2 Laga Arema FC Tanpa Penonton, Bisa Hemat Biaya Sampai Rp100 Juta

Malang, IDN Times - Tidak hanya pemerintah yang menerapkan kebijakan efisiensi, sejumlah tim di Liga 1 juga melakukan kebijakan yang sama. Tak terkecuali Arema FC, mereka tidak akan menjual tiket pada laga menjamu PSS Sleman (17/2/2025) dan PSIS Semarang (24/2/2025). Hal tersebut dilakukan demi efisiensi, karena rata-rata tiket yang terjual belum bisa menutup biaya penyelenggaraan pertandingan.
1. Manajemen Arema FC ngaku bisa hemat Rp100 juta jika laga dilakukan tanpa penonton

General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi mengakui jika laga tanpa penonton bisa menghemat anggaran mencapai Rp100 juta. Menurutnya, rata-rata biaya total untuk menggelar pertandingan mencapai Rp250 juta. Jumlah itu bisa meningkat jika pertandingan besar atau big match.
"Penghematan sejumlah dana itu berasal dari berbagai unsur kepanpelan, tidak hanya satu unsur saja. Karena semakin besar penonton yang datang, kebutuhan petugas keamaan untuk berjaga akan semakin banyak. Jika tanpa penonton, tentu personil yang bertugas berkurang," jelasnya.
Yusrinal menambahkan juga jika masih ada biaya untuk personil keamaan didalam stadion atau match steward. Kemudian ground handling terkait perlengkapan hingga personil kepanpelan.
2. Yusrinal Fitriandi juga mengungkapkan biaya besar untuk tiketing

Selain itu, menurut Yusrinal biaya untuk tiketing juga besar. Sehingga kalau tidak ada penonton, panpel tidak perlu membuka banyak pintu masuk yang membuat tidak diperlukan barikade di setiap pintu masuk. Jika tanpa penonton, hanya diperlukan perlengkapan di satu pintu masuk saja. Artinya, banyak hal yang bisa diminimalisir dalam penyelenggaraan pertandingan.
"Biaya penyelenggaraan pertandingan dengan adanya penonton itu besar. Biaya sewa Stadion Soepriadi memang terjangkau. Namun, kami sewa dalam keadaan kosong. Jadi butuh unsur-unsur terkait penyediaan perlengkapan sesuai standart regulasi penyelenggaraan pertandingan Liga 1, dan itu semua sewa ke vendor," bebernya.
3. Manajemen Arema FC menegaskan jika penghematan bukan karena suap

Yusrinal juga menepis tudingan efisiensi dana ini masuk ke kantong pribadi pejabat pemerintahan atau kepolisian setempat di Kota Blitar. Ia menegaskan dana yang dikeluarkan murni untuk kepanpelan.
"Jadi, mau menggelar pertandingan di Blitar atau kota lainnya, kebutuhan dananya memang besar. Tidak ada hubungannya dengan yang diberitakan beberapa media terkait suap dan lainnya. Kami nyuapin diri sendiri saja berat, apalagi mau nyuapin orang lain. Kami bersikap realistis aja," tandasnya.
Yusrinal berharap jika setelah 2 laga ini, Arema FC benar-benar bisa kembali ke Stadion Kanjuruhan. Sehingga nantinya pertandingan Singo Edan kembali dengan penonton, diharapkan Aremania bisa memberi dukungan langsung. Karena penjualan tiket di setiap pertandingan sangat membantu mengurangi beban klub.