Surabaya, IDN Times - Bencana geologi mengancam Kota Surabaya, hal ini dikarenakan Kota Pahlawan dilalui dua sesar aktif. Sosialisasi mitigasi bencana pun masif dilakukan hingga tingkat perkampungan.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan jajaran terkait untuk kembali masif melakukan sosialisasi mitigasi ke tingkat perkampungan. Hal ini juga sebagai strategi Pemkot Surabaya agar edukasi mitigasi bencana sampai pada tingkat masyarakat di RT/RW.
"Kita sudah petakan. Perkampungan yang dilewati sesar sudah diberi sosialisasi, kalau ada gempa harus lari ke mana, pengamanannya seperti apa. Kami akan masifkan lagi agar kesiapsiagaan ini menjadi budaya masyarakat," ujarnya, Sabtu (31/1/2026).
"Kita terus berdoa agar Surabaya dihindarkan dari segala bala dan bencana, namun secara lahiriah, kita harus siap dengan skema tercepat, terpat, dan terukur," imbuhnya.
Selain bencana geologi, bencana lainnya juga mengancam Kota Pahlawan, mulai dari fenomena rob, angin kencang yang kerap menumbangkan pohon dan reklame.
Pemkot menyiagakan berbagai peralatan untuk mengantasipasi bencana alam di Surabaya. Selain itu 97 unit kendaraan pemadam, termasuk 30 unit dengan kemampuan khusus penyedotan genangan air. Tak hanya itu, dua unit robot pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani medan berbahaya atau gedung dengan risiko paparan kimia, untuk melindungi nyawa personel.
“Kami juga menyiagakan satu unit mobil pemadam hamsat, mobil pemadam sistem Dismounted Assured Positioning, Navigation, and Timing System (DAPS), hingga armada berkapasitas besar 5.000 liter. Seluruh personel dan armada saling terintegrasi dan terhubung dengan Command Center 112 dan Posko Terpadu siaga 24 jam,” pungkas dia.
