Warga makan bersama saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. IDN Times/Istimewa
Ada filosofi yang terkandung dalam tradisi endog-endogan ini. Telur sebagai simbol terdiri dari tiga lapis, yakni kulit, putih telur dan kuning telur. Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim.
Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni mempercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT. Lalu kuning telur melambangkan keihsanan, memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT.
“Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah. Inilah makna Festival endhog-endhogan agar kita selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” terang Anas.
Ditambahkan dia, festival endhog-endhogan merupakan sebuah syiar Islam yang sarat dengan nilai dan kearifan lokal. Dalam tradisi terkandung pula semangat gotong royong dan saling tolong antar sesama.
“Kegiatan ini juga untuk mempererat silaturahmi. Kami dan warga berkumpul, lalu makan bareng memakai ancak (nampan dari daun pisang-red). Ini adalah nilai-nilai kebersamaan yang perlu kita jaga dengan baik,” ujarnya.