Surabaya, IDN Times - Langkah kaki itu terdengar pelan di bawah terik matahari Surabaya, Jumat (15/5/2026). Jubah cokelat tua para bhikkhu bergerak perlahan menyusuri jalanan kota, membawa mangkuk dana dan pesan damai yang melampaui sekat negara, agama, hingga bahasa.
Di barisan depan, seorang bhikkhu bertubuh kecil berjalan tenang sambil menggenggam bendera. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya memancarkan keteguhan. Dialah Bhante Phra Phanarin Oaksonthip asal Thailand, pemimpin rombongan Indonesia Walk for Peace 2026 yang kini memasuki hari ketujuh perjalanan spiritual mereka dari Bali menuju Candi Borobudur, Magelang.
Sebanyak 57 bhikkhu lintas negara akhirnya tiba di Surabaya dan singgah di Gedung Negara Grahadi. Kedatangan mereka disambut hangat Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, serta masyarakat yang sejak pagi sudah menanti di halaman gedung peninggalan kolonial tersebut.
Perjalanan ini bukan sekadar berjalan kaki lintas kota. Setiap langkah menjadi simbol doa dan pesan universal tentang perdamaian dunia. Mereka tergabung dari berbagai negara, dari Thailand 42 orang, Malaysia 4 orang, Laos 3 orang, dan Indonesia 8 orang.
Para bhikkhu menempuh ribuan kilometer dalam semangat yang sama, menyerukan harmoni di tengah dunia yang terus diguncang konflik dan perpecahan.
“Hari ini adalah hari ketujuh sejak saya meninggalkan Bali. Saya sangat senang berada di Surabaya karena saat saya berada di Bali, cuacanya sangat panas,” ujar Bhante Phra Phanarin Oaksonthip.
Bhante mengaku menikmati suasana Kota Pahlawan yang menurutnya lebih sejuk dan penuh pepohonan. Namun bukan hanya udara Surabaya yang membuatnya terkesan. Sambutan masyarakat Indonesia sepanjang perjalanan menjadi energi terbesar yang membuat rombongan tetap kuat melangkah.
“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat Surabaya. Saya merasa perjalanan ini sangat berharga karena saya mendapatkan banyak pengalaman dan hal baik selama datang ke Indonesia,” katanya.
Meski harus berjalan di tengah panas menyengat dan rute panjang yang melelahkan, Bhante mengaku kebahagiaan justru menjadi bekal utama perjalanan mereka. “Perjalanan Sangha ini tidak terasa melelahkan karena yang saya dapatkan adalah kebahagiaan dan senyuman dari masyarakat Indonesia,” tuturnya.
Kalimat itu terus ia ulang kepada siapa pun yang ditemuinya. Berbahagialah.
Pesan sederhana yang terdengar ringan, tetapi terasa begitu dalam di tengah dunia yang semakin gaduh oleh konflik.
Di sepanjang perjalanan menuju Grahadi, masyarakat tampak antusias menyambut rombongan bhikkhu. Ada yang sekadar melambaikan tangan, ada pula yang ikut berjalan bersama sambil mengabadikan momen langka tersebut. Beberapa warga bahkan tampak menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan ketika para bhikkhu melintas.
Bhikkhu Beng An asal Malaysia mengaku terharu melihat sambutan hangat masyarakat Indonesia. Menurutnya, semangat warga menjadi penghapus rasa lelah selama perjalanan panjang.
“Kami melakukan perjalanan di tengah cuaca panas. Namun ketika melihat umat yang antusias menyambut kami, semangat kami kembali tumbuh seketika,” ungkapnya.
Rombongan Indonesia Walk for Peace 2026 sendiri terdiri dari peserta lintas usia. Termuda berusia 23 tahun, sementara yang tertua mencapai 67 tahun. Namun usia tampaknya bukan penghalang bagi mereka untuk terus melangkah.
Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace Jawa Timur, Irwan Pontoh menjelaskan, jalur timur yang ditempuh rombongan menjadi rute terpanjang dalam perjalanan tahun ini. Selama 11 hari, para bhikkhu melintasi berbagai kota dan kabupaten sejak tiba di Denpasar pada 7 Mei 2026. Perjalanan akan berakhir di Candi Borobudur pada 28 Mei 2026 mendatang sebagai bagian dari rangkaian Perayaan Waisak Nasional.
Menurut Irwan, perjalanan damai tersebut tidak hanya menjadi milik umat Buddha, melainkan gerakan bersama lintas elemen masyarakat Indonesia. “Perayaan Waisak dan perjalanan damai ini bukan milik satu golongan saja, tetapi milik kita semua. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam merawat Indonesia yang damai dan harmonis,” ujarnya.
Semangat lintas batas itu juga terasa saat para bhikkhu tiba di Gedung Negara Grahadi. Di dalam ruangan pertemuan, suasana berlangsung hangat dan penuh penghormatan. Gubernur Khofifah menyebut perjalanan para bhikkhu sebagai pesan besar yang layak digaungkan ke seluruh dunia.
“Saya ingin menekankan bahwa ini adalah sebuah perjalanan yang menginspirasi dunia, perjalanan untuk perdamaian dunia,” katanya.
Khofifah menilai pesan damai menjadi kebutuhan mendasar seluruh manusia tanpa memandang agama, ras maupun wilayah. “Perdamaian merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia, apa pun ras, agama, maupun wilayahnya. Semua orang membutuhkan kehidupan yang damai,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pesan sederhana yang terus diucapkan Bhante selama perjalanan. “Tadi juga disampaikan oleh pimpinan rombongan, Bhante dari Thailand, yang selalu mengatakan, ‘Berbahagialah, berbahagialah, berbahagialah,’” ujarnya.
Bagi Khofifah, suara perdamaian merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan siapa saja. “Hari ini para Bhante dari Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia melakukan perjalanan ini untuk menyuarakan perdamaian dunia,” pungkasnya.
