Surabaya, IDN Times -Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) menciptakan alat yang bisa mendeteksi gejala awal Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Inovasi tersebut mengantarkan Unair meraih medali emas dalam ajang International Invention and Innovation Competition yang termasuk dalam rangkaian Thailand Inventors Day 2026 yang diselenggarakan melalui Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Bangkok, Thailand.
Tim Handy Unait yang terdiri dari tujuh mahasiswa FST, yaitu Adisti Irtifa Amalia, Tasya Amalia Dwiyanti, Nadya Chaerani, Mochammad Ivan Abdillah Putra Ginka, Rizwar Fazl Ghaisan, Desak Made Dinar Indraswari, dan Anindia Dwi Astutik. Kompetisi ini diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara.
Inovasi yang berjudul HANDY (Hand Assistance for Carpal Tunnel Syndrome Detection and Therapy) itu merupakan sebuah alat bantu tangan berbasis teknologi kesehatan yang dirancang untuk mendeteksi gejala awal Carpal Tunnel Syndrome (CTS) sekaligus pendukung atau rehabilitasi.
"Ide kami muncul dari banyaknya kasus gangguan muskuloskeletal, khususnya CTS yang banyak dialami oleh mahasiswa, pekerja kantoran, serta pengguna perangkat digital. Melalui Handy ini, kami berharap dapat mendorong pencegahan sejak dini terhadap gangguan pergelangan tangan agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius,” ujar Adisti.
Proses pengembangan ide hingga kompetisi mampu diatasi dengan mengutamakan kerja sama tim. Adisti menjelaskan bahwa setiap anggota memiliki peran berbeda, sehingga hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi timnya dalam menyelesaikan masalah. "Tantangan lain yang kami hadapi adalah menjelaskan konsep ide dengan sederhana namun tetap ilmiah kepada dewan juri, melihat latar belakang dari anggota tim yang beragam. Namun, kami dapat menyelesaikannya melalui komunikasi aktif, latihan presentasi intensif, serta pembagian peran yang jelas antar anggota," tambah Adisti.
Berangkat dari kepedulian terhadap masalah kesehatan di sekitar, Tim Handy berhasil meyakinkan dirinya dalam mengikuti kompetisi IPITEx Thailand 2026. Motivasi terbesar Tim Handy lahir dari keinginan kuat untuk keluar dari zona nyaman dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin di masa perkuliahan. "Masa kuliah adalah masa penuh peluang untuk mengembangkan ide, membangun jejaring, hingga belajar dari pengalaman internasional,” tegas Adisti.
Sebagai penutup, Tim Handy berpesan kepada mahasiswa Unait untuk tidak ragu mencoba hal baru dan berani mengambil setiap kesempatan. Dengan memulai dari ide sederhana yang berdampak, mahasiswa diharapkan mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat untuk masa depan. “Kompetisi ini bukan semata-mata meraih juara, tetapi tentang proses belajar, membangun kepercayaan diri, serta memperluas pengalaman,” pungkas Adisti.
