Surabaya, IDN Times - Penyelesaian konflik internal di tubuh PBNU tidak ditempuh melalui mekanisme pleno resmi, melainkan lewat pendekatan kultural dan musyawarah para ulama. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, menegaskan bahwa NU memiliki tradisi panjang dalam menyelesaikan perbedaan pendapat, tidak semata-mata melalui forum struktural formal, tetapi juga melalui jalan silaturahim dan kebijaksanaan para kiai sepuh.
“NU punya cara untuk menyelesaikan masalah, baik sesuai ketentuan organisasi maupun secara kultural. Semua proses itu sedang dilewati. Untuk itu, mari kita tunggu musyawarah para ulama,” ujar Gus Ipul.
Ia meminta seluruh jajaran NU, mulai dari pengurus cabang hingga pengurus wilayah, tetap tenang dan tidak berspekulasi terhadap dinamika yang berkembang. Gus Ipul menekankan pentingnya mempercayakan penyelesaian persoalan kepada para ulama.
“Saya minta pengurus cabang dan wilayah tetap tenang. Percayakan kepada para ulama untuk mencarikan solusi yang terbaik,” tegasnya.
Gus Ipul menilai perbedaan pandangan yang sempat mencuat merupakan bagian dari dinamika organisasi besar seperti NU. Ia optimistis konflik tersebut akan menemukan jalan keluar yang maslahat bagi jam’iyyah.
“Perbedaan pendapat ini kita pahami sebagai sebuah dinamika. Insya Allah pada saatnya akan mendapatkan solusinya,” katanya.
Terkait isu percepatan pelaksanaan Muktamar NU ke-35, termasuk wacana lokasi di Surabaya, Gus Ipul menegaskan bahwa hingga kini belum ada pembahasan resmi dalam pertemuan internal PBNU.
“Belum, belum ada pembicaraan soal muktamar. Kita serahkan kepada Kiai (Miftachul) Akhyar (Rais Aam) dan Gus Yahya (Ketum) untuk menindaklanjuti sebagai aspirasi. Kita tinggal menunggu informasi lebih lanjut,” jelasnya.
Ia juga meluruskan pertemuan tertutup yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, beberapa waktu lalu. Menurutnya, pertemuan tersebut sama sekali tidak membahas agenda muktamar maupun keputusan organisatoris.
“Kemarin itu kita selawatan, doa bersama di pesantrennya Rais Aam. Tidak ada sambutan, tidak ada pembahasan apa pun. Lebih banyak berdoa,” pungkas Gus Ipul.
