Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
UBY05689.JPG
Mahasiswa Ubaya yang ciptakan alat pendeteksi Gerd. (Dok. Ubaya)

Intinya sih...

  • Mahasiswa FT Ubaya ciptakan alat pendeteksi GERD bernama GERDMetric dengan 2 indikator: air liur dan udara dari mulut.

  • Alat ini menggunakan integrasi Internet of Things (IoT) untuk akses real-time pada ponsel pintar, memberikan hasil yang akurat dan terjangkau.

  • GERDMetric dapat memberikan hasil pengukuran keasaman air liur dan kandungan amonia pada napas pengguna, serta mengirimkan notifikasi bahaya secara otomatis.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times -Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya), Zizi Aulia Azzahra, Elisabet Maya Putri, dan Felicia Hartono menciptakan alat pendeteksi Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang dinamakan GERDMetric. Perangkat ini mendeteksi gejala GERD menggunakan 2 indikator, yaitu air liur dan udara yang dikeluarkan dari mulut. Dengan integrasi Internet of Things (IoT), hasil pengukuran dapat diakses secara real-time pada perangkat ponsel pintar.

Ketua Tim, Zizi mengatakan inovasi ini dilatarbelakangi data tingginya penderita GERD di Indonesia yang seringkali mendapatkan penanganan yang terlambat, sehingga dibutuhkan alat pendeteksi yang akurat sebagai upaya preventif. Selain itu, maraknya kasus GERD yang diderita oleh individu yang tinggal sendiri, seperti lansia, mahasiswa, dan pekerja rantau menimbulkan kekuatiran tersendiri bagi keluarga.

“Metode diagnosis pH Metri GERD dan endoskopi yang secara medis digunakan dalam diagnosis GERD juga belum dapat diakses dengan mudah dan harganya cukup mahal. Maka, kami menciptakan GERDMetric sebagai solusi yang lebih terjangkau, baik secara harga dan aksesibilitas,” tuturnya.

Zizi menyebutkan kelebihan GERDMetric terdapat pada akurasi data yang tinggi karena menggunakan 2 indikator, yaitu air liur dan gas dari mulut pengguna. “Air liur digunakan untuk mendeteksi pH atau tingkat keasaman. Sementara itu, udara dari mulut dibutuhkan untuk mendeteksi gas NH3 atau amonia yang menjadi indikasi GERD. Jadi, meskipun digunakan secara personal tanpa pendampingan, alat ini dapat memberikan hasil yang tepat,” jelas Zizi.

Untuk melakukan pengukuran, pengguna cukup menampung air liur pada tabung kecil yang terletak di bagian bawah perangkat dan menghembuskan napas dari mulut ke sensor udara yang terletak di bagian atas perangkat. Setelah 10 detik, layar perangkat akan menunjukkan hasil pengukuran keasaman air liur dan kandungan amonia pada napas pengguna.

Layar juga akan menampilkan kesimpulan kondisi pengguna yang terdiri dari kondisi normal atau terdapat kecenderungan GERD yang perlu ditangani. Hasil pengukuran juga dapat diakses melalui ponsel pintar pengguna, keluarga, dan rumah sakit terdekat. Apabila hasil pengukuran tergolong bahaya, perangkat secara otomatis mengirimkan notifikasi ke ponsel-ponsel tersebut untuk segera ditindaklanjuti. Selain itu, pengiriman sinyal darurat juga dapat dilakukan dengan menekan emergency button yang terdapat pada perangkat.

Zizi menyebut, meskipun GERDMetric sudah berfungsi dengan optimal, terdapat berbagai aspek yang masih membutuhkan pengembangan agar dapat diproduksi secara massal. “Kami berharap, GERDmetric mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk dikembangkan lebih lanjut agar dapat dikenal lebih luas sebagai solusi praktis mendeteksi gejala GERD. Hal ini mengingat banyak segmentasi masyarakat, seperti lansia yang tinggal sendiri, anak kost yang jauh dari orang tua, atau pasien GERD kronis yang akan terbantu atas keberadaan alat ini,” pungkas Zizi.

Dosen pembimbing sekaligus Ketua Program Studi Teknik Elektro Ubaya, Hendi Wicaksono Agung Darminto, Ph.D., menyampaikan apresiasi terhadap inovasi yang dihasilkan oleh Zizi dan tim yang telah berproses lebih dari 6 bulan dalam penyempurnaan perangkat ini. “Ke depannya, kami dari Teknik Elektro Ubaya akan mengusahakan hak paten sederhana atas inovasi GERDMetric, sehingga perangkat ini dapat dikembangkan ke tahapan-tahapan selanjutnya hingga bisa dikomersialisasi,” ungkap Hendi.

Sebagai informasi, GERDMetric telah memperoleh Juara 2 dan Juara Favorit dalam kegiatan Biomedical Engineering Smart Exhibition (Benmax) 2025.

Editorial Team