Surabaya, IDN Times - Mantan Gubernur Jawa Timur (Jatim) dua periode, Soekarwo, menilai capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen pada 2025 merupakan sinyal positif di tengah ketidakpastian global. Namun ia mengingatkan, angka pertumbuhan tersebut harus diiringi dengan penguatan daya beli masyarakat agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara luas.
Menurut Soekarwo, capaian tersebut menunjukkan mesin konsumsi dan investasi nasional masih bekerja relatif baik. Bahkan, Indonesia untuk pertama kalinya mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita menembus 5.000 dolar AS per tahun.
“Ini tonggak penting. Artinya struktur ekonomi kita bergerak ke fase yang lebih matang dan kelas menengah berpotensi semakin luas. Tetapi pertanyaannya, apakah pertumbuhan itu benar-benar dirasakan masyarakat bawah dan kelompok rentan?” ujar Soekarwo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/2/2026).
Eks Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini menegaskan, daya beli rakyat merupakan indikator yang lebih substantif dibanding sekadar angka pertumbuhan. Ketika daya beli menguat, konsumsi meningkat, sektor produksi bergerak, dan lapangan kerja terbuka. Sebaliknya, jika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi berisiko kehilangan fondasi utamanya, yakni permintaan domestik.
Dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB. Karena itu, kemampuan masyarakat membelanjakan pendapatannya secara sehat dan berkelanjutan menjadi kunci stabilitas ekonomi nasional.
Soekarwo juga menyoroti struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi sektor informal. Banyak masyarakat bekerja dengan pendapatan tidak tetap dan perlindungan sosial terbatas. Dalam kondisi ini, kenaikan harga pangan, energi, atau transportasi dapat dengan cepat menggerus kemampuan konsumsi rumah tangga.
“Pertumbuhan 5,11 persen harus dijaga sebagai momentum. Jangan hanya disyukuri sebagai angka statistik, tetapi diperkuat melalui kebijakan yang konkret untuk meningkatkan daya beli rakyat,” tegasnya.
Ia menilai arah pembangunan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan ekonomi domestik, kemandirian pangan, energi, dan industri nasional sudah berada di jalur yang tepat. Penguatan sektor riil dan konsumsi domestik dinilai menjadi fondasi penting ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Soekarwo memaparkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat daya beli masyarakat secara berkelanjutan. Pertama, meningkatkan pendapatan melalui penciptaan lapangan kerja produktif, termasuk lewat program padat karya dan penguatan ekonomi desa.
Kedua, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dengan memperbaiki sistem logistik, memperkuat peran BUMN pangan, serta mengefisienkan rantai pasok.
Ketiga, memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan mikro agar potensi usaha masyarakat dapat berkembang. Keempat, meningkatkan daya saing UMKM melalui digitalisasi, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar.
Kelima, memperkuat perlindungan konsumen guna mencegah praktik perdagangan yang merugikan masyarakat. “Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya pertumbuhan tinggi dan kenaikan PDB per kapita. Keberhasilan sejati adalah ketika rakyat merasakan pekerjaan yang layak, harga terjangkau, dan kehidupan yang semakin sejahtera,” pungkasnya.
