Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pakar Sarankan Zona Merah di Jatim Kembali Terapkan PSBB
Tim Kajian Epidemiologi FKM Unair Dr. Windhu Purnomo saat konferensi pers di Gedung Negara Grahadi, Jumat (8/5). Dok Istimewa

Surabaya, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memutuskan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total, Senin (14/9/2020). Menurut Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), dr. Windhu Purnomo, langkah yang diambil Anies sudah tepat. Upaya itu akan maksimal apabila kepala daerah tingkat provinsi juga mengambil kebijakan yang sama secara kompak.

"Tidak cukup hanya DKI (Jakarta). Kita ini satu kesatuan epidemiologi di Pulau Jawa. Orang berpindah gampang banget. Gak bisa parsial cuma DKI saja. Nanti DKI sudah bagus bisa ketularan lagi karena daerah lain tidak PSBB. Mestinya Jawa-Madura ini yang (zona) merah dan oranye harus PSBB serentak," ujarnya kepada IDN Times, Kamis (10/9/2020).

 

1. Khofifah harusnya instruksikan PSBB di kabupaten/kota Jatim zona merah dan oranye

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko saat bertemu Gubenur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wagub Jatim Emil Dardak di Grahadi, Kamis (3/9/2020). Dok.IDN Times/Istimewa

Windhu berharap Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa menerapkan PSBB seperti Jakarta. Utamanya bagi kabupaten/kota yang masih zona merah dan oranye. Nah, Data Satgas COVID-19 Jatim menyebut sekarang ini ada enam daerah yang zona merah, Kamis (10/9/2020).

Antara lain, Kabupaten Sidoarjo, Probolinggo, Pasuruan, Banyuwangi, serta Kota Pasuruan dan Kota Malang. Kemudian ada 26 daerah zona oranye. Yakni Kabupaten Blitar, Bondowoso, Nganjuk, Lamongan, Jombang, Sumenep, Ponorogo, Magetan, Gresik, Tuban, Bojonegoro, Bangkalan, Madiun, Kediri, Lumajang, Malang, Trenggalek, Jember, Mojokerto, Kota Surabaya, Kota Blitar, Kota Kediri, Kota Mojokerto, Kota Batu dan Kota Probolinggo.

"Kita membiarkan pergerakan ini bebas. Jawa Timur sudah berapa bulan tidak PSBB. Surabaya Raya menghentikan PSBB di tengah kasus yang masih meningkat. Itu nggak benar," dia menegaskan.

2. Hal tersebut sesuai instruksi Presiden jika kasus melonjak harus tarik rem

Tim Kajian Epidemiologi FKM Unair Dr. Windhu Purnomo saat konferensi pers di Gedung Negara Grahadi, Jumat (8/5). Dok Istimewa

Windhu mengingat betul ketika presentasi di depan bupati/wali kota tentang pentingnya PSBB maupun karantina wilayah. Tapi semua yang disampaikannya tidak digubris, terlebih ketika polemik perpanjangan PSBB Surabaya Raya. Kondisi epidemiologi yang tidak terkendali diabaikan dan mementingkan ekonomi.

Padahal, PSBB yang diterapkan di Surabaya dan DKI Jakarta menurut Windhu hanya abal-abal. Dia heran, saat PSBB jalanan masih ramai, orang-orang bebas beraktivitas di luar rumah, bahkan ada yang nongkrong di warung kopi. Dia pun menyarankan PSBB kembali diterapkan secara ketat.

"Jadi kita harus betul-betul sesuai apa yang disampaikan presiden. Kalau kasus melonjak terus, tarik rem. Utamakan kesehatan masyarakat dibanding pertimbangan lain termasuk ekonomi. Meski terlambat, tapi ini menunjukkan pemerintah mulai sadar," ungkap Windhu.

3. Lonjakan kasus masih terjadi di Jatim

Ilustrasi virus corona (IDN Times/Arief Rahmat)

Lonjakan kasus positif COVID-19 masih terjadi di Jatim. Per hari Kamis (10/9) ada 381 kasus baru yang menjadikan total terkonfirmasi positif Jatim jadi 37.093 kasus. Dari jumlah total tersebut, 29.278 kasus dinyatakan sudah sembuh, 2.688 kasus meninggal dunia dan kini ada 5.127 kasus aktif. Jumlah tersebut tentunya masih bisa ditampung di rumah-rumah sakit rujukan COVID-19 Jatim.

Di Jatim terdapat sebanyak 127 rumah sakit rujukan COVID-19. Kapasitas bed isolasinya 5.328 bed. Jika diasumsikan 5.127 kasus aktif menjalani perawatan di rumah sakit, maka masih ada 201 bed tersisa. Hal ini memang diakui Windhu lebih bagus daripada provinsi lain seperti Jakarta. Namun, dia mengingatkan lonjakan kasus, angka kematian dan jumlah tes massal COVID-19 di Jatim masih jauh dari kata ideal.

"Rt (rate of transmission) Jatim berdasarkan tanggal onset, data terakhir saya terima 29 Agustus itu pertama kali mereka (pasien) alami gejala. Yang bisa dianalisis 25 Agustus. Rt-nya di bawah satu, Surabaya malah berlangsung 6 hari berturut-turut, tapi kita mengatakan sudah baik kalau berjalan 14 hari berturut-turut," jelas Windhu.

Namun, indikator epidemiologi  bukan hanya Rt, ada banyak hal lain. Misalnya, positivity rate Jatim yang masih buruk. Dari jumlah pasien dites, positif rate masih di atas 20 persen. "Padahal  harusnya 5 persen. Angka kematian 7,25 persen. Harusnya 2 persen. Kesembuhan lumayan, 78,93 persen. Jumlah testing standarnya 5.700 per hari," tambahnya. Nah, kapasitas testing Jatim per harinya 4.000-5.539. Dengan 53 mesin PCR dan 23 TCM.

Editorial Team