Trenggalek, IDN Times - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak meninjau lokasi batu longsor yang terjadi di Jalan Raya Nasional Trenggalek-Ponorogo KM 16, masuk Desa Nglinggis Kecamatan Tugu. Emil ikut memberikan arahan assessment sesuai hasil dari ahli geologi maupun dari Balai Besar Jalan Nasional (BBJN). Meskipun material batu yang menutup akses jalan telah dibersihkan, namun jalur utama tersebut masih belum dapat dilewati pengendara.
Pemprov Jatim Libatkan Ahli Geologi Tangani Longsor Trenggalek

1. Jalur masih ditutup karena rawan longsor susulan
Berdasarkan hasil asesment, Emil menyampaikan longsor dipicu runtuhan dua batu besar dari tebing yang menimpa badan jalan dan merusak sebagian struktur jalur nasional tersebut. Satu batu yang jatuh di badan jalan telah dipecah dan dibersihkan oleh petugas, sementara satu batu lainnya yang sempat menggantung di bawah bahu jalan juga telah diamankan. Penutupanakses Trenggalek–Ponorogo belum dapat langsung dibuka karena kondisi badan jalan masih rentan terhadap getaran kendaraan serta berpotensi memicu longsor susulan. "Kondisi jalan masih rawan, sehingga belum bisa langsung dibuka untuk lalu lintas. Kami harus memastikan struktur tanahnya aman terlebih dahulu," ujarnya, Kamis (5/3/2026).
2. Setelah penguatan jalur akan kembali dibuka
Setelah pembersihan material di badan jalan, petugas akan mengerahkan excavator long arm untuk membersihkan tumpukan material yang tertahan di balik tembok penahan agar kembali memiliki ruang menampung runtuhan batu jika terjadi longsor susulan. Pemerintah juga menyiapkan penguatan struktur tanah dengan pemasangan sheet pile baja di bawah bahu jalan guna mencegah pergerakan tanah akibat getaran kendaraan. "Setelah penguatan sementara selesai, jalur dapat kembali difungsikan secara terbatas dengan sistem buka-tutup untuk mengurangi getaran kendaraan," jelasnya.
3. Pemprov juga analisis kondisi tebing di lokasi longsor
Tak hanya itu, Pemprov Jatim juga akan melibatkan ahli geologi dari ITS dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia untuk menganalisis kondisi tebing di lokasi longsor. Analisis awal menunjukkan mahkota longsor mencapai sekitar 147 meter sehingga diperlukan pemetaan detail guna mengantisipasi potensi longsor lanjutan. Untuk mendukung pemetaan tersebut, tim juga akan menggunakan teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) guna mengetahui ketebalan lapisan tanah di bagian atas tebing yang berpotensi runtuh. "Kaki tebing kondisinya sudah becek tanahnya sudah jenuh. Maka, kami meminta dilakukan kajian menggunakan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging)," pungkasnya.