarang. Menariknya, meski telah berubah fungsi, arsitektur aslinya tetap dipertahankan tanpa banyak perubahan besar. Inilah yang membuat tampilannya tidak semegah klenteng-klenteng di kota besar.
7. Ada Pertunjukan Wayang Titi
Di bulan-bulan tertentu, terutama saat perayaan besar, Klenteng Kwan Im Tong kerap mengadakan pertunjukan Wayang Titi, yaitu pertunjukan boneka khas Tiongkok yang dimainkan di atas panggung kecil. Pertunjukan ini biasanya menarik perhatian tidak hanya umat, tetapi juga warga sekitar yang penasaran dengan kesenian tradisional tersebut.
Wayang Titi tidak sekadar menjadi hiburan semata. Cerita yang dibawakan umumnya mengandung pesan moral, nilai kehidupan, serta ajaran yang berkaitan dengan kepercayaan Tri Dharma. Karena tidak digelar secara rutin setiap bulan, pertunjukan ini terbilang cukup langka. Justru karena sifatnya yang jarang inilah, Wayang Titi di klenteng ini selalu dinantikan dan dianggap sebagai momen spesial bagi pengunjung.
Klenteng Kwan Im Tong mungkin bukan destinasi wisata utama di Batu, tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Dari sejarahnya yang berawal dari rumah tinggal, koleksi patung, sampai tradisi yang masih dijaga sampai sekarang, menjadi bukti bahwa Batu bukan cuma soal tempat liburan, tapi juga tentang keberagaman budaya yang hidup berdampingan dengan keseharian warganya.