Magetan, IDN Times – Kenaikan harga minyak goreng curah kembali menjadi pukulan telak bagi pelaku UMKM. Di Kabupaten Magetan, para perajin kerupuk nasi atau lempeng kini harus memutar otak agar usaha mereka tetap bertahan di tengah lonjakan biaya produksi yang terus merangkak naik.
Minyak Curah Makin Mahal, Perajin Lempeng di Magetan Kelimpungan

1. Harga minyak curah melonjak drastis
Harga minyak goreng curah yang sebelumnya berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per liter, kini naik menjadi Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per liter. Kenaikan sekitar Rp3 ribu ini langsung dirasakan para pelaku usaha kecil, terutama di Kelurahan Sukowinangun.
Tina (50), salah satu pengrajin lempeng, mengaku kondisi ini membuat usahanya mulai goyah. Tak hanya minyak goreng, harga bahan lain seperti plastik juga ikut naik, memperberat beban produksi.
"Pemasaran jadi agak berkurang, agak sepi,” ujar Tina, Selasa (5/5/2026).
2. Terpaksa naikkan harga dan kurangi isi
Untuk tetap bertahan, Tina harus mengambil langkah yang tidak mudah. Ia menaikkan harga jual produknya dari Rp25 ribu menjadi Rp27 ribu per 150 biji. Bahkan, dalam kondisi tertentu, jumlah isi juga dikurangi agar harga tidak terlalu tinggi di mata konsumen.
"Kalau dinaikkan harganya, ya jumlahnya dikurangi,” katanya.
Dalam sekali produksi, Tina membutuhkan sekitar 40 liter minyak goreng untuk mengolah hingga 100 kilogram bahan baku. Meski pasokan minyak masih tersedia, lonjakan harga menjadi tantangan utama yang sulit dihindari.
3. Penjualan mulai merosot
Lempeng buatan Tina tak hanya dijual di Magetan. Ia memiliki pelanggan tetap dari luar kota seperti Solo dan Madiun, termasuk toko oleh-oleh. Namun, kenaikan harga bahan baku kini mulai berdampak pada daya beli konsumen.
"Dulu stabil, sekarang mulai turun,” ungkapnya.
Penurunan penjualan ini membuat para perajin semakin tertekan. Mereka berada di posisi sulit antara menaikkan harga atau menanggung kerugian.
Tina berharap harga minyak goreng bisa segera kembali normal agar usahanya tetap berjalan. "Harapannya ya bisa kembali normal,” ucapnya.
Kondisi ini mempertontonkan betapa rentannya UMKM terhadap gejolak harga bahan pokok. Tanpa intervensi yang tepat, usaha kecil seperti pengrajin lempeng berpotensi semakin terhimpit di tengah tekanan ekonomi yang belum mereda.