Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menempa Kemandirian Anak Lewat Pesantren Kilat Ramadan di Sewulan
Para santri Pesantren Kilat di Ponpes Darul Ma'ruf Madiun saat belajar membaca kitab kuning. (IDN Times/Zumrotul Abidin)
  • Pesantren Darul Ma’ruf di Sewulan, Madiun, menggelar pesantren kilat Ramadan 1447 H pada 18–21 Februari 2026 dengan konsep edukatif dan menyenangkan bagi pelajar dari berbagai jenjang.
  • Kegiatan ini dirancang untuk melatih kemandirian anak melalui rutinitas seperti sahur bersama, salat berjamaah, kajian kitab kuning, olahraga, serta pembelajaran bahasa Arab interaktif.
  • Antusiasme peserta tinggi; mereka merasakan pengalaman baru hidup di lingkungan pesantren sekaligus belajar disiplin, kebersamaan, dan nilai-nilai karakter selama Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Madiun, IDN Times - Pesantren Darul Ma’ruf di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun kembali menggelar pesantren kilat selama Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (18/2/2026) hingga Sabtu (21/2/2026) dengan berbagai aktivitas yang dikemas secara menarik dan edukatif.

Pesantren kilat merupakan program bermukim di pondok pesantren dalam waktu singkat yang telah menjadi tradisi pesantren di Jawa Timur setiap Ramadan.

Pengasuh Pesantren Darul Ma’ruf, Gus Afif Nizam Ma’ruf, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari panggilan lembaga pendidikan keagamaan untuk mengisi masa libur awal Ramadan para pelajar.

“Walaupun berlangsung singkat, kegiatan ini kami upayakan menjadi pelatihan kemandirian bagi anak-anak yang mentalnya sedang bertumbuh. Mereka belajar bangun tepat waktu saat sahur, salat tepat waktu, serta melakukan aktivitas keseharian secara mandiri. Ini lebih pada pembiasaan karakter,” ujar Gus Afif, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, pesantren kilat juga memberikan pengalaman awal tentang kehidupan pesantren yang kental di Jawa Timur. Dengan demikian, para peserta memiliki gambaran apabila kelak ingin mondok secara penuh.

“Sehingga nanti kalau ingin mondok sungguhan, mereka sudah memiliki gambaran,” katanya.

Sementara itu, Pembimbing Pesantren Kilat, Ridhatus Sholihah, menyampaikan jumlah peserta tahun ini sebanyak 30 anak dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD hingga SMA. Mereka berasal dari sejumlah wilayah di Madiun Raya.

Selama tiga hari dua malam, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan sesuai jadwal harian, antara lain sahur bersama, murojaah, halaqah Al-Qur’an, olahraga, kajian kitab kuning, kultum, buka puasa bersama, salat tarawih, salat lima waktu berjamaah, serta kegiatan kebersihan diri dan lingkungan.

“Tahun ini kami kemas lebih menyenangkan. Ada pembelajaran bahasa Arab secara ceria dan membaca kitab kuning tanpa makna dengan metode rumus,” ujar Ridhatus.

Antusiasme peserta terlihat sejak hari pertama kegiatan. Para santri tampak bersemangat mengikuti setiap sesi, terutama saat pembelajaran bahasa Arab interaktif dan olahraga bersama di halaman pesantren. Meski harus bangun dini hari untuk sahur dan salat Subuh berjamaah, para peserta tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib.

Salah satu peserta, Hanin (8), mengaku senang bisa mengikuti pesantren kilat karena mendapatkan pengalaman baru tinggal di lingkungan pesantren. “Seru bisa sahur dan tarawih bersama teman-teman. Saya jadi belajar lebih disiplin,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan peserta lainnya, Rafi (13), yang mengaku tertarik mengikuti kegiatan karena ingin merasakan suasana mondok. “Awalnya takut tidak betah, tapi ternyata menyenangkan. Kegiatannya padat, tapi jadi lebih dekat dengan teman-teman dan ustaz,” katanya.

Panitia berharap, melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh ilmu agama, tetapi juga pengalaman berharga tentang kedisiplinan, kebersamaan, dan kemandirian selama Ramadan. Marhaban ya Ramadan!

Editorial Team