Tulungagung, IDN Times - Keterbatasan tak menghalangi semangat siswa SLB-B Kedungwaru, Tulungagung, untuk mengikuti kegiatan di bulan Ramadan ini. Sejumlah siswa berkebutuhan khusus di sekolah ini mengikuti kegiatan tadarus Al-Quran braille dan kelas tahfidz. Selama bulan Ramadan ini, jam pelajaran untul Al-Quran braille dan kelas tahfidz ditambah. Meski mengalami keterbatasan fisik, mereka tetap semangat melakukan murojaah hafalan dan membaca Al-Quran Braille.
khusyuknya Siswa SLB di Tulungagung Mengaji Al-Quran Braille

1. Sempat kesulitan, kini sudah lancar membaca Al-Quran Braille
Salah seorang siswa tunanetra, Riska Desila Putri, tampak tekun membaca Al-Qur’an braille. Dengan posisi duduk tegak, ia menelusuri baris demi baris huruf braille yang tersusun rapi. Tidak ada tatapan mata yang menyapu halaman, namun sentuhan jemarinya menjadi pengganti penglihatan. Bagi Riska, mengaji bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan batin. Setiap ayat yang ia baca menghadirkan ketenangan tersendiri. Ia mengaku harus lebih sabar dalam proses belajar, terutama saat pertama kali mengenal huruf hijaiyah braille.
“Awalnya sulit membedakan titik-titiknya. Tapi lama-lama saya terbiasa. Sekarang justru merasa lebih mudah memahami karena membacanya pelan-pelan,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
2. Siswa tunanetra juga semangat di kelas tahfidz
Sedangkan di kelas tahfidz, semangat serupa juga terpancar dari Denadine, siswa tunanetra yang tengah fokus menghafal Al-Qur’an. Tanpa melihat mushaf secara visual, Denadine mengandalkan kepekaan pendengaran dan ingatan yang terlatih. Menurut Denadine, tantangan terbesar bukan pada keterbatasan fisik, melainkan menjaga konsistensi hafalan. Ia mengaku harus rutin murajaah agar ayat-ayat yang telah dihafal tidak mudah lupa.
“Saya biasanya membaca dulu dengan braille, lalu mengulang-ulang sampai hafal. Kalau sudah hafal satu halaman, rasanya senang sekali,” tuturnya dengan nada optimistis.
3. Perlu pendekatan khusus bagi siswa tunanetra
Di balik ketekunan para siswa tersebut, ada peran guru yang sabar membimbing. Arif Efendi, pengajar di kelas tersebut, mengatakan bahwa metode pengajaran bagi siswa tunanetra membutuhkan pendekatan khusus. Ia menambahkan, kemampuan para siswa tunanetra dalam menghafal kerap kali justru lebih kuat karena mereka terbiasa mengandalkan memori.
Proses belajar mungkin memerlukan waktu lebih panjang, tetapi hasilnya tidak kalah dengan siswa pada umumnya. “Mereka belajar dengan sentuhan dan pendengaran. Jadi kami lebih banyak membimbing secara personal, memastikan setiap bacaan dan makhraj hurufnya tepat,” pungkasnya.