Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
LFNU Jatim Gelar Rukyatul Hilal di 42 Titik, Lebaran Diprediksi Beda
ilustrasi rukyatul hilal sebagai salah satu metode.(instagram.com/rusliwahabmasruhan)da)
  • LFNU Jawa Timur menggelar rukyatul hilal di 42 titik untuk menentukan awal Syawal 1447 H, melibatkan berbagai lembaga dan lokasi strategis di pesisir hingga dataran tinggi.
  • Secara astronomis, posisi hilal pada 19 Maret 2026 sangat rendah dengan ketinggian sekitar 1–2 derajat, belum memenuhi kriteria imkanur rukyah MABIMS yang mensyaratkan minimal 3 derajat.
  • NU menunda penetapan Idulfitri sambil menunggu hasil rukyat dan sidang isbat pemerintah, sementara Muhammadiyah menetapkan Lebaran pada 20 Maret dan Persis pada 21 Maret 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Penentuan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah berpotensi kembali berbeda di Indonesia. Sejumlah organisasi Islam telah menetapkan tanggal Lebaran, sementara Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu hasil rukyatul hilal sebelum mengambil keputusan resmi.

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, Syamsul Ma’arif, menjelaskan bahwa secara astronomis posisi hilal pada Kamis (19/3/2026), masih sangat rendah dan sulit terlihat. Berdasarkan perhitungan ilmu falak, ijtima’ terjadi pada pukul 08.25 WIB. Setelah matahari terbenam, hilal memang sudah berada di atas ufuk, tetapi ketinggiannya hanya sekitar 1–2 derajat dan bertahan sekitar 10 menit.

“Secara umum sangat sulit untuk terlihat dengan mata,” ujarnya.

Syamsul menyebutkan, wilayah dengan posisi hilal terbaik berada di Aceh dengan tinggi sekitar 2 derajat 51 menit dan elongasi 6 derajat 09 menit. Meski demikian, kondisi tersebut masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyah yang digunakan di Indonesia.

“Secara teori ada kemungkinan terlihat, tetapi masih sangat tipis,” katanya.

Syamsul menjelaskan, kriteria imkanur rukyah MABIMS mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Sementara hasil hisab menunjukkan posisi hilal masih sedikit di bawah batas tersebut, meski selisihnya sangat tipis.

Karena itu, NU belum menetapkan tanggal pasti 1 Syawal 1447 H dan akan menunggu hasil rukyatul hilal di lapangan serta keputusan sidang isbat pemerintah. Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan Idulfitri pada 20 Maret 2026, sedangkan Persis pada 21 Maret 2026.

“NU tetap berpegang pada metode rukyat dan hisab. Karena hilal belum memenuhi kriteria, maka keputusan final menunggu hasil pengamatan langsung,” tegasnya.

Sebagai bagian dari proses tersebut, Lembaga Falakiyah NU Jawa Timur menggelar rukyatul hilal di 42 titik yang tersebar di berbagai daerah. Lokasi tersebut melibatkan LFNU, Kementerian Agama, Badan Hisab Rukyat (BHR), pondok pesantren, hingga perguruan tinggi.

Beberapa titik pengamatan berada di kawasan pesisir seperti Pantai Ngliyep Malang, Pantai Srau Pacitan, Pantai Taneros Sumenep, Pantai Paseban Jember, hingga Pantai Gebang Bangkalan.

Selain itu, pengamatan juga dilakukan di titik perkotaan dan dataran tinggi seperti Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya, Bukit Wonocolo Bojonegoro, serta Observatorium Jokotole IAIN Madura.

Puluhan titik tersebut dipilih untuk meningkatkan peluang visibilitas hilal, terutama di wilayah dengan ufuk barat terbuka. Meski demikian, dengan kondisi hilal yang masih rendah, peluang terlihatnya hilal pada 19 Maret 2026 dinilai kecil.

Secara hisab, hilal sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia, tetapi belum memenuhi kriteria visibilitas. Oleh karena itu, hasil rukyat di lapangan akan menjadi penentu utama dalam penetapan awal Syawal.

“Kesimpulannya, hilal sudah ada, tetapi sangat rendah. Maka keputusan tetap menunggu rukyat dan sidang isbat,” pungkas Syamsul.

Editorial Team