Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ujian sekolah (pexels.com/Andy Barbour)
ilustrasi ujian sekolah (pexels.com/Andy Barbour)

Intinya sih...

  • Jawa Timur peringkat kelima nasional dalam TKA SMA/SMK, dengan nilai Matematika 36,77 dan Bahasa Inggris 25,35.

  • Kepala Dinas Pendidikan Jatim menegaskan hasil TKA sebagai dasar evaluasi untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan fokus pada peningkatan kompetensi guru serta penguatan faktor pendukung pembelajaran.

  • Dindik Jatim menyiapkan strategi konkret berupa analisis soal HOTS, penguatan kompetensi guru melalui pelatihan dan workshop, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/SMK sederajat yang diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menempatkan Jawa Timur (Jatim) di peringkat kelima nasional. Capaian ini menjadi alarm evaluasi, terutama pada dua mata pelajaran utama yang nilainya tergolong rendah, yakni Matematika dan Bahasa Inggris.

Berdasarkan data Kemendikdasmen, nilai rata-rata TKA Matematika siswa Jatim tercatat 36,77, sementara Bahasa Inggris hanya 25,35. Adapun Bahasa Indonesia mencatat rata-rata lebih baik dengan skor 56,98. Hasil ini menunjukkan masih adanya kesenjangan serius dalam penguasaan numerasi dan literasi asing.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa hasil tersebut akan menjadi dasar evaluasi menyeluruh untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Menurutnya, TKA bukan sekadar angka, melainkan cermin kualitas proses belajar di sekolah.

“Hasil TKA ini akan kami tindaklanjuti melalui perbaikan pada kompetensi yang masih kurang maksimal. Fokus utama kami adalah peningkatan kompetensi guru serta penguatan faktor pendukung pembelajaran,” ujar Aries, Senin (5/1/2026).

Ia menjelaskan, TKA mengukur tiga indikator utama, yakni literasi, numerasi, dan penalaran. Oleh sebab itu, hasilnya digunakan sebagai instrumen pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan di Jawa Timur. Saat ini, TKA telah dilaksanakan di jenjang SMA, SMK, SLB, serta pendidikan kesetaraan Paket C.

Evaluasi hasil TKA dilakukan sesuai kewenangan masing-masing. Untuk SMA, SMK, dan SLB berada di bawah tanggung jawab Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, sedangkan pendidikan kesetaraan menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. “Evaluasi akan dilakukan sesuai peran dan tugas masing-masing,” tegas Aries.

Sebagai langkah perbaikan, Dindik Jatim menyiapkan sejumlah strategi konkret. Di antaranya analisis soal berbasis higher order thinking skills (HOTS) dengan penekanan pada penalaran dan pemecahan masalah, serta penguatan kompetensi guru melalui pelatihan dan workshop. Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi fokus utama.

“Kami menyiapkan program TKA Clinic bagi sekolah dengan capaian rendah, replikasi praktik baik dari sekolah unggul, hingga digitalisasi pembelajaran melalui Learning Management System tingkat provinsi yang berisi bank soal dan video pembahasan,” ungkapnya.

Salah satu inovasi yang telah diluncurkan adalah Jatim Learning Digital Vault, platform pembelajaran digital berbasis video, bank soal, dan modul interaktif yang dapat diakses guru dan murid. Platform ini dirancang untuk mendukung pembelajaran yang lebih terstruktur, aman, dan mudah dijangkau.

Aries menegaskan, pelaksanaan TKA tidak bertentangan dengan konsep pembelajaran bermakna. Justru, pembelajaran yang dirancang dengan baik akan berdampak langsung pada peningkatan capaian akademik siswa.

“Pembelajaran bermakna yang dijalankan secara tepat secara otomatis akan meningkatkan nilai TKA,” katanya.

Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat krusial, baik sebagai aktivator, pembangun budaya belajar, maupun kolaborator. Guru didorong untuk aktif memberikan umpan balik agar siswa mampu mengembangkan metakognisi dan regulasi diri.

“Dengan peran guru yang kuat, kami optimistis capaian TKA ke depan bisa meningkat,” tambah Aries.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Prof Warsono, menilai capaian TKA dipengaruhi banyak faktor, tidak hanya kompetensi guru, tetapi juga lingkungan sekolah dan motivasi siswa. Ia menyoroti pola pembelajaran yang masih berorientasi pada penuntasan materi, bukan pada pengembangan cara berpikir ilmiah. “Selama ini guru cenderung mengejar habisnya materi, bukan mengajarkan bagaimana cara berpikir secara scientific atau berpikir tingkat tinggi,” kata Warsono.

Menurut mantan Rektor Unesa tersebut, siswa yang tidak dilatih berpikir analitis dan prediktif akan kesulitan menghadapi soal-soal yang menuntut penalaran tinggi. Padahal, kemampuan bertanya merupakan indikator utama berpikir aktif.

“Bertanya itu penting. Jika siswa tidak dilatih berpikir analitis dan prediktif, mereka akan gagap saat dihadapkan pada soal analisis tingkat tinggi,” ujarnya.

Warsono menekankan, metode pembelajaran seharusnya diarahkan pada pengembangan cara berpikir ilmiah, sementara materi pelajaran dijadikan sebagai bahan kajian. Ia juga menyoroti peran lingkungan sekolah yang memiliki budaya belajar kuat dan rekam jejak prestasi sebagai faktor pendorong motivasi siswa.

Mengutip pakar psikologi Harvard University, James Ryan, Warsono menegaskan bahwa bertanya jauh lebih penting daripada sekadar mencari jawaban. “Dengan bertanya, seseorang terdorong untuk berpikir aktif dan mencari jawaban. Inilah esensi pendidikan,” pungkasnya.

Editorial Team