Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perjalanan Bunga dari Tangan Petani hingga ke Meja Orang Tersayang
Owner Bunga Aphiq, Hery Susilo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
  • Menjelang Natal, Tahun Baru, dan Valentine 2026, permintaan bunga potong di Kota Batu melonjak, terutama untuk jenis Peacock, Aster, dan Mawar yang dibudidayakan oleh petani lokal.
  • Hery Susilo, petani bunga sejak 2005 sekaligus pemilik Bunga Aphiq, kini membina petani lain dengan menyediakan bibit hingga edukasi agar kualitas panen tetap terjaga.
  • Bunga Aphiq mulai merambah pasar online lewat media sosial dan menerima pesanan lintas pulau, meski masih menghadapi kendala pengiriman karena bunga potong mudah rusak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Batu, IDN Times - Petani bunga di Kota Batu saat ini tengah kebanjiran orderan karena event Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga Valentine pada 14 Februari 2026 dan hari spesial lainnya. Tapi ternyata ada proses panjang mulai dari pembibitan sampai panen berbagai varietas bunga potong.

1. Jadi petani bunga sejak 2005, begini kisah jatuh bangun Hery Susilo

Mawar-mawar yang diproduksi Bunga Aphiq. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Salah seorang petani bunga sekaligus Owner Bunga Aphiq, Hery Susilo (42) warga Jalan Hasanuddin Gang Gombi Barat, Dusun Beru RT.1.RW.6, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu bercerita jika ia sudah menjadi petani bunga sejak 2005. Ia memilih pekerjaan ini karena potensi desanya yang bisa jadi produsen bunga potong, menurutnya tidak semua wilayah bisa dijadikan pertanian bunga. Bunga-bunga seperti Aster, Peacock, dan Mawar tidak bisa tumbuh subur di wilayah yang terlalu tinggi dan rendah.

"Awalnya itu dari 2005, sejak muda memang saya banyak bergelut di dunia bunga potong. Prosesnya yentu tidak mudah, tidak langsung seramai saat ini, namanya perjalanan pasti ada jatuh bangun, tapi alhamdulillah sekarang kita sudah punya pasar yang pasti dengan pembayaran yang royal juga," terangnya saat ditemui di ladangnya yang berlokasi di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji pada MInggu (22/2/2026).

Menurutnya, saat ini bunga yang tengah naik daun adalah bunga Peacock, kedua adalah bunga Aster, dan ketiga adalah Mawar. Tapi juga ada permintaan daun-daunan untuk dekorasi.

"Sementara Mawar itu jenais-jenisnya kita tergantung permintaan pasar, jadi untuk jenis kita pakai yang Holland atau jenis yang terbaru. Untuk warnanya tetap, tapi varietasnya kita yang beda. Warnanya ada merah, putih, salem, kuning, pink soft juga ada," jelasnya.

Hery mengatakan jika proses penanaman bunga-bunga ini tidak pendek, ia mengungkapkan Peacock dan Aster butuh 3 bulan mulai dari menanam sampai panen kalau cuacanya bagus, kalau musim hujan itu bisa mundur sampai 15 hari. Kemudian kalau sudah penen, Aster dan Peacock harus dilakukan penanaman bibit dari awal lagi.

"Sementara Mawar agak lama, tapi begitu panen itu dia bisa panen terus. Kalau Mawar dari tanam sampai okulasi kurang lebih 3 bulanan, dari okulasi sampai panen itu kurang lebih 3 bulanan. Tapi kalau Mawar bisa bertahan kurang lebih 5 tahun untuk bisa terus dipanen," jelasnya.

2. Hery kini memiliki petani binaan sendiri untuk memenuhi permintaan pasar

Proses pengemasan bunga di Bunga Aphiq. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Hery menceritakan jika pada 2005 ia tidak memiliki ladang sendiri untuk menanam bunga, saat itu ia bahkan harus mengandalkan tengkulak untuk menjual bunga-bunganya. Baru pada 2011 usahanya berkembang hingga bisa membeli lahan persawahan sendiri. Kemudian pada 2016 ia mulai menjual sendiri bunga-bunga dari ladangnya, bahkan beberapa petani sekitar ikut menjual hasil panennya ke Hery.

"Sekarang kita juga ada petani binaan juga di Kota Batu dan Kabupaten Malang. Kita kasih bibit, pupuk, dan pestisida. Kemudian kita kawal mulai dari tanam sampai panen, kita berikan edukasi seperti perlu menyalakan lampu berapa jam dan sebagainya," jelasnya.

Untuk petani binaan ini, Hery mengatakan jika sistem rekrutmennya cukup lewat mulut ke mulut saja, petani yang memang memiliki niat akan dibantu mulai dari pembibitan sampai panen. "Bedanya sama dulu ya kita tampung semua, sehingga nanti seleksi alam sendiri," ujarnya sambil tertawa.

3. Bunga Aphiq mulai sentuh pasar online, tapi masih punya kendala di pengiriman

Proses pengemasan bunga di Bunga Aphiq. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Mengikuti perkembangan digital, Hery mengungkapkan jika Bunga Aphiq kini mulai memasarkan bunga-bunganya ke media sosial mulai dari TikTok, Instagram, sampai Facebook. Strategi ini sukses membuat ia mendapat orderan sampai Pulau Kalimantan seperti Banjarmasin dan Palangkaraya, termasuk di Pulau Batam. Sementara saat Nataru ini, pengiriman paling banyak ada di Banyuwangi dan Jember.

"Tapi kita ada keterbatasan masalah pengiriman, soalnya bunga potong kan bunga segara dan rentan rusak. Sehingga kita tidak melayani kalau hanya 1-2 iket, karena saat pengiriman pasti banyak yang rusak. Sehingga kita jual online tapi kita lihat dulu faktor pengirimannya," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team