Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Istimewa
Sejumlah pemuda Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi, tanam pohon pisang di lubang jalan yang rusak. IDN Times/Istimewa.

Intinya sih...

  • Jalan nasional Solo-Ngawi rusak parah, penuh lubang

  • Warga protes dengan menanam pohon pisang di lubang jalan

  • Tambal sulam dinilai tidak efektif, warga harap ada perbaikan total

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ngawi, IDN Times – Jalan nasional Solo–Ngawi kembali menunjukkan rusak. Di sepanjang ruas Kecamatan Mantingan, Karanganyar hingga Widodaren, lubang jalan menganga bak jebakan batman bagi pengendara. Alih-alih ditutup permanen, lubang-lubang itu justru makin setia menemani, terutama saat hujan turun dan malam hari tiba.

Kondisi tersebut akhirnya memantik protes warga. Sejumlah pemuda Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi, memilih menanam pohon pisang tepat di tengah lubang jalan pada Sabtu (17/1/2026). Lengkap dengan tulisan sindiran berbahasa Jawa, aksi ini pun viral dan sukses menyedot perhatian publik.

1. Jalan nasional rasa arena off-road

Sejumlah pemuda Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi, tanam pohon pisang di lubang jalan yang rusak. IDN Times/Istimewa.

Lubang jalan di ruas Solo–Ngawi disebut tersebar di banyak titik dan tak kunjung tuntas meski perbaikan rutin kerap dilakukan. Metode tambal sulam dinilai hanya bertahan seumur jagung—atau bahkan lebih singkat. Begitu musim hujan datang, aspal terkelupas, lubang lama muncul kembali, bahkan bertambah saudara baru.

Kondisi ini kerap memicu kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara yang tidak hafal medan. Malam hari dan hujan menjadi kombinasi paling menegangkan bagi pengguna jalan.

2. Pohon pisang jadi rambu peringatan versi warga

Sejumlah pemuda Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi, tanam pohon pisang di lubang jalan yang rusak. IDN Times/Istimewa.

Sebagai bentuk protes, warga menanam pohon pisang di lubang-lubang terdalam. Tak sekadar tanaman, mereka juga memasang tulisan sindiran berbunyi “Lereno Olehmu Lorupsi, Dalane yo Dipikir”. Pesannya jelas: jalan rusak jangan dianggap hal biasa.

Koordinator aksi, Sigit Banoali, mengatakan aksi ini lahir dari keresahan warga yang setiap hari melintasi jalur utama lintas provinsi tersebut.

"Kami sangat resah dengan kondisi jalan seperti ini. Banyak lubang terbuka di jalan raya yang notabene merupakan akses utama lintas provinsi,” ujar Sigit.

3. Tambal sulam dinilai tak lagi relevan

Sejumlah pemuda Desa Sriwedari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi, tanam pohon pisang di lubang jalan yang rusak. IDN Times/Istimewa.

Menurut warga, instansi terkait memang kerap melakukan perbaikan. Namun kualitas pengerjaan dinilai asal-asalan dan tidak awet.

"Perbaikan selama ini hanya sebatas tambal sulam dan tidak awet. Begitu hujan turun, aspalnya mengelupas lagi dan jalan kembali berlubang,” ungkap Sigit.

Dampaknya dirasakan semua jenis kendaraan, dari roda dua hingga kendaraan besar, yang kerap mengalami kerusakan serius. Warga pun berharap ada perbaikan menyeluruh, bukan sekadar kosmetik.

"Harapan kami ada perbaikan total, bukan hanya tambal sulam,” tegasnya.

Aksi tanam pohon pisang ini setidaknya berhasil membuat jalan rusak kembali jadi bahan pembicaraan. Tinggal menunggu, apakah setelah viral, lubang-lubang itu akhirnya benar-benar ditutup atau justru makin subur.

Editorial Team