Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Udara Surabaya Makin Nyesek, Faktornya Kendaraan dan Industri
ilustrasi polusi udara (pexels.com/Alexey Demidov)
  • WALHI menyoroti penurunan kualitas udara Surabaya dengan indeks AQI 91–105, disebabkan emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri yang meningkat.
  • Polusi udara dinilai sebagai dampak kegagalan struktural pengelolaan lingkungan dan ketergantungan pada energi fosil, berisiko bagi kelompok rentan serta melanggar hak atas lingkungan sehat.
  • Pemkot Surabaya mulai beralih ke kendaraan listrik dan ikut proyek transisi energi berkelanjutan SETI bersama Jerman untuk menekan emisi karbon di sektor transportasi dan bangunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Kualitas udara di Surabaya kembali menjadi sorotan. Meski masih berada di kategori “sedang”, kondisi udara di Kota Pahlawan dinilai tetap berisiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia hingga penderita penyakit pernapasan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut sumber utama pencemaran udara di Surabaya berasal dari emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri yang terus meningkat.

Pengkampanye Urban Berkeadilan dan Kebijakan Tata Ruang WALHI Eksekutif Nasional, Wahyu Eka Styawan mengatakan kualitas udara di sejumlah kota besar Indonesia sepanjang Mei 2026 mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan pemantauan situs AQI US, Surabaya tercatat memiliki indeks kualitas udara (AQI) di kisaran 91–105.

“Untuk Surabaya sumber utama dari kendaraan dan industri,” ujarnya kepada IDN Times, Kamis (14/5/2026).

WALHI mencatat Surabaya masih berada di level “sedang” namun tetap mengandung risiko kesehatan. Menurut Wahyu, persoalan polusi udara bukan lagi fenomena musiman, melainkan dampak dari kegagalan struktural pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia.

“Polusi udara merupakan konsekuensi dari model pembangunan yang masih bergantung pada energi fosil dan minim pengendalian terhadap sumber pencemar,” tegasnya.

Di Surabaya sendiri, tingginya volume kendaraan harian disebut menjadi salah satu faktor dominan penyumbang polusi udara. Aktivitas kawasan industri di sekitar Surabaya Raya juga dinilai memperburuk kualitas udara jika tidak dibarengi pengawasan emisi yang ketat.

WALHI menilai kondisi ini berbahaya karena paparan polusi udara terutama partikel PM 2,5 dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan kardiovaskular hingga kematian dini.

“Polusi udara yang dibiarkan terus-menerus adalah pelanggaran konstitusi. Setiap warga negara berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat,” kata Wahyu.

WALHI pun mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan pencemaran udara, termasuk mempercepat transisi energi bersih dan memperkuat transportasi publik rendah emisi.

Selain itu, pemerintah juga diminta memperketat pengawasan terhadap emisi industri serta membuka data kualitas udara secara real time kepada publik. “Penegakan hukum terhadap pencemar lingkungan harus tegas dan berpihak pada rakyat,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser belum memberikan tanggapan terkait temuan dari WALHI. Tapi yang jelas Pemkot Surabaya mulai menargetkan seluruh kendaraan operasional beralih ke listrik. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi penghematan bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mendukung upaya menjaga kualitas lingkungan di Kota Pahlawan.

Sebagai tahap awal, Pemkot Surabaya melelang kendaraan operasional yang telah berusia lebih dari tujuh tahun. Proses lelang yang dimulai sejak pertengahan April 2026 ini mencakup total 85 unit kendaraan, terdiri dari 70 unit roda empat, 13 unit roda dua, serta dua unit roda tiga.

Selain itu, Pemkot Surabaya terlibat dalam proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) yang bertujuan mengurangi emisi karbon di sektor bangunan. Proyek SETI merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jerman. Kota Surabaya akan menjadi pionir dalam upaya transisi energi berkelanjutan.

Editorial Team