Surabaya, IDN Times - Persebaya Surabaya kembali menelan kekalahan pada pekan ke-22 Liga 1. Bertandang ke Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Bajul Ijo tumbang 1-3 dari tuan rumah Persijap, dalam laga yang berlangsung akhir pekan ini.
Kekalahan tersebut menjadi sorotan tajam pelatih Persebaya, Bernardo Tavares. Pelatih asal Portugal itu langsung menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh, terutama pada aspek transisi bertahan, bola mati, dan kontrol emosi pemain.
“Pertama-tama, selamat untuk Persijap Jepara karena memenangkan pertandingan. Kami punya dua atau tiga peluang di babak pertama, tapi dalam serangan kami kurang bagus, transisi pertahanan dan keseimbangan pertahanan juga tidak baik,” ujar Tavares usai laga.
Menurutnya, Persijap mampu memaksimalkan celah yang diberikan Persebaya. Di babak pertama, Persebaya sebenarnya menciptakan sejumlah peluang, termasuk tembakan Jefferson yang membentur mistar dan sepakan Bruno Moreira yang tipis melebar. Namun efektivitas menjadi pembeda.
Memasuki babak kedua, situasi makin sulit. Persijap mencetak gol kedua melalui situasi yang dinilai Tavares seharusnya bisa diantisipasi. Ia menyoroti momen lemparan ke dalam yang berujung gol setelah pemain nomor 32 Persijap lepas dari kawalan tiga pemain Persebaya.
“Tidak normal kebobolan gol saat bertahan dari situasi lemparan ke dalam. Dan ini pertandingan kedua berturut-turut kami kebobolan dari bola mati,” tegasnya.
Catatan tersebut menjadi perhatian serius. Dalam dua laga terakhir, Persebaya sudah kebobolan empat gol dari situasi bola mati, termasuk saat kalah dari Bhayangkara FC sebelumnya. Padahal, Tavares mengeklaim timnya sudah berlatih dan menganalisis skema tersebut.
Situasi semakin berat setelah Persebaya harus bermain dengan 10 orang akibat kartu merah. Tavares mengaku perlu meninjau ulang keputusan tersebut melalui video, namun ia menekankan pentingnya pengendalian emosi.
“Persebaya adalah tim dengan kartu merah terbanyak, sekarang sudah tujuh. Terlalu banyak. Kita perlu bertanggung jawab dan mengubah ini,” katanya.
Tavares juga menyinggung kegagalan penalti yang menurutnya layak diberikan. Namun pada akhirnya, Tavares memilih menerima hasil akhir. “Yang dihitung adalah sejarah, kita kalah. Mereka mencetak tiga gol, kita satu. Sekarang kita harus bangkit,” katanya.
Selain faktor teknis, kondisi fisik pemain juga menjadi tantangan. Beberapa pemain masih dibekap cedera dan belum sepenuhnya bugar setelah sempat terserang demam. Di tengah jadwal padat dengan jeda hanya tiga hari sebelum menghadapi PSM Makassar, Tavares mengakui situasi tidak ideal.
“Target pertama saya sekarang melihat siapa yang bisa pulih. Kami perlu rendah hati, pertandingan berikutnya tidak akan mudah,” ucapnya.
Senada dengan pelatih, Bruno Moreira menilai timnya belum tampil maksimal. Ia menyebut Persebaya sebenarnya datang ke Jepara dengan target tiga poin, namun gagal memanfaatkan peluang. “Kami tahu ini akan sulit. Sekarang kami harus pulang, istirahat, dan menganalisis apa yang kami lakukan dengan baik dan apa yang tidak,” pungkasnya.
