Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mia, Korban KRL vs Argo Bromo Anggrek Bekasi Timur Dimakamkan di Ngawi
Suasana pemakaman korban KRL Bekasi Timur di Ngawi. IDN Times/Riyanto.
  • Mia Citra Rumaisah, korban kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, dimakamkan di kampung halamannya di Desa Tambakboyo, Ngawi pada Rabu malam.
  • Sebelum meninggal, Mia sempat dirawat 24 jam setelah kakinya terjepit selama sekitar 10 jam dalam gerbong wanita bagian belakang yang paling terdampak tabrakan.
  • Keluarga menyebut seluruh hak korban telah diterima, sementara warga mengenang Mia sebagai sosok pekerja keras dan berbakti kepada orang tua.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ngawi, IDN Times - Korban kecelakaan kereta api di Bekasi Timur, Mia Citra Rumaisah (25), dimakamkan di kampung halamannya di Desa Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Rabu malam (29/4/2026). Korban sebelumnya sempat menjalani perawatan selama 24 jam di rumah sakit sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Jenazah Mia tiba di rumah duka sekitar pukul 23.30 WIB. Suasana haru langsung menyelimuti keluarga. Tangis pecah dari orangtua korban, Muhammad Hamid (56) dan Harmimah Wati (55), saat menyambut kepulangan putri kedua dari tiga bersaudara tersebut.

Mia diketahui bekerja sebagai customer service di Pandu Logistics Head Office, Pulogadung. Ia menjadi salah satu korban dalam kecelakaan yang terjadi pada Senin malam (27/4/2026) sekitar pukul 20.50 WIB di Stasiun Bekasi Timur.

Peristiwa itu melibatkan KRL Commuter Line yang ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Mia berada di gerbong wanita bagian belakang yang mengalami dampak paling parah.

Akibat kejadian tersebut, kaki kanan Mia terjepit selama kurang lebih 10 jam sebelum berhasil dievakuasi petugas. Ia kemudian dilarikan ke RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi dan menjalani dua kali operasi.

Ayah korban, Muhammad Hamid menyebut, kondisi anaknya sempat menunjukkan tanda-tanda membaik sebelum akhirnya meninggal dunia. “Anak saya terjepit kakinya sampai 10 jam. Kami sempat melihat proses evakuasi. Tapi setelah 24 jam dirawat, nyawanya tidak tertolong,” ujarnya.

Kepala Desa Tambakboyo, Saifudin, mengatakan keluarga memilih memakamkan Mia di Ngawi karena merupakan kampung halaman korban.

“Dimakamkan di sini karena ini rumah orangtuanya, meskipun sejak kecil ikut orang tua di Jakarta,” jelasnya.

Jenazah Mia disalatkan di Masjid Al-Atiq sebelum dimakamkan di tempat pemakaman umum yang berada di samping masjid pada malam yang sama.

Pihak keluarga menyebut seluruh hak korban telah diterima. Namun, kepergian Mia meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar yang mengenalnya sebagai pribadi pekerja keras dan berbakti kepada orang tua.

Editorial Team