Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur (Dok. IDN Times/Istimewa)
Politisi PDIP ini mencatat ada tiga hal yang membuat penanganan pandemik COVID-19 di Jatim tidak maksimal. Pertama, publik tidak melihat bagaimana gubernur memiliki desain strategi yang jelas berikut eksekusinya dalam penanganan pandemik COVID-19. Misalnya 3T, Deni mengaku tidak pernah tahu bagaimana Pemprov Jatim mengejar rasio tracing ke tahap ideal satu banding 30.
"Juga bagaimana dengan target tes 1 per 1.000 penduduk, lalu berapa persentase kasus positif bisa dilacak kontak eratnya dalam sekian jam, berapa target persentase kontak erat yang melakukan karantina mandiri,” ungkap dia.
Selanjutnya, Deni menilai tidak ada mitigasi pada skenario-skenario terburuk. Misalnya bila kasus aktif mencapai 50 ribu, apa yang sudah disiapkan Pemprov Jatim. Juga bila sekian tenaga kesehatan (nakes) terpapar COVID-19 seperti sekarang, ia menanyakan solusi yang dimikiki Pemprov Jatim.
"Jika ada skenario terburuk, misal COVID-19 memuncak sampai 50.000 kasus aktif, apa yang sudah disiapkan Gubernur? Tidak ada. Seolah semua tiba masa tiba akal, rakyat yang jadi korban,” ujarnya.
"Daerah jalan sendiri-sendiri, dengan kreativitas dan keterbatasannya. Bahkan nyaris tanpa kajian epidemiologi dalam penanganan pandemi di daerah, di mana seharusnya Pemprov Jatim punya kesadaran dan kemampuan untuk itu,” dia menambahkan.
Contoh lainnya, adalah soal pengetesan, di mana saat ini berdasarkan Instruksi Mendagri terdapat target tes harian pada masing-masing kabupaten/kota. “Apa yang dilakukan Gubernur? Hanya menerbitkan keputusan yang isinya mengulangi instruksi Mendagri? Apa dong desain strategi yang disiapkan Pemprov Jatim untuk membantu kabupaten/kota memenuhi target tes harian?” kritik Deni.