Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penampakan Petasan Jumbo Meledak di Ponorogo, 1 Tewas dan 2 Kritis
Tim Gegana Satbrimob dan Labfor Polda Jatim temukan BB selengsong hingga bubuk mesiu. IDN Times/Riyanto.
  • Ledakan petasan berdaya besar di Desa Plosojenar, Ponorogo, menewaskan satu remaja dan membuat dua korban lainnya kritis hingga dirawat intensif di RSUD dr. Harjono Ponorogo.
  • Polisi menemukan belasan selongsong petasan jumbo serta bahan peledak rakitan yang tergolong low explosive namun digunakan berlebihan sehingga memicu daya ledak fatal.
  • Penyebab pasti ledakan belum diketahui karena korban belum bisa diperiksa, sementara polisi mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menyerahkan penyelidikan pada pihak berwenang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Intinya sih...

  • Kejadian terungkap oleh penjaga sekolah

  • Pelaku masuk lewat jendela, CCTV mati 3 bulan

  • Polisi duga pelaku lebih dari satu orang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ponorogo, IDN Times – Ledakan petasan berdaya besar mengguncang Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Senin (2/3/2026), meninggalkan trauma bagi keluarga remaja 16 tahun dan dua korban lainnya, HA (23) dan AF (20), yang hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Harjono Ponorogo.

PHasil olah tempat kejadian perkara (TKP) mengungkap sejumlah fakta mencengangkan.

1. Polisi temukan selongsong petasan jumbo

Tim Gegana Satbrimob dan Labfor Polda Jatim temukan BB selengsong hingga bubuk mesiu. IDN Times/Riyanto.

Tak lama setelah kejadian, tim Gegana Satbrimob dan Laboratorium Forensik (Labfor) dari Polda Jawa Timur langsung menyisir lokasi ledakan. Dari hasil penyisiran, polisi menemukan belasan selongsong petasan berbagai ukuran, termasuk ukuran jumbo yang disebut-sebut sebesar kaleng biskuit.

Selain itu, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti lain, di antaranya:

  • Sisa bubuk bahan peledak yang diduga sebagai booster

  • Timbangan digital dalam kondisi rusak

  • Botol air mineral kecil yang diduga menjadi wadah petasan siap pakai

  • Plastik balon udara

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa petasan berdaya ledak besar itu diracik sendiri sebelum akhirnya meledak.

2. Bahan peledak tergolong low explosive

Tim Gegana Satbrimob dan Labfor Polda Jatim temukan BB selengsong hingga bubuk mesiu. IDN Times/Riyanto.

Kasatreskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, memastikan bahan peledak yang digunakan tergolong low explosive atau berdaya rusak rendah. Namun, penggunaan dalam jumlah berlebihan membuat daya ledaknya meningkat dan berakibat fatal.

"Mereka datang untuk mengidentifikasi bahan apa saja yang digunakan para korban dalam peracikan petasan itu, juga mengamankan lokasi dari sisa bahan peledak yang mungkin masih aktif,” ujar AKP Imam Mujali, Selasa (3/3/2026).

Ia juga membenarkan bahwa sejumlah selongsong petasan siap pakai berukuran jumbo turut diamankan sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

3. Pemicu ledakan belum diketahui

Tim Gegana Satbrimob dan Labfor Polda Jatim temukan BB selengsong hingga bubuk mesiu. IDN Times/Riyanto.

Hingga kini, polisi belum dapat memastikan penyebab pasti ledakan. Dugaan sementara seperti aktivitas merokok atau konsumsi minuman keras masih sebatas spekulasi. Pasalnya, dua korban selamat belum bisa dimintai keterangan karena kondisi kesehatan yang belum stabil.

“Dugaan merokok, minum-minuman keras itu masih spekulasi. Saat ini kami belum memeriksa para korban karena belum stabil kondisinya. Kami mohon waktu agar tim dapat bekerja maksimal guna pengusutan kasus ledakan ini,” tegasnya.

Polisi pun mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat berwenang.

Terakhir polisi menambahkan, peristiwa ini menjadi pengingat keras akan bahaya meracik petasan secara mandiri, terlebih menggunakan bahan peledak dalam jumlah besar. Satu nyawa melayang, dua lainnya masih berjuang pulih. Tragedi yang seharusnya bisa dihindari.

Editorial Team