IDN Times/Vanny El Rahman
Tak semua perjuangan memang harus dilakukan di medan perang. Semua sumbangsih, dalam bentuk apapun, demi kemerdekaan Indonesia juga harus diakui sebagai sebuah perjuangan. Seperti apa yang dilakukan oleh Raden Ayu Soeharsikin. Istri Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto ini merupakan pembentuk karakter beberapa tokoh pejuang kemerdekaan, seperti Sukarno, Semaun, Alimin, Darsono, Kartosoewirjo, Tan Malaka, hingga Musso.
Tidak ada yang tahu pasti kapan Soeharsikin dilahirkan. Adrian Perkasa, pengamat sejarah Universitas Airlangga (Unair), memperhitungkan usia Soeharsikin lebih muda dari suaminya. “Tjokro itu lahir 1882. Saya kira beliau meninggal di usia 35, ya beliau lahir sekitar 1885 hitungan saya,” ujarnya. Dia merupakan putri dari Raden Mas Mangoensomo yang merupakan Patih (Wakil Bupati) Ponorogo.
Sejak 1912, ia menjadikan rumahnya di daerah Peneleh Surabaya, sebagai kos-kosan. Kharisma Tjokro yang mentereng di Pulau Jawa pun membuat banyak orangtua yang ingin menitipkan anaknya di rumah tersebut. Namun, Soeharsikin hanya menerima anak kos putra dengan beberapa persyaratan kedisplinan.
Kedekatan Sukarno dengan Tjokro pun tidak lepas dari peran Soeharsikin. “Dia adalah penjembatan antara Sukarno dengan suaminya. Kan gak ujug-ujug mereka dekat. Dia melihat track record Sukarno yang memang anak baik, makanya dialah yang menyatukan antara keduanya,” ujar Sekretaris Wilayah Jawa Timur untuk Koalisi Perempuan Indonesia, Wiwik Arafah.
Wiwik kembali mengulas, “Dia tahu bahwa yang nge-kos itu anak-anak hebat. Dia ingin anak-anaknya melampaui ibu dan anaknya. Makanya dia berharap supaya Sukarno bisa mentransfer ilmu kepada anak-anaknya. Ini pula yang menjadikan Soekarno dekat dengan Tjokro."
Soeharsikin meninggal pada 22 Februari 1921. Dia tertular penyakit tifus yang diderita putra kelimanya. Kala itu, tifus adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya. Sehingga wajar bila sang ibu menemani putranya sepanjang hari. Tidak peduli bila dirinya tertular penyakit, apa yang dia pikirkan dan inginkan adalah keselamatan sang anak.
Mewakili suara perempuan, Wiwik sangat mendukung apabila sosok Soeharsikin dijadikan sebagai pahlawan bangsa. Pasalnya, Soeharsikin telah menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan adalah sosok yang kuat dengan berbagai beban yang ditanggungnya.
“Sejarah kita ini terlalu maskulin, karena memang menempatkan lelaki selalu di barisan depan. Padahal, siapa yang menyelundupkan senjata? Itukan perempuan. Nah Ibu Soeharsikin ini menggambarkan bagaimana potret multi-beban perjuangan perempuan,” urai dia.