Ilustrasi depresi. pexels.com/DavidGarrison
Sudarman menjelaskan, pihaknya telah mengumpulkan keterangan beberapa saksi di lokasi. Diketahui, sebelum kejadian itu korban sudah naik perahu dan menyeberang dari barat ke timur dengan tujuan tidak jelas. Tidak lama berselang, dia kembali menyebrang dari arah timur ke barat.
Diduga, korban mengalami depresi berat sehingga nekat menceburkan diri ke Sungai Brantas. Hal itu juga diperkuat dengan keterangan keluarga korban.
"Kalau menurut keterangan dari keluarga, semenjak pulang kerja dari Kalimantan, korban mengalami depresi. Kemungkinan itulah penyebab korban menceburkan diri ke Brantas," tandasnya.
Mari bersama cegah perilaku bunuh diri
Bunuh diri merupakan masalah kesehatan jiwa serius yang sering diabaikan masyarakat. Jika kamu membutuhkan pertolongan atau mengenal seseorang yang membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungi layanan konseling pencegahan bunuh diri, di nomor telepon gawat darurat (emergency) hotline (021) 500-454 atau 119, bebas pulsa.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, saat ini sudah terdapat lebih dari 3.000 Puskesmas yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Kamu bisa menghubungi atau langsung mendatangi Puskesmas terdekat untuk mengetahui apakah mereka melayani kesehatan jiwa. Bagi pemegang BPJS, konsultasi kejiwaan di Puskesmas tidak dikenakan biaya alias gratis. Jika belum memiliki BPJS, kamu tetap bisa berkonsultasi dengan biaya administrasi sebesar Rp5.000.
Selain itu, Kemenkes RI juga menyiapkan 5 RS jiwa rujukan yang dilengkapi dengan layanan konseling kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. RS jiwa tersebut ialah:
RSJ Amino Gondohutomo Semarang, nomor telepon (024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, nomor telepon (0251) 8324024, 8324025, 8320467
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta, nomor telepon (021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang, nomor telepon (0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang, nomor telepon (0341) 423444