Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

6 Masjid Berusia Lebih dari Seabad di Surabaya

Ilustrasi masjid. (Pixabay/qkcreativity92)
Ilustrasi masjid. (Pixabay/qkcreativity92)

Jawa Timur tidak bisa dipisahkan dari sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia. Tak heran jika banyak masjid di provinsi ini yang telah berusia ratusan tahun. Ibu kota Provinsi Jatim, yaitu Surabaya juga memiliki sejumlah masjid dengan usia lebih dari seabad. Tak cuma bisa buat beribadah, kalian juga bisa menikmati arsitektur bangunan yang unik. 

Jika kalian penasaran di mana saja lokasi masjid tersebut, langsung saja simak 6 masjid berusia lebih dari seabad di Surabaya berikut ini, ya.

1.Masjid Ampel

Masjid Ampel. Facebook/Piknik Yuk
Masjid Ampel. Facebook/Piknik Yuk

Masjid yang berlokasi dua kilometer dari Jembatan Merah ini dibangun pada 1421 oleh Sunan Ampel. Awal mulanya, Sunan Ampel datang ke Pulau Jawa atas perintah Raja Brawijaya dalam rangka menyebarkan Islam dan memperbaiki moral para bangsawan Majapahit.

Karena menyanggupi perintah tersebut, Sunan Ampel kemudian diberi tanah seluas 12 hektare di daerah Ampel Denta. Selama masa perkembangannya, kompleks masjid ini telah mengalami perluasan selama beberapa kali.

Masjid yang didesain dengan sentuhan Jawa kuno dan nuansa Arab ini juga memiliki sumur di bagian belakangnya. Tak sedikit orang yang percaya bahwa air sumur ini sama dengan air zamzam yang ada di Makkah.

Alamat: Jl. Ampel Masjid No.53, Ampel, Kec. Semampir, Surabaya, Jawa Timur

2.Masjid Jami Peneleh

Masjid Jami Peneleh. Facebook/Love Suroboyo
Masjid Jami Peneleh. Facebook/Love Suroboyo

Masjid yang satu ini juga disebut-sebut sebagai peninggalan Sunan Ampel. Didirikan pada tahun 1430, masjid ini telah direnovasi selama beberapa kali, salah satunya saat era kolonial karena terkena serangan meriam.

Meski begitu, Masjid Jami Peneleh masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya yang berupa joglo itu. Rangka langit-langitnya berhiaskan huruf Arab yang memuat empat nama sahabat Nabi Muhammad.

Masjid ini juga memiliki sumur di bagian belakangnya, yang konon katanya sumur ini terhubung dengan sumur di Masjid Ampel. Sayangnya, sumur tersebut sudah tak bisa digunakan lagi karena telah ditutup.

Alamat: Jl. Peneleh V, Peneleh, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur

3.Masjid Rahmat

Masjid Rahmat. Facebook/Pesona Suroboyo
Masjid Rahmat. Facebook/Pesona Suroboyo

Dibangun pertama kali ketika Sunan Ampel baru tiba dari kawasan Majapahit. Sebelum sampai ke Ampel, ia singgah terlebih dahulu di Kembang Kuning dengan menyusuri Sungai Brantas. Akhirnya Sunan Ampel memutuskan untuk menyebarkan Islam di Kembang Kuning.

Masjid ini dahulunya sempat terbengkalai dan tertutupi tanaman lebat. Saat ditemukan warga sekitar yang sedang membabat alas, bangunannya memiliki batu bata yang tertata rapi. Ditambah dengan sumurnya yang tak kering, akhirnya warga memutuskan merawat masjid ini kembali.

Masjid yang dibangun pada abad ke-14 ini memiliki kisah unik yang dipercaya oleh beberapa orang. Konon katanya siapapun yang berdoa di tempat ini diyakini doanya akan cepat terkabul.

Alamat: Jl. Kembang Kuning No.79-81, Darmo, Kec. Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur

4.Masjid Kemayoran

Masjid Kemayoran. Facebook/Masjid Kemayoran Surabaya
Masjid Kemayoran. Facebook/Masjid Kemayoran Surabaya

Menurut literatur lawas, Masjid Kemayoran diperkirakan telah dibangun sejak tahun 1848. Dahulu masjid ini dikenal dengan nama Masjid Surapringga. Akhir abad 18, Belanda membongkar masjid ini karena kepentingan perluasan benteng.

Pada 1932, masjid ini dibangun kembali oleh inisiasi Belanda. Warga sempat enggan beribadah di masjid ini karena dianggap pemberian penjajah. Tetapi lama kelamaan masjid mulai dipadati oleh para jamaah.

Masjid yang kini berlokasi di depan gedung DPRD Jatim ini jika dilihat dari luar bentuknya menyerupai setengah lingkaran. Jika di lihat dari dalam, masjid ini sebenarnya berbentuk segi 8.

Alamat: Jl. Indrapura 2, Kec. Krembangan, Kota Surabaya Prov. Jawa Timur

5.Masjid Serang

Masjid Serang. Facebook/Love Suroboyo
Masjid Serang. Facebook/Love Suroboyo

Sebenarnya, belum ada catatan pasti kapan Masjid Serang ini dibangun. Namun, menurut penuturan salah seorang pengurus, masjid ini telah dibangun Syekh Ibrahim sejak 15 abad silam.

Masjid ini dipercaya sebagai spot berkumpulnya para habaib, yakni keturunan Nabi Muhammad. Bangunannya unik, karena tempat beribadah berada di lantai 2, sedangkan lantai dasarnya digunakan untuk pertokoan.

Masjid ini terlihat memiliki nuansa Yaman yang kental. Budaya Yaman lainnya yang masih diterapkan adalah hampir tidak adanya jamaah perempuan yang beribadah, karena sebenarnya masjid dikhususkan untuk jamaah laki-laki.

Alamat: Jalan Panggung No. 141, Nyamplingan, Kecamatan Pabean Cantian, Kota Surabaya, Jawa Timur

6.Masjid Qowiyuddin Rahmad

Masjid Qowiyyudin Rahmad. Facebook/Muchit Chusnan
Masjid Qowiyyudin Rahmad. Facebook/Muchit Chusnan

Di daerah Jagir Wonokromo terdapat sebuah masjid yang telah dibangun sejak tahun 1786 dan terlihat masih terawat serta kokoh hingga sekarang. Nama masjid tersebut adalah Masjid Qowiyuddin Rahmad

Yang menarik dari masjid tersebut yakni benda-benda bersejarah yang masih dijaga oleh para pengurusnya. Salah satunya merupakan jam untuk menghitung secara manual masuknya waktu salat di zaman dulu.

Jam tersebut sudah ada sejak tahun 1900an. Penggunaan jam ini mengandalkan cahaya matahari. Misalnya, jika bayangan matahari tepat di garis tengah, menandakan pukul 12 siang dan sudah saatnya salat Duhur.

Alamat: RT 3/RW 6, Kelurahan Jagir, Wonokromo, Surabaya

 

Itu tadi adalah 6 masjid berusia lebih dari satu abad di Surabaya. Sempatkan diri kalian nanti ketika memasuki bulan Ramadan untuk beribadah di masjid-masjid tadi, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Mayang Ulfah Narimanda
Faiz Nashrillah
Mayang Ulfah Narimanda
EditorMayang Ulfah Narimanda
Follow Us